|
QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Rabu, 20 April 2011 pukul 11:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Beberapa waktu lalu, saya shalat maghrib di sebuah masjid besar di kawasan Kebayoran Baru. Setelah selesai shalat, saya bergegas ke luar masjid. Ternyata, sandal yang saya gunakan sudah tidak ada di tempatnya. Saya cari di sekeliling masjid, sandal tidak ditemukan. Sepertinya diambil oleh orang yang 'membutuhkan' sandal.
Saya pasrah, tapi untuk alas kaki pulang, saya bingung pakai apa. Kebetulan saat itu ada seorang Satpam yang sedang bertugas lewat. Saya beranikan diri untuk bertanya padanya, "Pak, kalau mini market di dekat sini di mana ya?"
"Di Blok M yang paling dekat," jawabnya.
"Hilang ya?" tanya pak Satpam.
"Ya, sandal saya hilang," jawab saya.
"Bagus gak sandalnya?" tanya pak Satpam lagi.
"Biasa sih, merek XXX," jawab saya santai.
Pak Satpam terlihat merasa bersalah.
"Tadi saya memang memonitor di sini, tapi tidak bisa memonitor terus, soalnya tadi saya bantu menghitung kotak amal dulu. Saya sempat curiga dengan orang yang sikapnya aneh, dari tadi sepertinya memperhatikan sesuatu," tutur Pak Satpam.
Ia pun berkeliling dan berkoordinasi melalui radio komunikasi.
"Mas, saya curiga dengan orang itu. Mau gak kalau mas ikut menggeledah orang tersebut?" ajak Pak Satpam.
Saya mengiyakan dan ikut menggeledah orang yang dicurigai. Setelah digeledah, sandal tidak ditemukan. Kami kembali ke depan masjid. Tidak lama kemudian, orang yang dicurigai tersebut pergi meninggalkan masjid.
"Di sini sering yang kehilangan sandal atau sepatu. Modus pencuri biasanya mengambil, kemudian disembunyikan. Terus dia berkeliling lagi untuk mengambil. Kadang-kadang, pagi hari petugas menemukan sandal yang hilang. Mungkin kalau sandal tersebut tidak jadi diambil oleh pencuri, besok pagi bisa ditemukan," kata pak Satpam panjang lebar.
"Ooh... Ya sudah, gak apa-apa," kata saya.
"Di selatan ada sandal jepit yang tidak terpakai. Kalau mau, bisa pakai sandal tersebut. Lumayanlah untuk alas kaki pulang," pak Satpam menawarkan.
"Boleh, terima kasih," jawab saya.
Setelah perbincangan tersebut, kami segera menuju sebelah selatan masjid. Saya melewati halaman masjid, sedang pak Satpam melewati dalam masjid.
Ketika melewati halaman masjid, ada petugas Satpam di pos jaga yang memanggil saya. Setelah saya menghampiri, ada dua orang petugas Satpam, satu di antara mereka memberikan saya sandal jepit yang tidak terpakai. Mungkin mereka tahu saya kehilangan sandal dari radio komunikasi dan juga melihat saya tanpa alas kaki.
"Makanya sandalnya dititipkan di penitipan. Gak bayar juga gak apa-apa," kata salah satu petugas Satpam.
"Saya biasa shalat di sini, pak. Biasanya saya menaruh sandal di situ dan tidak hilang," timpal saya.
"Biasanya juga di sini gak ada maling. Coba kalau dititipkan, kan gak akan ada maling," salah satu petugas Satpam yang lain menimpali.
"Ya deh, pak. Terima kasih sandalnya," jawab saya pendek. Saya tidak mau terus berargumen.
Saya menuju sebelah selatan masjid sesuai kesepakatan dengan pak Satpam tadi. Di sana, pak Satpam sudah menunggu. Saya pun segera menghampirinya dan mengatakan bahwa saya sudah mendapatkan sandal jepit dari petugas Satpam di pos jaga.
"Coba aja besok, siapa tahu sandalnya bisa ketemu. Sekarang gelap, tidak ada senter, jadi tidak bisa mencari," kata pak Satpam masih merasa bersalah.
"Ya, pak. Terima kasih," saya mengakhiri perbincangan dan meninggalkan masjid.
Saya tidak mempermasalahkan hilangnya sandal saya. Ada hikmah dari hilangnya sandal saya tersebut, salah satunya adalah sikap empati dari petugas Satpam. Petugas Satpam yang menghampiri saya menunjukan empati kepada saya dan merasa bersalah karena lalai dari tugasnya walaupun cuma sebentar. Ia tidak menutupi bahwa di masjid tersebut sering terjadi kehilangan sandal. Sedangkan petugas Satpam di pos jaga tidak menunjukan empati sama sekali dan malah 'menceramahi' saya. Mereka berdua berkata tidak pernah ada maling. Jelas, mereka menutupi kejadian seringnya kehilangan sandal atau sepatu di masjid tersebut.
Saya salut kepada petugas Satpam yang menghampiri, membantu, dan memberikan solusi untuk saya. Ia merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa saya dan dengan sabar membantu saya. Saya belajar darinya mengenai sikap empati yang ditunjukan dalam menghadapi orang yang kena musibah.
"Terima kasih, pak Satpam."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.