|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Ahad, 3 April 2011 pukul 14:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Kau memberikanku hidup
Kau memberikanku kasih sayang
Tulusnya cintamu, putihnya kasihmu
Takkan pernah terbalaskan
Hangat dalam dekapanmu
Memberikan aku kedamaian
Eratnya pelukmu, nikmatnya belaimu
Takkan pernah terlupakan
Oh ibu, terima kasih
Untuk kasih sayang yang tak pernah usai
Tulus cintamu takkan mampu
Untuk terbalaskan
Oh ibu, semoga Tuhan
Memberikan kedamaian dalam hidupmu
Putih kasihmu kan abadi
Dalam hidupku
Oh ibu, terima kasih
Untuk kasih sayang yang tak pernah usai
Tulus cintamu takkan mampu
Untuk terbalaskan
Oh ibu, semoga Tuhan
Memberikan kedamaian dalam hidupmu
Putih kasihmu takkan mampu
Untuk terbalaskan
Oooh putih kasihmu ‘kan abadi
Dalam hidupku
Senandung Do'a untuk Ibu dari Ungu beberapa kali kuputar, menemaniku di malam yang sepi, saat akan beranjak melepas penat setelah seharian beraktifitas.
Ingatanku berputar, kembali ke masa lalu. Tepatnya 23 tahun yang lalu.
***
Siang itu, selepas pulang sekolah, seperti biasa, aku selalu membaca koran Pikiran Rakyat atau majalah Bobo. Adikku yang pertama, Dian, juga sudah pulang sekolah, berdiri di dekatku. Sedangkan Genta, si bungsu yang baru 16 hari, tertidur pulas.
Eteh [1] ke luar dari kamar, hendak mandi.
"Tong ka mamana heula, tungguan Genta, bisi hudang," [2] kata Eteh.
Setelah aku mengiyakan, Eteh beranjak ke kamar mandi. Aku pun kembali melanjutkan membaca. Dian masih berada di dekatku, asyik dengan aktifitasnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara Eteh memanggil-manggil namaku. Berulang kali memanggilku.
"Dian, eta Eteh kunaon ngageroan?" [3] tanyaku pada Dian.
"Teuing," [4] sahut Dian.
Setelah merasa yakin bahwa benar Eteh yang memanggil, apalagi suaranya seperti membutuhkan pertolongan, aku bergegas lari ke kamar mandi yang kebetulan berada di luar.
Pintu kamar mandi masih tertutup, terdengar suara Eteh masih memanggilku.
"Aya naon, Teh?" [5] tanyaku.
"Tulungan, Eteh lieur. Hudangkeun A Cucun," [6] kata Eteh.
Saat itu, kakakku yang pertama memang sedang tidur. Aku segera berlari ke atas, membangunkan A Cucun.
"A, gugah. Itu Eteh jojorowokan di kamar mandi," [7] ucapku.
"Aya naon?" [8] kata A Cucun kaget.
"Duka, ti tadi Eteh jojorowokan di kamar mandi," [9] jawabku.
A Cucun langsung bangkit dan sama-sama berlari ke kamar mandi. Eteh merintih seperti kesakitan.
"Kunaon, Teh?" [10] tanya A Cucun.
"Tulungan, Eteh Lieur," [11] suara Eteh terdengar samar.
Pintu kamar mandi masih terkunci, aku dan A Cucun malah bengong.
"Buru geroan Ma Nini," [12] ucap Eteh samar.
A Cucun bergegas ke warung, memanggil Ma Nini [13].
"Dung, tungguan Genta," [14] suara Eteh makin tidak jelas.
Aku masuk ke rumah, melihat Genta yang masih tidur, dan kembali melanjutkan membaca.
Beberapa saat kemudian, di kamar mandi terdengar suara ribut. Rupanya A Cucun dan Ma Nini mendobrak kamar mandi. Eteh terkulai lemas di lantai kamar mandi.
Aku masih membaca. Kulihat A Cucun dan Ma Nini menggotong Eteh.
"Eteh, kunaon?" [15] tanyaku.
"Buru benerkeun amparanna," [16] kata Ma Nini.
Kurapikan kasur yang ada di ruang tengah, Eteh pun ditidurkan di sana. Suara Eteh tidak jelas, parau, dan samar-samar. Dian panik. Aku hanya bisa mematung.
Saat itu, di rumah hanya ada beberapa orang saja. Aku, Dian, Genta, A Cucun, Ma Nini, dan tentunya Eteh. Aku lupa apa yang selanjutnya terjadi, tapi tidak lama setelah Eteh dibawa ke ruang tengah, berdatanganlah saudara-saudara yang lain, juga tetangga-tetanggaku.
Suasana di rumah ramai. Saudara dan tetangga bergerak semua. Ada yang memanggil saudara-saudara dan tetangga-tetangga yang lain, ada yang berusaha mengobati Eteh, ada yang menggendong Genta, dan lain sebagainya.
Aku berdiri mematung, Dian duduk di dekat Eteh.
Terdengar suara parau Eteh supaya Bapak diminta cepat pulang. Saat itu, tidak ada saluran komunikasi yang bisa diandalkan. A Cucun bergegas menjemput Bapak di kantornya, nan jauh di Bandung selatan. Butuh waktu kurang lebih 3 jam untuk pergi dan pulang.
Eteh merintih kesakitan. Semua terfokus pada Eteh. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang ada di rumah. Suara yang ke luar dari Eteh membuat siapapun yang ada di rumah terdiam.
Sore harinya, Bapak baru tiba di rumah. Bapak terlihat panik dan kaget. Saat diajak bicara oleh Bapak, Eteh seperti kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya rintihan dan suara gemuruh dari mulut Eteh yang terdengar.
Bapak memutuskan untuk membawa Eteh ke rumah sakit. Beberapa orang menggotong Eteh dan membawanya ke mobil.
Aku di teras, melihat Eteh digotong. Dian hanya diam dan ditenangkan oleh saudara yang lain.
Di jalan, banyak tetangga yang berkerumun melihat apa yang terjadi.
Saat Eteh hendak dimasukkan ke mobil, aku berlari tanpa alas kaki, mendekati mobil. Aku ingin ikut ke rumah sakit. Beberapa saudara mencoba membujukku supaya tidak ikut ke rumah sakit. Aku menangis, dan bersikeras ingin ikut ke rumah sakit. Bapak mengijinkan. Aku pun ikut ke rumah sakit. Aku lupa siapa saja yang ikut ke rumah sakit. Yang kuingat, A Cucun menyusul pakai motor.
Tiba di rumah sakit, Eteh langsung dibawa ke UGD. Bapak menemani Eteh. Aku dan yang lainnya menunggu di ruang tunggu. Suasana UGD membuatku takut. Banyak pasien yang merintih kesakitan.
Tidak lama kemudian, A Cucun tiba di rumah sakit dan menemaniku di ruang tunggu. Yang lainnya berpencar, mungkin ikut membantu mengurus hal-hal yang diperlukan.
Setelah menunggu beberapa lama, Bapak menemui aku dan A Cucun di ruang tunggu. Raut wajahnya terlihat aneh.
"Cucun sareng Dudung uih heula ti payun. Wartoskeun ka nu di ditu, Eteh tos teras pupus," [17] kata Bapak tegar.
"Glek," aku kaget. A Cucun terlihat sedih.
"Tos teu tiasa katulungan, tadi teh ka luar getih wae tina pangambungna," [18] ujar Bapak sambil memperlihatkan saputangan yang penuh dengan bercak darah.
Setelah berbicara ini dan itu. Aku dan A Cucun segera pulang menggunakan motor. Aku dibonceng, masih tanpa alas kaki.
Tiba di rumah, A Cucun langsung duduk di kursi teras. Ia menahan sedih, wajahnya tertunduk. Aku masuk ke dalam rumah, bingung mau berkata apa.
Ene [19] menghampiriku sambil menggendong Genta.
"Kumaha Eteh teh?" [20] tanya Ene.
Aku bingung mau menjawab apa.
"Teuing atuh. Tanyakeun ka A Cucun weh," [21] jawabku santai dan pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya aku tahu, bahwa Eteh sudah meninggal, tapi aku tidak berani untuk mengatakannya. Lagi pula aku takut salah dengar dari apa yang disampaikan Bapak.
Ene menghampiri A Cucun yang duduk di kursi teras. Masih seperti semula, A Cucun terlihat menunduk.
Aku diam di dalam rumah, memperhatikan Ene dan A Cucun di teras.
"Hah, Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji'uun...," Ene histeris.
"Mamah, Eteh teh geuning maot," [22] teriak Ene kepada Bi Mamah yang lagi di dalam rumah.
Semua yang ada di luar dan di dalam rumah mengampiri Ene, berkumpul di ruang tamu. Mereka tidak percaya. Setelah dipastikan oleh A Cucun, akhirnya mereka percaya.
Beragam reaksi atas meninggalnya Eteh aku lihat. Ada yang terduduk lesu, ada yang menangis, ada yang histeris. Apalagi Bi Mamah, menangis histeris sambil teriak-teriak memanggil Eteh.
Beberapa saudara dan tetangga sudah berkumpul. Mereka langsung begerak tanpa dikomando. Ada yang bersiap menyambut kedatangan jenazah Eteh, ada yang memberitahukan kabar meninggalnya Eteh ke tetangga dan saudara yang lain, ada pula yang langsung berangkat untuk memberitahu saudara-saudara yang tempat tinggalnya jauh.
Aku hanya bisa diam dan melihat reaksi orang-orang di sekitarku.
Menjelang maghrib, mobil ambulans datang. Semua ke luar rumah, menyambut jenazah Eteh. Aku diam di dalam rumah.
