Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Keangkuhan yang Roboh
31 Januari 2013 pukul 15:00 WIB
"Anak Ngaji" kok Begitu?
25 Januari 2013 pukul 09:00 WIB
Menghargai Pemakai Jalan
19 Januari 2013 pukul 08:30 WIB
Ketika Pendidikan Dipermasalahkan
13 Januari 2013 pukul 10:10 WIB
Uang Pelangkah
7 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 6 Februari 2013 pukul 15:00 WIB

Shalat kok Diburu-buru?

Penulis : Mujahid Alamaya

Suatu hari ketika sedang dalam petualangan, saya dan salah seorang sohib terpisah dari rombongan kecil. Kami sudah tiba di area parkir, namun rombongan lain belum nampak. Karena saat itu sudah masuk waktu shalat dan kumandang adzan telah lewat 1 jam lalu, kami memutuskan untuk shalat dan mencari mushala terdekat. Saat mencari mushala, saya mengabari salah seorang teman yang kebetulan terpisah.

Beberapa menit berselang, SMS masuk di hape saya, memberitahukan bahwa rombongan sudah tiba di parkiran. Lalu masuk SMS berikutnya, mengatakan agar saya harus segera ke mobil. Padahal saat itu, kami baru tiba di mushala dan baru hendak shalat. Selesai shalat, kira-kira 20 menit, muncul SMS berikutnya yang menanyakan posisi saya di mana. Saat itu, saya telah selesai shalat dan hendak menuju parkiran.

Saat itu, hujan turun cukup lebat. Karena memertimbangkan rombongan yang menunggu kami, maka kami memutuskan untuk menerobos hujan menuju parkiran. Tiba di parkiran, mobil yang kami tuju tidak ada. Ternyata, kami ditinggal oleh rombongan lain. Walaupun kondisi basah kuyup, saya coba untuk menghubungi salah satu teman yang berada di mobil. Lewat dari 20 menit kemudian, mobil datang menjemput kami.

Kejadian itu, membuat kami bertanya-tanya, "Shalat kok diburu-buru?" Bukankah shalat itu seharusnya didirikan dalam kondisi netral, tanpa terganggu oleh bentuk apapun yang membuat shalat tidak bisa fokus atau khusyu'? Jika bertemu dengan atasan di tempat kerja, kita bisa santai dan tidak diburu waktu, lantas mengapa ketika bertemu dengan Tuhan, kita harus buru-buru? Entahlah. "Yang penting, kewajiban pada Allah SWT tidak terabaikan," batin saya.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ibu Hafif | Ibu RT
Webnya www.kotasantri.com bagus euy.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1042 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels