HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Karena Cinta Tak Harus Memiliki
2 Mei 2011 pukul 13:00 WIB
Empati dari Pak Satpam
20 April 2011 pukul 11:00 WIB
Shalat itu Bukan Hanya di Kantor
5 April 2011 pukul 10:00 WIB
Do'a untuk Ibu
3 April 2011 pukul 14:00 WIB
Toilet Gratis
14 Maret 2011 pukul 10:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 9 Mei 2011 pukul 09:09 WIB

Kapan Nikah?

Penulis : Mujahid Alamaya

Beberapa waktu yang lalu, salah seorang teman yang sudah menikah, sebut saja A dari kota X, menyapa saya dan bertanya, "Kapan menikah?"

Lalu saya jawab, "Belum tahu. Insya Allah secepatnya kalau memang sudah waktunya."

"Wah, masa teman-teman di komunitas, akhwat-akhwat yang shalehah kok nggak ada yang mau diajak nikah sih?" timpalnya.

"Mungkin belum waktunya, mas," jawab saya enteng.

"Berjalannya waktu akan ketemu dengan berjalannya ikhtiar, tanpa itu tidak akan pernah berada di persimpangan," lanjutnya.

"Ikhtiar sudah, tapi ya itu tadi, mungkin belum waktunya, jadi masih belum diijinkan-Nya untuk menikah dalam waktu dekat ini," balas saya.

Lain lagi dengan B dari kota Y. Ia bertanya, "Kapan nih undangannya?"

"Belum tahu. Mungkin masih belum waktunya," jawab saya.

"Sok atuh disempunakan ikhtiarnya," lanjutnya.

"Insya Allah. Do'ain ya," timpal saya.

"Insya Allah. Allah sangat cinta sama antum. Terus berikhtiar, Allah sangat menyukai orang yang bersungguh-sungguh."

Beberapa teman yang lain pun menanyakan hal yang sama. Jawaban yang saya berikan tidak jauh berbeda, "Insya Allah kalau sudah waktunya."

Mereka yang menanyakan hal tersebut, rata-rata sudah menikah. Kalau mereka belum menikah, mungkin tidak akan menanyakan hal tersebut. Karena saya tahu, ketika beberapa di antara mereka belum menikah, mereka tidak pernah menanyakan hal tersebut, dan bahkan mereka sendiri yang kadang curhat mengenai proses dalam menjemput jodohnya.

"Ah, ada-ada saja. Mereka lupa saat dulu sebelum menikah. Sekarang, setelah menikah, dengan santainya berkata seperti itu," batin saya.

Jodoh setiap orang itu sudah ditentukan oleh Allah SWT, tinggal bagaimana kita menjemputnya. Apakah kita santai-santai saja atau berikhtiar dengan maksimal, tentunya dalam koridor syari'at. Jika kita sudah berikhtiar dengan maksimal, tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka semuanya kita kembalikan kepada Allah SWT, karena Ia yang Maha Menentukan dan Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Saya teringat sebuah nasihat bijak dari salah seorang sahabat saya, "Menjemput jodoh itu gampang-gampang susah. Jika memang belum waktunya, kita ikhtiar bagaimanapun, mau dicepat-cepat juga, gak bakal terealisasi. Tapi kalau sudah waktunya, insya Allah semuanya berjalan lancar tanpa kita duga."

Nasihat tersebut benar adanya. Beberapa pengalaman saudara dan teman dalam proses menjemput jodohnya menuju gerbang pernikahan, banyak yang penuh liku. Ada juga beberapa di antara mereka yang dengan mudahnya tanpa halangan apapun dapat menuju gerbang pernikahan sesuai dengan harapannya.

Salah seorang kerabat saya, perempuan, sudah barang tentu ingin segera bertemu dengan lelaki dambaannya. Seiring berjalannya waktu, ia belum dipertemukan dengan jodohnya. Bahkan, ia rela dilangkahi oleh dua adiknya untuk menikah lebih dulu. Ia tetap berikhtiar, berbagai upaya dilakukan dengan meminta bantuan beberapa kerabat yang lain untuk membantu mencarikan jodohnya. Bertahun-tahun ia berikhtiar, beberapa kali pula ia gagal. Sampai akhirnya, ia menemukan jodohnya di usia kepala 4. Dan kini, ia hidup bahagia.

Ada pula salah seorang teman kerja, ia sudah berusia di atas kepala 4, tapi masih belum menikah. Ia tidak hanya diam, tapi terus berikhtiar. Namun sampai saat ini, ia masih belum bertemu dengan jodohnya. Ia tetap sabar dan terus menyempurnakan ikhtiarnya.

Begitulah, sekuat apapun usaha kita, jika memang belum waktunya, maka tidak akan terealisasi. Dan jika memang sudah waktunya, maka apapun bisa terjadi, tentunya dengan kehendak Allah SWT.

Jadi, kalau ada yang bertanya, "Kapan nikah?" Maka jawabnya adalah, "Insya Allah kalau sudah waktunya."

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1216 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels