|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Senin, 11 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : Meyla Farid
Aku. Perahu kertas. Lembut. Bercita-cita. Setia.
Bertahun duduk menunggu hujan kapan datang. Sepasang tangan mungil anak manusia telah membuatku. Dari selembar kertas biasa, bergaris-garis manis. Beberapa anak manusia mencoba membuatku berlayar di atas permukaan air kolam yang tenang. Aku diam. Pun ketika aku didorong untuk melaju di permukaan air bak yang tenang. Aku tetap diam. Lalu seorang anak yang setia menaruhku di pinggir sebuah bekas sungai kecil yang mengering. Retak-retak tanahnya. Tak ada setetes pun air yang mengalir di sana. Anak itu pun bergumam di telingaku, "Tunggu di sini, mudah-mudahan hujan segera datang!"
Aku tak dapat menjawab. Seandainya bisa, aku tak ingin anak itu pergi meninggalkanku sendiri di pinggir bekas sungai itu. Seandainya bisa, aku ingin ikut dengannya. Tapi yang kulakukan hanya diam dan memandang punggungnya yang menjauh. Anak kecil yang telah membuatku itu, akhirnya meninggalkanku. Sebuah perahu kertas yang rapuh.
Segala rasa, segala asa, telah hilang. Aku menangis? Entah, apa yang disebut manusia dengan menangis ya? Tak ada airmata. Pipiku kering. Sekering sungai kecil di depanku. Hanya, senyumku memudar. Di dalam sini, ya, di dalam sini, (entah aku memiliki hati seperti manusia), terasa nyeri. Hampa. Tak ada kebanggaan lagi. Anak kecil itu telah pergi. Apalah aku, tak ada arti tanpa sepasang tangannya yang telah membuatku itu. Aku tiada. Dunia pun tiada. Sekejap aku merasakan perasaan melayang, bebas, namun tak bercita rasa. Aku benar-benar tidak ada.
Kemudian, titik-titik kecil itu menghujam pundakku. Awalnya sedikit-sedikit, membuatku terperanjat dengan rasa dinginnya yang menusuk kulit. Mataku terbuka. Dengan bingung aku mencoba mencerna apa yang menusukku sedingin salju tadi. Kemudian aku mendongak ke atas sana. Sebutir air bundar, kecil, seukuran kelereng yang biasa dimainkan si anak manusia itu, jatuh meluncur ke arah mukaku. Dan, tes! tes! tes! Butir-butir kelereng air lainnya pun berjatuhan menimpa muka dan tubuhku. Dingin. Sejuk sekali. Lalu berbutir-butir air lagi, lagi, hingga akhirnya butiran-butiran itu seperti mengguyurku dengan riang dan tak henti-henti. Hujan! Ternyata hujan! Tuhan...
Bibirku mengembang. Tubuhku menyegar. Wajahku merona riang. Aku segar. Sejuk. Hidup. Aku hidup. Dan untuk pertama kalinya sejak ditinggalkan, aku berterima kasih kepada anak kecil itu karena telah menaruhku di sana. Aku menari riang!
Lalu yang terjadi selanjutnya, tiba-tiba tubuhku sudah terombang-ambing di atas air yang mengalir riang. Menari-nari tanpa henti. Aku tak ingat, sejak kapan air ini memangku tubuhku dan membawaku berlayar! Iya, akhirnya aku bisa berlayar! Terima kasih, Tuhan.
Aku senang.
Aku senang.
Aku bahagia.
Kemudian tiba-tiba tubuh kertasku tenggelam. Sejak kapan? Oh, aku tidak sadar. Ada arus yang terlalu kencang, ada putaran air yang menghadang. Lagi-lagi, aku tenggelam tanpa sadar kapan mulai tenggelam. Sakit, namun sekuat tenaga aku mencoba naik ke permukaan. Aku, perahu kertas ini.
Permukaan sungai terlihat indah di atas sana. Segala harapanku, segala cintaku di sana. Dia menenggelamkanku tanpa sadar. Ya Tuhan, aku ingin naik ke sana. Berlayar.
Air memenuhi hidungku. Nafasku pun tersengal. Namun mataku tetap memandang fokus ke atas permukaan. Aku, cinta kau. Lihat aku. Lihat aku. Perahu kertas yang kecil ini, hanya sanggup mencintaimu dengan hati. Maafkan aku jika saat berlayar tadi lupa diri. Kehilangan kendali. Lupa tidak memelukmu lagi. Lihat dan pandang aku. Mungkin saja aku bisa berenang dan naik ke atas sana. Tapi aku ingin memberimu waktu. Dan mengumpulkan lagi do'a-do'aku. Aku pasti akan selalu kembali ke sana. Karena, sejak dulu aku mendamba hadirmu.
Tenggelam. Dengan nafas tersengal. Dan tubuh yang (apa masih ada tubuh kertasku?) kelu. Namun mataku tetap saja mellihat ke atas sana dengan do'a yang tak memudar.
Tuhan, kutitipkan dia kepada-Mu.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.