Kulihat jenazah Eteh digotong dan disemayamkan di ruang tamu. Suara isak tangis dari saudara-saudara mengiringi kedatangan jenazah Eteh.
Malam harinya, saudara-saudara yang tempat tinggalnya jauh, mulai berdatangan. Aku duduk di pangkuan Bapak, di samping jenazah Eteh. Rasa sedih terlihat di raut wajah mereka. Mereka langsung menyalami Bapak.
Esok harinya, jenazah Eteh akan dimakamkan.
Ruang tamu, ruang tengah, teras, dan halaman penuh dengan pelayat. Jenazah Eteh disemayamkan di ruang tengah. Aku duduk di pangkuan Bapak, di samping jenazah Eteh.
Sebelum dimandikan, datang beberapa murid Bapak yang pernah tinggal di rumah. Teh Titin, yang memang akrab dengan Eteh, membuka penutup kepala jenazah Eteh. Ia menangis histeris sambil memeluk jenazah Eteh. Kulihat wajah Eteh, berseri. Lama Teh Titin memeluk jenazah Eteh, sampai Teh Titin berhasil ditenangkan oleh yang lain.
Pelayat terus mengalir berdatangan, turut berduka cita.
Jenazah Eteh dimandikan.
Aku bersama Bi Nunung. Bi Nunung ingin melihat proses pemandian, tapi dilarang oleh Eni [23].
"Tong ninggal, bilih teu kiat. Tadi Eteh katinggal seuri," [24] kata Eni.
Aku dan Bi Nunung kembali duduk di teras.
Saat proses pemandian sudah selesai, aku masuk rumah. Kulihat kain kafan yang sudah disiapkan. Aku ingin melihat Eteh untuk yang terakhir kalinya. Salah seorang yang ada di sana melarangku. Aku menangis dan berlari ke luar. Bapak mengejar dan menenangkanku.
Pagi beranjak siang. Prosesi pemakaman segera dimulai. Semua berkumpul di halaman rumah. Banyak saudara, tetangga, rekan kerja Bapak, dan beberapa murid Bapak yang hadir. Prosesi pemakaman dipimpin oleh salah seorang rekan kerja Bapak, Pak Nano, ia terlihat menangis dan terisak saat berbicara.
Dari awal sampai selesai, prosesi pemakaman selalu diiringi isak tangis saudara-saudara. Kalimat tahlil pun bergema.
Di masjid dan pemakaman, sudah banyak orang yang berkumpul. Apalagi di pemakaman, pelayat sampai memenuhi pemakaman keluarga.
Aku ditemani salah seorang ibu rekan kerja Bapak, merangsek ke dekat liang lahat. Kulihat langsung ketika jenazah Eteh dimasukan ke dalam liang lahat, sampai ditimbun oleh gundukan tanah. Aku tak menangis saat itu.
***
Malam semakin larut, tak terasa, ada yang menetes dari mataku.
Ya, jika ingat masa lalu, ketika Eteh masih hidup, aku sering meneteskan air mata. Air mata kerinduan akan belaian dan kasih sayang seorang ibu.
Kini, hanya do'a yang bisa dipersembahkan untuk Eteh.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju, dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)." [25]
---
Catatan Kaki
[1] Panggilan kesayangan keluarga besar untuk ibu.
[2] Jangan ke mana-mana dulu, temani Genta, takut bangun.
[3] Dian, kenapa Eteh manggil-manggil?
[4] Tidak tahu.
[5] Ada apa, Teh?
[6] Tolong, Eteh pusing. Bangunkan A Cucun.
[7] A, bangun. Itu Eteh teriak-teriak di kamar mandi.
[8] Ada apa?
[9] Tidak tahu. Dari tadi Eteh teriak-teriak di kamar mandi.
[10] Kenapa, Teh?
[11] Tolong, Eteh pusing.
[12] Cepat panggil Ma Nini.
[13] Panggilan untuk nenek dari ibu.
[14] Dung, temani Genta.
[15] Eteh, kenapa?
[16] Cepat benarkan alas tidurnya.
[17] Cucun dan Dudung pulang lebih dulu. Beritahu yang di sana, Eteh sudah meninggal.
[18] Sudah tidak bisa tertolong. Tadi ke luar darah terus menerus dari hidungnya.
[19] Panggilan untuk salah satu adiknya nenek.
[20] Bagaimana kondisi Eteh?
[21] Tidak tahu. Coba tanya ke A Cucun.
[22] Mamah, ternyata Eteh meninggal.
[23] Panggilan untuk buyut.
[24] Jangan lihat, takut tidak kuat. Tadi Eteh terlihat senyum.
[25] Do'a Rasulullah SAW saat menshalatkan jenazah. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jubair bin Nufair ia mendengarnya berkata, saya mendengar Auf bin Malik berkata bahwa Rasulullah berdo'a seperti tersebut di atas.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.