HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Beri Aku Waktu
20 September 2010 pukul 17:50 WIB
Madu untuk Perawatan Luar
16 September 2010 pukul 20:35 WIB
Terong Kecap 'Ungu'
5 September 2010 pukul 19:30 WIB
Indonesiaku Sayang
4 September 2010 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 2 Oktober 2010 pukul 16:55 WIB

Restu Orangtua

Penulis : Meyla Farid

Sebelum beraktivitas hari ini, saya sempatkan membuka internet dan ngeblog seperti biasa. Tiba-tiba terlintas sebuah topik di kepala saya. Topik yang cukup serius, terutama bagi mereka yang sedang atau ingin mencari pasangan untuk hidupnya. Tiba-tiba saya ingin merangkum beberapa pengalaman saya dan membagi hikmahnya dengan pembaca sekalian.

Tahukah, teman? Allah telah mengisyaratkan bahwa ridha orangtua adalah ridha-Nya juga. Dan murka orangtua adalah murka-Nya juga. Karena itu dalam hal mencari 'pasangan jiwa' pun, keridhaan orangtua tidak dapat kita pungkiri.

Rasanya tidak etis jika saya mengambil contoh dari pengalaman hidup orang lain. Tapi sekedar berbagi hikmah, tanpa menyebutkan nama perorangan, beberapa peristiwa tentang restu orangtua sangat penting, ini sudah terbukti pada beberapa orang yang saya tahu (tidak begitu saya kenal secara pribadi).

Alkisah seorang wanita yang bernama 'X', dia keukeuh menjatuhkan pilihannya kepada seorang pria idamannya yang jelas-jelas tidak disetujui oleh orangtuanya. Mungkin karena faktor satu dan lain hal, atau mungkin karena 'seburuk-buruknya juga orangtua, sebenci-bencinya juga orangtua', akhirnya orangtua sang wanita tersebut mengizinkan putrinya menikah dengan sang pria. Meskipun, dalam prosesnya, sang orangtua tetap tidak memberi restu. Kemudian pernikahan pun terjadi. Lalu apa seterusnya? Kehidupan rumah tangga mereka ternyata banyak rintangan dan pada akhirnya berujung pada perceraian secara tidak baik-baik.

Orangtua. Kadang penilaian mereka terasa sangat 'ekstrim' bagi beberapa anak muda sekarang. Tapi saya berani mengatakan di sini, mereka pasti mempunyai pertimbangan dan alasan tertentu mengapa mereka seperti demikian. Alasan yang keseluruhannya disematkan untuk kemaslahatan hidup anaknya semata. Tentang ini, kita yang lebih tahu dan mengenal orangtua 'jenis' apa orangtua kita. Apakah mereka orangtua yang bijaksana atau bagaimana. Kalau kita mengenal mereka dengan bijaksana, tentu tidak baik sekali andai kita lebih 'memihak' orang lain yang baru kita kenal beberapa lamanya dibandingkan orangtua kita.

Beberapa tahun ke belakang, saya punya pengalaman serupa. Tahun sekian, saya pernah mengenalkan seorang teman pria kepada orangtua. Pria ini, sengaja datang ke rumah saya karena ingin bertemu dan bersilaturrahim dengan orangtua saya. Berhubung ketika itu hati saya pun sudah condong kepadanya, saya mengiyakan dan mengizinkannya ke rumah. Ketika itu saya pulang sendirian, dan keesokan harinya sang pria menyusul sendirian (mencari-cari alamat rumah saya sendiri). Ketika sampai di rumah saya, orangtua saya pun menerimanya dengan tangan terbuka.

Waktu itu dia kembali pulang selepas maghrib. Sepulangnya orang tersebut, orangtua saya lalu bertanya tentang keseriusan hubungan kami kepada saya pribadi. Apakah saya serius, apakah dia benar-benar serius. Singkat cerita, orangtua saya memberi lampu hijau. Namun di kemudian hari ternyata takdir berbicara lain. Saya dan pria tersebut belum berjodoh sampai sekarang. Entah, sekarang kabarnya bagaimana saya pun tidak tahu. Ini hanya sekelumit kisah yang pernah terjadi saja.

Pengalaman kedua, sekitar tiga tahun setelah pengalaman pertama, saya mengenalkan lagi seorang pria kepada orangtua. Kali ini entah mengapa orangtua saya memberikan lampu kuning. Tidak seterang seperti kepada yang pertama dahulu. Meskipun, karena masih lampu kuning, saya tidak dilarang berteman dengannya. Namun pada akhirnya, di kemudian hari penilaian orangtua saya terbukti. Setelah menjaga jarak dengannya, saya dapat melihatnya. Banyak perbedaan yang sangat signifikan antara saya dengannya, terutama perbedaan prinsip hidup. Karena itu saya berterima kasih kepada orangtua saya yang telah memberikan lampu kuning sebagai peringatan.

Penghujung tahun kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba lagi. Kali ini saya tidak membuka 'peluang' atau sejenisnya. Hanya saja ketika ada seorang pria menyatakan keseriusannya, saya izinkan dia mencoba. Tapi ternyata keraguan saya akan kepribadian orang tersebut juga menjadi keraguan orangtua saya. Setelah bertemu dengan teman saya tersebut, orangtua saya langsung memberi lampu merah. Meskipun, saya bercerita bahwa teman saya itu baik. Orangtua saya tetap memberikan lampu merah. Tapi tidak di depan teman saya secara langsung, karena orangtua saya sangat menghargai orang yang bertamu ke rumahnya. Orangtua saya hanya berkata, "Mungkin dia memang baik, tapi 'jalur'nya berbeda dengan kita." Entah apa yang dimaksud 'jalur' oleh orangtua saya. Secara tersirat, orangtua saya memberitahu bahwa menurut penilaian mereka, 'agama' sang teman yang ingin kenal dekat dengan saya itu 'kurang'.

Setelah diberitahu demikian, saya tidak ngeyel lagi. Juga tidak memberikan kemungkinan kepadanya untuk lebih dekat lagi. Karena di kemudian hari saya pun telah membuktikan kata-kata orangtua saya tentang sang teman itu benar.

Kita dapat menilai orang lain dengan objektif ketika kita tidak dekat lagi dengannya. Atau ketika kita menghindarinya. Biasanya akan tampak karakter-karakter tersembunyi selama ini. Entah kita dapat melihatnya lewat sikap orang itu, atau melalui cara berperilakunya.

Pengalaman (kalau bisa disebut pengalaman) itu saya jadikan pelajaran. Seandainya ada seseorang yang menyatakan keseriusannya kepada saya, poin pertama yang akan saya lihat adalah restu dari orangtua. Entah hati saya condong kepadanya atau tidak, saya akan menempatkan restu orangtua di atas penilaian saya pribadi. Ngomong-ngomong, sebenarnya penilaian orangtua saya hampir sama dengan penilaian hati kecil saya sendiri.

Mungkin pembaca ada yang menilai saya 'ribet' dalam hal ini? Tidak sama sekali. Di 'kasus' kedua dan ketiga sebenarnya hati saya pun memberikan alarm. Karena itu ketika orangtua saya memberikam lampu kuning dan merah, saya bisa menerima hal itu. Bukan berarti banyak syarat juga. Ketika teman yang pertama pulang, yang pertama ditanyakan orangtua saya adalah, "Shalatnya gimana? Suka shalat kan?" Hanya itu. Dan orangtua seperti orangtua kita, tidak bisa dibohongi dengan 'rekayasa' atau pura-pura. Jadi sangat tidak bijaksana kalau kita tidak mengacuhkan pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh orangtua. Meskipun, pada prakteknya, orangtua saya sendiri selalu menyerahkan keputusan akhir di tangan saya.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko Prasetyo | Editor Bahasa
Tulisan-tulisan di KotaSantri.com bagus dan sering dijadikan acuan oleh banyak pembaca. Saya memahaminya karena kebetulan juga berkecimpung di media serta punya banyak teman pembaca KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1398 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels