|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 16 Desember 2010 pukul 18:22 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Aku termasuk jarang dan sulit untuk menangis. Entah kapan terakhir kalinya aku menangis, tentunya bukan menangis karena cengeng, tapi menangis karena sesuatu yang membuat hati ini sakit dan tergores. Yang kuingat, selepas lulus SMA, aku menangis karena sahabat terbaik yang merupakan adik kelas, dimarahi tanpa sebab oleh 'ibu'.
Setelah itu, sepertinya aku tidak pernah menangis karena suatu masalah. Tapi malam itu, tiba-tiba dada serasa sesak, hati bergejolak, tenggorokan tercekat, dan tanpa terasa bulir-bulir air mata membasahi pipi. Aku menangis. Ya, aku menangis karena, katanya, ada yang merasa tersinggung dengan tulisanku. Astaghfirullaah...
Malam itu, aku benar-benar tertohok. Bagaimana tidak, niatku menulis bukan untuk menyinggung seseorang, apalagi menyinggung sahabat-sahabatku, tapi sebagai refleksi diri atas realita yang ada. Entahlah, aku jadi merasa bersalah, takut mendzalimi sahabat-sahabatku yang merasa tidak berkenan dengan apa yang kutulis. Astaghfirullaah...
Sahabat, sebagai sesama muslim, seharusnya kita saling mengingatkan satu sama lain, bukan? Tentunya mengingatkan dalam kebaikan. Maka, aku pun sering berusaha kritis pada apa yang terjadi, sesuai dengan kemampuanku. Jika sikap kritisku tidak pada tempatnya dan melukai perasaan, mohon maaf yang sedalam-dalamnya.
Sahabat, coba simak kutipan mengenai Sahabat Sejati, "Ia memang tidak harus selalu mengiyakan semua tingkah laku kita. Ia tidak mesti selalu sependapat dan melulu memuji. Tidak pula harus selalu tampak sejalan dengan pikiran kita. Tapi ada kalanya ia laksana obat, pahit namun mampu mengusir penyakit yang mungkin hinggap di tubuh sahabatnya. Ia berani mengkritik bijak setiap kesalahan kita. Ia takut kekurangan dan kesalahan itu akan membuat sahabatnya tercela di mata orang lain. Baginya, biarlah ucapannya terasa pahit di depan sang sahabat, ketimbang sang sahabat cacat di mata Allah, di mata agamanya, di mata orang lain."
Ah... Maaf, sahabat, bukan maksudku untuk menggurui. Sekali lagi, maaf beribu maaf atas semua kekhilafan yang kulakukan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.