|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 14 Maret 2011 pukul 10:10 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Toilet Gratis. Itulah tulisan yang terpampang di dinding toilet umum yang saya lihat di layanan publik seperti rest area di jalan tol dan stasiun kereta api. Fasilitas toilet gratis tersebut sepertinya baru berlaku setahun belakangan ini. Dulu, ketika saya di rest area jalan tol atau stasiun kereta api, ketika hendak ke toilet, harus 'bayar' seribu rupiah.
Saya memberikan apresiasi kepada pengelola jalan tol dan stasiun kereta api yang menggratiskan fasilitas toilet umum, karena memang sudah seharusnya toilet di layanan publik itu gratis. Tapi, ternyata tidak semua toilet yang ada di rest area jalan tol maupun stasiun kereta api gratis, masih ada beberapa toilet yang harus 'bayar'.
Saya tidak mempermasalahkan gratis atau tidaknya, tapi sikap petugas kebersihan di toilet gratis tersebut. Beberapa kali saya lihat, petugas kebersihan meminta bayaran dari para pengguna toliet, padahal sudah jelas terpampang di dinding toilet itu tulisan TOILET GRATIS. "Apa petugas tersebut tidak tahu mengenai ketentuan tersebut?" pikir saya.
Pernah suatu hari, saya ke toilet gratis tersebut. Ketika ke luar, karena memang di situ tertera tulisan TOILET GRATIS, maka saya ke luar begitu saja. Tiba-tiba terdengar petugas kebersihan seperti memanggil saya. "Sssttt... Sssttt... Sssttt...," begitu yang saya dengar. Ketika saya menoleh, sorot matanya mengarah pada saya. Saya acuh saja, karena merasa tidak ada masalah.
Di lain waktu, di tempat yang lain, ada petugas kebersihan yang dengan sengaja menyimpan uang ribuan di depan pintu toilet, padahal di situ tertera dengan jelas tulisan TOILET GRATIS. Ada pula di tempat lain yang tulisan TOILET GRATIS ditutup dengan kertas, sehingga tidak terlihat dengan jelas. Dan petugas kebersihan dengan mudahnya memungut bayaran.
Saya lihat ada beberapa orang yang memberikan uang kepada petugas tersebut, tapi saya tidak, karena jelas toilet tersebut merupakan toilet gratis. Kenapa saya tidak mau bayar? Karena saya beranggapan, dengan memberikan uang kepada petugas kebersihan tersebut, secara tidak langsung saya ikut serta menumbuhsuburkan korupsi, walaupun dalam skala kecil.
Saya katakan korupsi, karena petugas kebersihan tersebut tidak mematuhi aturan yang ditentukan. Aturannya sudah jelas, gratis. Tetapi petugas kebersihan tersebut masih tetap memungut bayaran, padahal sudah tentu upahnya sebagai petugas kebersihan dan biaya perawatan kebersihan toilet ditanggung oleh pihak pengelola. Bukankah itu termasuk melanggar aturan dan memakan apa yang bukan haknya?
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu." (QS. An-Nisa [4] : 29).
Sekali lagi, bukan masalah gratis atau tidaknya, tapi perbuatan tercela seperti yang dilakukan petugas kebersihan itu yang patut kita cermati. Hendaknya kita tidak ikut serta menumbuhsuburkan budaya korupsi. Sekecil apapun usaha kita, insya Allah akan memberi pengaruh positif bagi pemberantasan korupsi. Kata Aa Gym, "Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil, mulai dari saat ini."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.