QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Nikah Beda Harakah? Kenapa Tidak!
2 Maret 2011 pukul 11:11 WIB
Ditolong kok Marah?
2 Februari 2011 pukul 10:00 WIB
Tangisku Malam Itu
16 Desember 2010 pukul 18:22 WIB
Hati-hati dengan Uang Negara
13 Desember 2010 pukul 16:45 WIB
Beratkah Berbagi Ilmu?
1 Desember 2010 pukul 16:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 14 Maret 2011 pukul 10:10 WIB

Toilet Gratis

Penulis : Mujahid Alamaya

Toilet Gratis. Itulah tulisan yang terpampang di dinding toilet umum yang saya lihat di layanan publik seperti rest area di jalan tol dan stasiun kereta api. Fasilitas toilet gratis tersebut sepertinya baru berlaku setahun belakangan ini. Dulu, ketika saya di rest area jalan tol atau stasiun kereta api, ketika hendak ke toilet, harus 'bayar' seribu rupiah.

Saya memberikan apresiasi kepada pengelola jalan tol dan stasiun kereta api yang menggratiskan fasilitas toilet umum, karena memang sudah seharusnya toilet di layanan publik itu gratis. Tapi, ternyata tidak semua toilet yang ada di rest area jalan tol maupun stasiun kereta api gratis, masih ada beberapa toilet yang harus 'bayar'.

Saya tidak mempermasalahkan gratis atau tidaknya, tapi sikap petugas kebersihan di toilet gratis tersebut. Beberapa kali saya lihat, petugas kebersihan meminta bayaran dari para pengguna toliet, padahal sudah jelas terpampang di dinding toilet itu tulisan TOILET GRATIS. "Apa petugas tersebut tidak tahu mengenai ketentuan tersebut?" pikir saya.

Pernah suatu hari, saya ke toilet gratis tersebut. Ketika ke luar, karena memang di situ tertera tulisan TOILET GRATIS, maka saya ke luar begitu saja. Tiba-tiba terdengar petugas kebersihan seperti memanggil saya. "Sssttt... Sssttt... Sssttt...," begitu yang saya dengar. Ketika saya menoleh, sorot matanya mengarah pada saya. Saya acuh saja, karena merasa tidak ada masalah.

Di lain waktu, di tempat yang lain, ada petugas kebersihan yang dengan sengaja menyimpan uang ribuan di depan pintu toilet, padahal di situ tertera dengan jelas tulisan TOILET GRATIS. Ada pula di tempat lain yang tulisan TOILET GRATIS ditutup dengan kertas, sehingga tidak terlihat dengan jelas. Dan petugas kebersihan dengan mudahnya memungut bayaran.

Saya lihat ada beberapa orang yang memberikan uang kepada petugas tersebut, tapi saya tidak, karena jelas toilet tersebut merupakan toilet gratis. Kenapa saya tidak mau bayar? Karena saya beranggapan, dengan memberikan uang kepada petugas kebersihan tersebut, secara tidak langsung saya ikut serta menumbuhsuburkan korupsi, walaupun dalam skala kecil.

Saya katakan korupsi, karena petugas kebersihan tersebut tidak mematuhi aturan yang ditentukan. Aturannya sudah jelas, gratis. Tetapi petugas kebersihan tersebut masih tetap memungut bayaran, padahal sudah tentu upahnya sebagai petugas kebersihan dan biaya perawatan kebersihan toilet ditanggung oleh pihak pengelola. Bukankah itu termasuk melanggar aturan dan memakan apa yang bukan haknya?

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu." (QS. An-Nisa [4] : 29).

Sekali lagi, bukan masalah gratis atau tidaknya, tapi perbuatan tercela seperti yang dilakukan petugas kebersihan itu yang patut kita cermati. Hendaknya kita tidak ikut serta menumbuhsuburkan budaya korupsi. Sekecil apapun usaha kita, insya Allah akan memberi pengaruh positif bagi pemberantasan korupsi. Kata Aa Gym, "Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, mulai dari saat ini."

http://dekaes.com

Suka
Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

zaenudin | tutor
Memang Hebattt, bisa nambah ilmu juga sahabat.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1170 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels