QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Ketika Pendidikan Dipermasalahkan
13 Januari 2013 pukul 10:10 WIB
Uang Pelangkah
7 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Merayakan Pergantian Tahun
1 Januari 2013 pukul 13:00 WIB
Petunjuk yang Benar
26 Desember 2012 pukul 14:00 WIB
Berpikir Positif
20 Desember 2012 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 19 Januari 2013 pukul 08:30 WIB

Menghargai Pemakai Jalan

Penulis : Mujahid Alamaya

Banjir yang melanda Jakarta beberapa hari ini berimbas pada terjadinya genangan air di beberapa ruas jalan, termasuk di jalan yang biasa saya lewati di Bidara Cina, Jakarta Timur. Karena jarak yang dekat dan kepalang tanggung saya sudah berjalan kaki cukup jauh, maka saya terpaksa 'nyemplung' menerobos genangan air yang ketinggiannya bervariasi, dalam jarak ratusan meter.

Agar langkah semakin cepat, saya mencari posisi yang ketinggiannya paling rendah. Kebetulan posisi tersebut berada di tengah jalan, tepatnya di jalur busway. Saya terus melangkahkan kaki di samping separator. Kendaraan yang melewati jalur busway melaju dengan perlahan, sehingga saya aman dari cipratan air. Namun berbeda dengan motor, ia bisa melaju kencang yang mengakibatkan cipratan air.

Beberapa kali saya harus berpapasan dengan motor-motor yang melaju kencang. Beberapa kali pula saya terkena cipratan air akibat gerakan motor-motor tersebut. Saya hanya bisa menggerutu sambil menunjukan raut muka kesal. "Tak berperasaan nih motor. Sopan dikit dong," batin saya. Dan spontan saya berteriak, "Pelan-pelan dong!" ketika sebuah motor melaju sangat kencang yang mengakibatkan cipratan air dalam kekuatan besar.

Dari beberapa kali berpapasan dengan motor-motor yang pengemudinya tidak berperasaan tersebut, saya menemukan seorang pengemudi motor yang santun. Saya lihat, ia melajukan motor dalam kecepatan sedang. Namun ketika hendak berpapasan dengan saya, ia memelankan laju motor dan berkata, "Maaf ya, mas." sambil menganggukan kepala. Ah, ternyata di Jakarta yang pengemudi motornya terkenal ekstrim ini masih ada pengemudi yang bersopan santun dan menghargai pemakai jalan lain.

Islam menganjurkan kita agar menghargai sesama pemakai jalan dan mentaati peraturan-peraturan dalam berkendara. Antara lain, mendahulukan pejalan kaki, tidak mengganggu orang lewat, dan menyingkirkan hambatan. Mengemudikan kendaraan pun harus tetap dalam kesadaran bahwa kemampuan mengemudikan kendaraan merupakan bagian dari karunia Allah yang harus disyukuri.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1344 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels