|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Sabtu, 28 Agustus 2010 pukul 15:25 WIB
Penulis : Meyla Farid
Dalam ajaran Islam, membunuh satu jiwa yang tidak berdosa sama saja dengan membunuh umat manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan. Itu hanya satu jiwa. Bagaimana dengan banyak jiwa? Bingung juga kan kita menjawabnya, karena satu saja sudah membunuh seluruh umat manusia, ibaratnya. Faktanya, sudah ribuan mungkin jutaan jiwa tak berdosa yang dibunuh di muka Bumi ini. Anak-anak di Palestina, orang-orang tak berdosa, rakyat sipil yang ikut ter/dibunuh dalam suatu peperangan, sampai kepada korban pembunuhan yang dilakukan dengan 'sengaja'.
Ngeri sebenarnya menceritakan tentang ini. Namun memang 'seharusnya', membunuh satu jiwa tak berdosa saja patut kita tangisi. Karena itu artinya telah matinya kemanusiaan seluruh umat manusia di muka Bumi ini. Namun memang harus kita 'terima' kenyataan bahwa, mungkin, sebenarnya kemanusiaan di muka Bumi ini telah pudar. Setidaknya, jika dihubungkan dengan kenyataan.
Berkaitan juga dengan 'terbunuhnya seluruh umat manusia' ini, adalah rumor tentang penculikan dan pembunuhan yang dilakukan dengan cara mengambil organ dalam sang korban. Ngeri. Beberapa hari yang lalu, ibu saya cerita kalau di Tasikmalaya sudah beberapa kali kejadian. Di kecamatan yang tetanggaan dengan kecamatan tempat saya tinggal, seorang remaja/dewasa bahkan yang menjadi korbannya. Sehari setelah sang korban menghilang diculik, esoknya jasadnya ditemukan dengan jantung yang sudah hilang. Jantung. Astaghfirullahal'adziim, kejam. Saat ditemukan, ada uang sebesar 500 ribu rupiah diletakkan di atas jasadnya. Ah. 'Harga' kemanusiaan ini, tidak bisa ditukar dengan uang. Mungkin si pelaku bermaksud memberi biaya pemakaman dengan uang tersebut atau entah apa. Tapi sangat tidak berarti.
Juga ada kejadian di daerah lain, dimana kebanyakan yang jadi korban adalah anak-anak. Mereka diculik, bahkan di dekat rumah mereka sendiri, kemudian ditemukan dengan organ dalam yang sudah hilang. Sedih ya. Kita hanya bisa bertanya-tanya, sampai hati para pelaku itu berbuat begitu, mengapa? Apa mereka tidak mempunyai anak, yang, bayangkan, seandainya anak mereka sendiri yang dibegitukan. Atau. apa mereka tidak memiliki orangtua, saudara, teman, istri atau suami? Sudah mati sisi kemanusiaan mereka. Hanya membunuh satu jiwa tak berdosa saja, mereka telah membunuh umat manusia secara keseluruhan! Apalagi lebih dari satu jiwa.
Mungkin bagi yang memiliki anak, harus lebih meningkatkan kewaspadaan. Beri pengertian dengan hati-hati kepada anak-anak kita, agar tidak sembarangan menerima pemberian orang asing, atau mau diajak pergi ke suatu tempat dengan bujukan apapun. Apalagi sepulang sekolah, anak-anak harus benar-benar diingatkan agar tidak pergi keluyuran dulu sebelum pulang ke rumah. Jangan izinkan mereka pergi ke mana pun sepulang sekolah, harus pulang ke rumah dulu. Memang agak 'sulit' memberi pengertian kepada anak-anak yang masih polos. Dengan sedikit iming-iming atau kebaikan saja, anak-anak bisa dengan lugunya percaya. Bisa dengan mudahnya dituntun tangannya ke suatu tempat dengan berbagai dalih agar ia mau, atau diajak naik kendaraan dengan pura-pura mau mengantar ke mana atau apa. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja bisa tertipu. Orang baik-baik, yang lugu, dan mengira semua orang sama baiknya. Namun kenyataan, sudah banyak manusia yang sudah kehilangan sisi kemanusiaannya. Ini yang harus kita sadari dan terima.
Mungkin tips-tips di bawah ini dapat kita terapkan untuk menghindari penculikan dan sejenisnya :
1. Tekankan pada anak kita, jangan mau diajak ke mana-mana oleh orang yang tidak dikenal. Kalau ada orang asing yang memaksa, suruh anak melaporkan kepada gurunya atau orang dewasa yang ada di sana.
2. Beri peringatan agar anak kita tidak mudah menerima hadiah berupa makanan dari orang asing.
3. Beri pengertian kepada anak kita agar langsung pulang ke rumah sepulang sekolah.
4. Beri pengertian kepada anak kita agar tidak naik kendaraan orang tidak dikenal, ataupun yang dikenal, tanpa memberitahu dulu orangtua. Dengan alasan apapun.
5. Hindari tempat-tempat sepi dan gelap, apalagi kalau kita sendirian.
6. Jika di suatu tempat dimintai pertolongan oleh orang yang tidak dikenal, sedangkan kita sendirian, dahulukan kewaspadaan. Tidak sedikit orang yang pura-pura minta pertolongan, kemudian menyergap penolongnya dan mencelakakannya (kematian sisi kemanusiaan ini).
7. Sebisa mungkin, berbaurlah dengan orang lain. Jangan sendirian. Karena kejahatan tidak akan terlaksana jika tidak ada kesempatan untuk melakukannya.
Di atas adalah beberapa tips yang tiba-tiba saja saya ingat. Mudah-mudahan saja para pelaku kejahatan itu cepat tertangkap. Sungguh biadab mereka. Bahkan, mungkin, andai saya bisa mencaci, sudah saya caci maki mereka dalam hati. Apapun alasannya, menculik, membunuh orang tak berdosa, dan mengambil organ tubuhnya sangat-sangat biadab!
Semoga Allah membuka hati mereka dan melemahkan semangat kejahatan mereka. Aamiin.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.