|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Selasa, 10 Agustus 2010 pukul 20:25 WIB
Penulis : Meyla Farid
Gigi-gigi yang tajam merobek dan mencabik daging yang berlumuran darah merah itu. Tanpa ampun, hewan-hewan buas itu mencabik-cabik mangsanya. Darah menetes-netes dari taringnya. Suara geraman penuh nafsu saling bersahutan diantara mereka. Mereka berkerumun menggerogoti daging yang sudah tidak jelas dari makhluk apa, saking daging yang mereka cabik-cabik itu sudah sangat tidak berbentuk asalnya. Tinggal darah segar yang menetes-netes melumuri daging daging itu.
Aku ngeri. Hewan-hewan itu sangat buas. Sekilas seekor dari mereka menoleh, dan kilat tajam kedua matanya memandangku. Lalu berpaling lagi menghadapi daging yang ia cabik dengan bernafsu.
Darah. Menetes-netes. Gigi-gigi yang tajam. Erangan geram. Kilat tajam mata hewan. Daging yang robek dan sudah tak terwujud. Hanya darah. Dan nafsu mengenyangkan perut dengan sobekan-sobekan daging itu.
Mereka adalah gerombolan serigala. Tak ber-rasa. Tak berhati. Tak punya empati. Dan aku, sebenarnya, salah satu dari gerombolan itu. Haus dan buas. Ya Tuhan!
Ya… saat melihat berita tentang aib orang lain yang terus-terusan diekspos. Bersorak sorai orang. Membicarakan keburukan yang sudah jelas memang buruk. Terlalu berlebihan. Apa yang mereka, kita, inginkan? Menonton drama pengadilan yang tiada habisnya. Mengapa juga drama itu sangat panjang diputar?
Ah. Terlalu buas kita. Menghakimi kesalahan orang. Yang, adalah dosa pribadinya dengan Tuhan. Kenyataannya, Negara kita bukan Negara dengan berdasarkan hukum agama. Segala bentuk keadilan itu, tanggungjawab pemerintah yang mewakili Negara. Lalu, kita hanya menonton. Dan bersumbangsih ikut memperluas berita keburukan itu. Senangkah, melihat darah dan daging-daging itu terkoyak? Senangkah, saat kita sedang bernafsu membicarakan mereka tanpa henti seakan-akan dengan begitu kita sangat puas sampai tertawa tergelak-gelak? Perbuatan seperti itu adalah ibarat memakan daging yang sudah tak bernyawa. Tak lebih baik. Karena kita hanya mencabik-cabik. Dan mengunyah keburukan atas bangkai yang sudah membusuk atau masih mengalirkan darah segar.
Kita adalah serigala. Di tengah berita infotainment yang berdendang riang menyanyikan lagu keburukan. Tanpa filter.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.