|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Kamis, 23 September 2010 pukul 15:45 WIB
Penulis : Meyla Farid
Seperti hari kemarin, saya kadang mengakses internet di warung internet (warnet). Saat ini sudah tidak sulit lagi kita mencari warnet ini. Hampir di semua tempat kita dapat menemukannya.
Sebulan yang lalu, saya menemani seorang teman ke warnet. Di warnet yang terletak di Bandung Utara tersebut ternyata konsumennya kebanyakan anak-anak usia sekolah. Bahkan, beberapa adalah anak SD. Mereka dengan riang saling menggoda dengan sesamanya, saling intip sedang chating dengan siapa. Juga, anak SD rata-rata 'sibuk' dengan permainan game online-nya.
Kemarin saya sempat mampir juga ke sebuah warnet di tempat lain. Ternyata, fenomenanya hampir sama. Kebanyakan yang bermain internet di warnet ini juga anak-anak usia sekolahan. Mungkin anak SMP atau SMU. Mereka terlihat asik sekali internetan.
Internet yang sudah dengan sangat mudah dapat diakses ini, tentunya berpengaruh pada kemudahan setiap konten di internet tersebut diketahui oleh penggunanya, termasuk oleh anak-anak. Pernyataan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) tentang dampak video syur artis-artis yang menyebar di internet belakangan hari telah merusak moral generasi muda tidaklah mengada-ada. Sebagai contoh di lapangan adalah banyaknya anak-anak sekolahan yang sering internetan di warnet tadi.
Merebaknya kasus pemerkosaan terhadap anak-anak, dan sejenisnya, juga tidak dapat kita menutup kemungkinan kalau hal itu disebabkan oleh penyebaran video-video serupa. Meskipun, kita tahu bukan hanya satu dua orang saja yang patut disalahkan. Meskipun, mungkin sang pemain di video itu tidak bermaksud untuk menyebarkan videonya dan merusak moral generasi penerus bangsa ini. Yang patut disalahkan atas penyebaran video-video ini tentunya sang pengedarnya yang dengan sadar dan niat telah menyebarkan virus kebobrokan dan mengajarkan hal-hal yang merusak generasi muda. Bukan hanya generasi muda di Indonesia, tapi generasi muda di dunia yang menjadi 'korban' atas tontonan video semacam ini.
Membatasi pengaksesan konten-konten internet rupanya relatif sulit. Selalu saja 'terbentur' dengan kepentingan yang lain. Kembali lagi ke mereka yang memiliki kewenangan memblokade arus penyebaran video-video seperti itu, apakah mereka rela melakukannya tanpa banyak pertimbangan. Juga, kembali ke diri masing-masing dan pengawasan setiap orangtua kepada anaknya.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.