|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Jum'at, 12 November 2010 pukul 16:09 WIB
Penulis : Meyla Farid
Beberapa hari lalu, teman saya pernah bertanya, "Mau menulis tentang aku tidak?" Waktu itu saya sedang tidak mood, jadi belum bisa memenuhi keinginannya. Sebenarnya dia juga iseng bertanya sih, karena melihat saya rajin banget nulis diary, kadang-kadang nulis tentang pengalaman orang.
Beberapa saat yang lalu, saya ketemu dengan dia lagi di YM, dan ngobrol sebentar sebelum akhirnya dia pergi kerja. Malam hari di sini, pagi/siang hari di negeri tempat kerjanya saat ini. Dia sekarang sedang bekerja di negeri Paman Sam, negeri yang banyak ditakuti orang karena super powernya itu. Sekaligus negeri yang 'ramah' dengan banyak lapangan pekerjaan yang tidak bertele-tele seperti di Indonesia.
Namanya, sebut saja 'Dia'. Dia asli dari Sumedang, saya suka 'meledeknya' dengan panggilan 'Tahu Sumedang'. Saya mengenal Dia hampir 2 tahun lamanya. Lewat dunia cyber, tentu saja. Waktu itu saya memang sedang senang-senangnya chatting masuk ke room-room yang ada di Yahoo Messenger.
Dulu saya benar-benar 'judes'. Tidak begitu welcome dengan orang yang saya kenal dari dunia maya. Tapi Dia ini paling sabar dengan karakter saya yang 'sulit' itu. Lalu terjalinlah persaudaraan yang erat dengan Dia. Saya sering cerita tentang masalah-masalah saya, begitu juga Dia. Tidak ada lagi rahasia kehidupan saya yang tersembunyi dari Dia. Dia tahu kelebihan dan kelemahan saya. Begitu juga saya tahu tentang rahasia-rahasia hidup Dia.
Dia, bercerita tentang kehidupannya di negeri paman Sam tersebut. Bagaimana susahnya mencari mesjid untuk shalat. Bagaimana tidak mungkinnya shalat berjama'ah di mesjid yang jarang atau bahkan tidak ada di daerah tempat tinggalnya di Amerika. Kebetulan, Dia tidak tinggal di lingkungan komunitas Muslim. Jadi segalanya yang berhubungan dengan ibadah serba sulit. Dia cerita, untuk shalat Jum'atan saja mesti rela berempat saja dengan teman-teman seapartemennya. Tapi, Dia berani berjanji tidak pernah meninggalkan shalat.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup Dia. Namun saya selalu melihat Dia tegar dan sabar. Dalam setiap obrolan, Dia selalu menasehati agar saya rajin shalat tahajjud. Dia bilang, shalat tahajjud akan menolong kita dan membukakan pintu keluar atas segala masalah. Saya kadang-kadang malu sendiri. Dia, yang ada di negeri mayoritas kafir saja tidak pernah meninggalkan tahajjud. Dengan segala keterbatasan fasilitas ibadah, tapi bisa konsisten melaksanakan shalat yang lima waktu, bahkan plus shalat sunnah lainnya, terutama tahajjudnya.
Jujur saja, hal yang paling menarik hati saya dari seorang Dia adalah shalat tahajjudnya. Banyak orang baik, namun sedikit yang betul-betul menjaga dirinya dengan shalat tahajjud. Kata-kata Dia, kalau shalat tahajjud itu penolong dan pemberi cahaya sekaligus jalan keluar dari setiap masalah, selalu terekam dalam ingatan saya. Mengapa, orang-orang yang justru tinggal di lingkungan kafir, keimanan dan shalatnya malah lebih kuat dibanding kita yang tinggal di lingkungan muslim? Mengapa, kita yang berada di negeri yang 'subur' dengan bangunan mesjidnya, tapi tidak mau dan 'menghindari' mesjid untuk shalat-shalat lima waktu kita? Padahal, saudara-saudara kita yang terpaksa hidup di negeri tanpa mesjid itu begitu rindu menginjakkan kakinya ke dalam mesjid! Rindu akan kasih sayang keluarga, rindu akan syair-sayir ayat cinta yang dibacakan muslim/muslimah.
Untuk Dia, semoga tetap istiqamah.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.