Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Empati dari Pak Satpam
20 April 2011 pukul 11:00 WIB
Shalat itu Bukan Hanya di Kantor
5 April 2011 pukul 10:00 WIB
Do'a untuk Ibu
3 April 2011 pukul 14:00 WIB
Toilet Gratis
14 Maret 2011 pukul 10:10 WIB
Nikah Beda Harakah? Kenapa Tidak!
2 Maret 2011 pukul 11:11 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 2 Mei 2011 pukul 13:00 WIB

Karena Cinta Tak Harus Memiliki

Penulis : Mujahid Alamaya

Entah kapan rasa itu muncul, karena dulu, aku tak begitu memperhatikanmu. Selain karena baru mengenalmu, kita tinggal di daerah yang berbeda, otomatis kita hanya bertemu pada waktu tertentu. Saat itu, interaksi kita biasa saja, komunikasi hanya seperlunya, dan aku tidak ada perasaan apapun padamu.

Setelah beberapa kali bertemu, beberapa orang mengatakan padaku, bahwa sikapmu padaku terlihat lain. Saat itu, aku tak begitu mempedulikan apa kata orang. Hingga pada suatu hari, aku tersadar bahwa sebenarnya sikapmu memang berbeda. Dirimu begitu perhatian, tapi aku tidak merasakan hal apapun padamu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Kucoba memberanikan diri untuk bertanya padamu. Saat itu dirimu mengelak dan mengatakan bahwa dirimu tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku. Kudesak lagi agar dirimu berkata jujur, tapi jawaban yang sama yang kudapat. Kudengar dirimu menangis setelah memberi jawaban tersebut.

Bulan berganti tahun. Beberapa orang mengatakan bahwa sikapmu padaku berbeda. Dari sikapmu, analisa beberapa orang mengatakan bahwa dirimu mempunyai perasaan padaku. Aku tidak begitu menghiraukan, karena dulu dirimu pernah mengatakan, aku hanya dianggap sebagai sahabat dan kakak, tidak lebih.

Waktu terus berlalu. Sikapku padamu biasa saja, sama seperti pada yang lain. Aku selalu apa adanya, tidak pernah menutupi segala kekurangan dan kejelekanku. Sobat-sobatku tahu bagaimana aku sebenarnya. Dan tentu, dirimu pun tahu bagaimana aku. Dalam interaksi dengan sobat-sobatku, perselisihan sering terjadi, dan dirimu pun pernah mengalaminya, bahkan sampai menangis.

Dari beberapa kali interaksi saat bertemu, dirimu memang begitu perhatian. Sikapmu yang lain dari biasanya sering kurasakan. Saat aku berada di daerahmu, dirimu selalu meluangkan waktu untukku. Hingga dalam suatu kesempatan, sikapmu padaku kurasakan lain dari biasanya. Aku pun mulai mengenal dan memahamimu.

Pernah suatu waktu, kuberanikan diri untuk bertanya padamu, tapi dirimu tidak pernah jujur padaku. Padahal, ada beberapa orang yang peka dan mengatakan padaku, bahwa sebenarnya dirimu mempunyai perasaan padaku. Karena dirimu tidak mengaku, maka aku bersikap biasa saja. Hingga akhirnya kurasakan hal yang ganjil, dirimu marah padaku saat aku bersikap cuek dan tak memperhatikanmu.

Aku bingung dengan sikapmu. Setiap kutanya, dirimu selalu mengelak dan tidak mengakui bahwa dirimu mencintaiku. Padahal bukti-bukti menunjukkan bahwa dirimu memang mencintaiku. Setelah dipikirkan, maka aku memutuskan, aku berniat menikahimu. Dan aku minta bantuan seorang sobatku yang juga merupakan sobatmu untuk menyampaikan padamu bahwa aku berniat menikahimu.

Rupanya Allah SWT berkehendak lain, sobat kita yang kuharapkan dapat menjadi mediator tidak bisa mengemban amanahnya dengan baik. Ia baru menyampaikan pesan dariku beberapa minggu kemudian. Dan hasilnya, dirimu memang mencintaiku. Aku girang bukan main, tapi sekaligus sedih. Karena ternyata, dirimu tidak bisa menerima salah satu kekurangan dan kejelekanku, sehingga berubah pikiran.

Dirimu berubah pikiran, tidak lama sebelum sobat kita menyampaikan pesanku. Saat itu, antara kita terjadi perselisihan. Hal sepele memang, tapi bagimu merupakan hal berat, karena aku tahu, dirimu begitu perasa. Hal sekecil apapun, jika itu tidak berkenan di hatimu, maka dirimu akan menangis. Dan itulah yang terjadi, sehingga membuatmu berubah pikiran.

Aku hanya menghela nafas. Andai sobat kita menyampaikan pesanku dengan segera setelah aku memintanya, mungkin perselisihan itu tidak akan pernah terjadi, karena aku sudah tahu bahwa dirimu mencintaiku dan begitu pula aku mencintaimu. Namun Allah SWT yang Maha Menentukan, kita ditakdirkan saling mencintai, namun tidak diijinkan untuk bersatu dalam ikatan pernikahan.

Tahun berganti tahun. Kita semakin jarang berinteraksi, hanya sesekali saja jika ada keperluan. Hingga suatu hari, ketika kita bertemu, dirimu mengatakan akan segera menikah dengan lelaki pilihanmu. Kulihat airmatamu menetes. Dirimu menangis dan meminta maaf berkali-kali padaku. Sepertinya dirimu merasa bersalah padaku.

Dalam pertemuan terakhir, dirimu menangis terus. Aku tak tega melihatmu menangis. Kualihkan pembicaraan, dirimu berhenti menangis dan sesekali tersenyum. Namun, tidak lama kemudian, dirimu menangis lagi. Saat aku hendak pergi, dirimu menangis deras. Kulihat reaksimu, sepertinya saat itu dirimu merasa berat untuk berpisah denganku. Airmatamu terus menetes. Dan, airmataku pun ikut menetes.

Duhai, wanita shalihah, ...
Hapuslah airmatamu, janganlah terus menangis. Aku rela dirimu menikah dengan lelaki pilihanmu. Dirimu telah mendapatkan apa yang dicari selama ini. Ia lebih baik dariku.

Duhai, wanita shalihah, ...
Aku hanya bisa mendo'akan, semoga engkau bahagia dengan lelaki pilihanmu. Seperti katamu, dirimu tidak mau menyakiti hatinya, maka bahagiakanlah ia dengan baktimu.

Duhai, wanita shalihah, ...
Aku begitu sering menyakiti hatimu. Maafkan aku, atas semua salah dan khilaf, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Juga, atas semua pikiran tentangmu yang seharusnya tidak terlintas dalam pikiranku.

Duhai, wanita shalihah, ...
Dirimu harus memberikan yang terbaik untuk suami dan keluargamu. Jangan banyak pikiran apapun tentangku. Lepaskanlah semua bebanmu padaku. Insya Allah aku baik-baik saja.

Duhai, wanita shalihah, ...
Aku mencintaimu. Karena cinta tak harus memiliki, maka kurelakan dirimu bahagia dengan lelaki pilihanmu. Aku tak pernah menyesal mengenalmu, dan takkan kulupa kenangan bersamamu.

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

salman dikz | Karyawan
KotaSantri.com... Ya Allah, kereeeen. Tooop daaaaah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1229 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels