|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Selasa, 26 Oktober 2010 pukul 20:50 WIB
Penulis : Meyla Farid
Raja Mesir mengangkat pemuda Yusuf yang berparas ‘cantik’ setelah menemukannya dari dalam sumur tempat ia dibuang oleh saudara-saudaranya. Dalam naungan istana, pemuda Yusuf tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tampan dan baik hati. Banyak wanita yang tergila-gila karena ketampanannya tersebut. Termasuk istri sang raja, yang bernama Zulaikha.
Setiap malam dan siang, yang dilakukan Zulaikha adalah mendamba mendapatkan cinta Yusuf. Sayang, Yusuf sangat teguh imannya. Tidak terbersit di fikiran Yusuf untuk berselingkuh dengan istri ayah angkatnya.
Zulaikha pun patah arang. Suatu malam, dia mencoba merayu Yusuf. Namun dengan tegas Yusuf yang imannya kuat menolak, dan berlari menuju pintu keluar. Zulaikha mencoba menarik pakaiannya hingga robek. Saat itulah Raja memergoki mereka. Dengan malu Zulaikha pun langsung menuding ke arah Yusuf, "Dia merayuku!" Sang raja yang lebih mempercayai istrinya pun menelan mentah-mentah tudingan Zulaikha. Sementara Yusuf tertunduk diam. Raja menyuruh prajurit memasukkan Yusuf ke dalam penjara sebagai hukuman.
Di dalam penjara, Yusuf banyak shalat dan berdzikir. Dengan tulus dia memohon ampunan kepada Allah SWT, meskipun sebenarnya kejadian dengan Zulaikha bukanlah perbuatannya. Rupanya, Allah SWT pun mendengarkan do’anya. Melalui perantaraan mimpi, Yusuf yang berhasil mengartikan mimpi sang raja pun akhirnya dibebaskan.
Tahun demi tahun berlalu. Kini Yusuf telah menjadi seorang Nabi, dan seorang raja yang berwibawa.
Suatu ketika Nabi Yusuf AS berjalan-jalan di pemukiman penduduk. Saat itu ia mendengar suara penuh kesedihan seorang wanita dari arah kerumunan penduduk, "Terberkatilah Yusuf dan terkutuklah Zulaikha."
Suara penuh sindiran dan kesedihan itu menggugah perasaan Nabi Yusuf. Dia pun mencari-cari sumber suara tersebut, dan nampaklah seorang wanita yang cukup berumur, rambutnya mulai memutih dan kulitnya mulai termakan usia. "Subhanallah, Allahu Akbar! Engkaukah Zulaikha?" tanya Nabi Yusuf dengan takjub. Wanita jelita yang dahulu menjadi ibu tirinya dan sempat memfitnahnya serta memasukkannya ke dalam penjara itu, sekarang keadaannya sudah berubah drastis. Usia dan kemiskinan rupanya telah menggerogoti kecantikan wanita tersebut. Wanita itu tertunduk.
Rupanya, setelah Zulaikha memfitnah pemuda Yusuf, ia sangat menyesal dan sering merasa bersalah. Penyesalan itu terus menggerogoti dirinya. Zulaikha pun akhirnya bertaubat, dan seiring roda nasib yang mulai berputar, ia menjadi miskin dan kehilangan segala kebanggaannya.
Saat melihat Zulaikha, entah mengapa hati Nabi Yusuf sangat tersentuh. Ia pun menerima wahyu untuk menikahi Zulaikha. Maka dibawalah Zulaikha ke istana. Nabi Yusuf pun berdo'a kepada Allah SWT untuk memaafkan Zulaikha, dan mengembalikan kecantikan serta kemudaannya. Atas izin-Nya, Zulaikha akhirnya kembali seperti Zulaikha bertahun-tahun yang lalu itu. Cantik, dan mempesona. Dengan penuh syukur, Zulaikha bersujud kepada Allah SWT. Airmata Zulaikha tak berhenti ketika bersujud, bersyukur, dan memohon ampunan atas dosanya yang telah lalu.
Di malam pengantin Nabi Yusuf dan Zulaikha pun, Nabi Yusuf dibuat begitu terkesan dan geregetan dengan lamanya sang pengantin Zulaikha melaksanakan shalat dan berdo'a. Bahkan, saat itu Nabi Yusuf yang menarik Zulaikha, dan Zulaikha tersenyum sambil menitikkan airmata dan berkata, "Mahasuci Allah, Zat Yang Membolak-balikkan hati. Dahulu aku yang memaksamu, wahai Yusuf, sekarang engkau yang memaksaku!"
Demikianlah, cinta 'dua orang' Zulaikha. Orangnya sama, namun jiwa dan hatinya berbeda. Zulaikha yang pertama, mencintai Yusuf dengan nafsu. Sedangkan Zulaikha yang kedua, mencintai Yusuf atas dasar cintanya kepada Allah SWT.
Ternyata, ketulusan, akan berbalas ketulusan. Dan hanya kepada Allah bahkan memohon cinta dari hamba-Nya, karena hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati setiap manusia.
Wallahu a'lam.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.