|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Senin, 8 November 2010 pukul 22:00 WIB
Penulis : Meyla Farid
Setelah membaca novel Andrea Hirata, rasa rinduku pada guru-guru pertama dalam kehidupanku muncul dengan dahsyatnya. Kenangan-kenangan berlalu lalang di kepalaku. Lebih tepatnya, di hatiku.
Sedikit ingin mengenang mereka, orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Tak bisa dipungkiri, pengajar sekaligus pendidik pertama bagiku adalah ibuku sendiri. Sekarang, setelah usiaku 'dewasa', aku mulai mensyukuri segala hal yang berkaitan dengan masa kecilku.
Guru pertamaku adalah ibuku. Darinya aku diajari cara mengaji, membaca huruf-huruf Arab sampai aku benar-benar bisa membaca rangkaian kalimat dalam huruf Arab tersebut. Pelajaran mengaji ini yang menjadi bekalku ikut sekolah madrasah dan pengajian sehabis maghrib setiap hari.
Ibuku juga mengajarkan cara membaca huruf a,b,c, dan sebagainya. Juga cara berhitung sederhana sebelum aku masuk sekolah. Ibuku benar-benar hebat, setidaknya aku mengetahuinya saat ini, setelah dewasa ini. Bagaimana tidak, dengan tiga orang anak yang usianya masing-masing terpaut hanya 2 tahun, ibu bisa mengajari kami pelajaran agama sekaligus pelajaran sekolah umum. Dari ilmu dasar yang diajarkan ibu itulah aku selanjutnya tidak mengalami kesulitan berarti saat pertama kali belajar di sekolah.
Guruku selanjutnya adalah guru yang mengajarku ketika masuk kelas satu SD (Aku tidak masuk Tk dulu, tapi langsung SD). Namanya Bu Diyah, seorang wanita 40 tahunan yang berkacamata dan berwajah keras. Pertama kali melihatnya, aku menilai Bu Diyah orang yang galak, tapi ternyata kesan pertama dan apa yang diperlihatkan secara lahiriah tidak selalu benar. Tahun-tahun selanjutnya aku mengenal Bu Diyah, ternyata orangnya sangat baik meskipun dalam berbicara memang sangat tegas.
Banyak sekali wajah para guru yang berseliweran di kepalaku, tapi entah mengapa, lagi-lagi jariku macet hanya bisa menulis sampai di sini.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.