HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
PRT Juga Manusia
3 November 2010 pukul 16:40 WIB
Cinta 'Dua' Zulaikha
26 Oktober 2010 pukul 20:50 WIB
Air, Kebutuhan Primer
14 Oktober 2010 pukul 16:20 WIB
Aku, Perahu Kertas
11 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Prasangka
5 Oktober 2010 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 8 November 2010 pukul 22:00 WIB

Guru Pertamaku

Penulis : Meyla Farid

Setelah membaca novel Andrea Hirata, rasa rinduku pada guru-guru pertama dalam kehidupanku muncul dengan dahsyatnya. Kenangan-kenangan berlalu lalang di kepalaku. Lebih tepatnya, di hatiku.

Sedikit ingin mengenang mereka, orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Tak bisa dipungkiri, pengajar sekaligus pendidik pertama bagiku adalah ibuku sendiri. Sekarang, setelah usiaku 'dewasa', aku mulai mensyukuri segala hal yang berkaitan dengan masa kecilku.

Guru pertamaku adalah ibuku. Darinya aku diajari cara mengaji, membaca huruf-huruf Arab sampai aku benar-benar bisa membaca rangkaian kalimat dalam huruf Arab tersebut. Pelajaran mengaji ini yang menjadi bekalku ikut sekolah madrasah dan pengajian sehabis maghrib setiap hari.

Ibuku juga mengajarkan cara membaca huruf a,b,c, dan sebagainya. Juga cara berhitung sederhana sebelum aku masuk sekolah. Ibuku benar-benar hebat, setidaknya aku mengetahuinya saat ini, setelah dewasa ini. Bagaimana tidak, dengan tiga orang anak yang usianya masing-masing terpaut hanya 2 tahun, ibu bisa mengajari kami pelajaran agama sekaligus pelajaran sekolah umum. Dari ilmu dasar yang diajarkan ibu itulah aku selanjutnya tidak mengalami kesulitan berarti saat pertama kali belajar di sekolah.

Guruku selanjutnya adalah guru yang mengajarku ketika masuk kelas satu SD (Aku tidak masuk Tk dulu, tapi langsung SD). Namanya Bu Diyah, seorang wanita 40 tahunan yang berkacamata dan berwajah keras. Pertama kali melihatnya, aku menilai Bu Diyah orang yang galak, tapi ternyata kesan pertama dan apa yang diperlihatkan secara lahiriah tidak selalu benar. Tahun-tahun selanjutnya aku mengenal Bu Diyah, ternyata orangnya sangat baik meskipun dalam berbicara memang sangat tegas.

Banyak sekali wajah para guru yang berseliweran di kepalaku, tapi entah mengapa, lagi-lagi jariku macet hanya bisa menulis sampai di sini.

http://meylafarid.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aini Mardiyah | Mahasiswa
Di sini tempat untuk kamu-kamu yang ingin memanaj qalbu, artikel-artikel di web ini Insya Allah bermanfaat. Hehehe... Ada tulisan ane juga low!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1033 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels