|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Senin, 23 Agustus 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Meyla Farid
Di sebuah pagi yang segar. Cerah. Cuaca sangat bersahabat. Burung-burung kecil berkicau di atap rumah. Bahkan, satu dua ekor sedang bertengger di bentangan kawat kabel PLN di atas sana. Udara baru saja disiram gerimis malam tadi, dan baru selesai 'dimandikan' setelah subuh. Segar. Coba engkau ke luar, dan hirup udara dalam-dalam. Inilah rasa udara yang segar itu, kawan. Pagi hari yang cerah di desaku setelah gerimis semalaman.
Aku duduk di dalam kamarku, yang letaknya paling depan. Dinding luar kamarku adalah batas teras depan rumah. Kaca jendela berbentuk persegi empat yang memanjang, menghadap langsung ke jalan. Dari balik kaca jendela ini aku dapat melihat pemandangan di depan rumah. Melihat lapangan, melihat bangunan madrasah mungil tempat anak-anak TKA/TPA belajar, melihat mesjid yang baru selesai tahun ini direnovasi dengan bantuan dana dari orang dermawan dari Arab sana. Mesjid yang letaknya di samping lapangan tadi. Mesjid ini memiliki semacam kubah yang dicat berwarna kuning keemasan. Pagar besinya sendiri merupakan hasil gotong royong sumbangan wakaf warga sekitar, karena saat pembangunan mesjid itu ternyata dana dari orang Arab yang dermawan masih kurang (kurang untuk membeli pagar saja).
Burung-burung kecil yang riang, masih bernyanyi di atas bentangan kabel kawat di depan rumah. Juga sesekali ada yang terbang mengunjungi pepohonan di halaman-halaman rumah sekitar. Burung-burung yang riang, yang tak pernah lelah bersyukur dan bertasbih kepada Tuhannya. Bagaimana denganku? Aku yang sedang menulis 'basa- basi' di pagi hari dan sedang belajar meneladani rasa syukur di setiap ciptaan-Nya. Aku yang merasa begitu jauh, dan tak berarti dibandingkan semua kesederhanaan alam yang kusaksikan di pagi ini.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.