|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 7 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Sepertinya bukan merupakan hal yang aneh lagi jika seseorang yang hendak menikah dan mendahului kakaknya yang belum menikah, maka ia harus memberikan sesuatu sebagai uang pelangkah kepada kakaknya tersebut. Katanya, supaya tidak sial dan untuk menghormati sang kakak. Tradisi tersebut ada di beberapa daerah. Tentu, tidak semua orang melaksanakan tradisi tersebut.
Saya pernah mendengar cerita, ketika seseorang bercerita saat hendak menikah dan harus memenuhi permintaan sang kakak. Uang pelangkah yang diminta sang kakak, sangat memberatkannya. Walaupun ia sanggup memenuhi permintaan sang kakak, tapi ia merasa permintaan kakaknya tidak wajar. Entah bagaimana kelanjutannya, saya tidak begitu memerhatikan kelanjutannya.
Yang saya salut adalah, ketika seorang kakak yang belum menikah mau dilangkahi oleh adiknya. Bahkan, sang kakak dengan jujur dan semangat mendukung adiknya untuk segera menikah. "Jangan menunda untuk menikah lantaran kakak belum menikah." Beberapa kali saya mendapati kakak yang bersikap seperti itu. Sungguh mulia dan berlapang dada menerima kenyataan.
Menikah adalah ibadah. Semua proses ibadah adalah mudah. Maka janganlah untuk memersulit mereka yang hendak menikah dengan persyaratan uang pelangkah atau ini itu segala. Dukung, lancarkan, do'akanlah mereka yang hendak menggenapkan separuh agama. Jika harus menerima kenyataan bahwa sang kakak dilangkahi sang adik, lapangkanlah diri kita. Ibadah kok dipersulit?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.