QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Cinta 'Dua' Zulaikha
26 Oktober 2010 pukul 20:50 WIB
Air, Kebutuhan Primer
14 Oktober 2010 pukul 16:20 WIB
Aku, Perahu Kertas
11 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Prasangka
5 Oktober 2010 pukul 18:00 WIB
Restu Orangtua
2 Oktober 2010 pukul 16:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 3 November 2010 pukul 16:40 WIB

PRT Juga Manusia

Penulis : Meyla Farid

Sebutan pembantu, sekarang saya agak jengah mendengarnya. Beberapa keluarga yang saya kenal di sini, agak kurang pas menempatkan posisi dan tugas seorang pegawai rumah tangga (PRT). Saya mengenal sebuah keluarga yang 'terhormat' kedudukan sosialnya. Selama 6 bulan mengenal keluarga tersebut, cukup banyak yang saya ketahui tentang bagaimana anggota keluarga itu memperlakukan dua orang PRT di rumahnya. Kedua orangtua di rumah tersebut sih biasa-biasa. Yang tidak biasa dan membuat saya kaget adalah perlakuan anak-anaknya. Kalau anak-anak tersebut sedang ada masalah, mereka sering melampiaskannya pada para PRT. Yang saya tahu, PRT-PRT itu suka dimarahin habis-habisan plus kata-kata kasar seperti (maaf) anjing, babi, dan sebagainya. Saya tidak habis pikir, bagaimana anak-anak yang masih usia sekolah itu berani mengucapkan kata-kata kasar itu?

Bahkan seminggu yang lalu, salah satu PRT hampir mau berhenti bekerja dari rumah itu. Waktu saya tanya alasannya, PRT yang satu lagi cerita, anak sulung keluarga itu menjambak, memukuli, dan menyiram PRT yang mau berhenti itu di kamar mandi. Tapi karena ibunya memintanya untuk tetap tinggal, PRT itu tidak jadi berhenti. Saya hanya salut, apa karena sudah biasa diperlakukan seperti itu, si mbak bisa bertahan bekerja di sana? "Ya kalo cari kerja lain susah. Saya udah 6 tahun ikut ibu, jadi sudah tahu karakter anaknya. Ibu sendiri pernah memohon-mohon agar saya tidak keluar dari sini. Saya kasihan sama ibu aja, ibu kan baik," kata si mbaknya. Saya benar-benar salut. Kalau menurut saya sih, berhenti saja. Daripada direndahkan seperti itu. Tapi kenyataan tidak semudah itu bagi para PRT asal Jawa Tengah ini.

Memang, tidak sampai menganiaya berat. Tapi tetep saja kan, PRT juga punya perasaan sebagai manusia. Kadang saya greget juga, di jaman sekarang, dimana perbedaan sosial sudah banyak diruntuhkan, tapi masih ada juga orang-orang yang menganggap PRT sebagai 'babu' betulan. Kalau seorang sukses berpikir, salah mereka sendiri tidak maju dalam hidupnya, pecundang dalam persaingan, hingga jadi pembantu nasibnya, dan pembantu pantas jadi pekerjaan orang-orang pecundang seperti itu, karena tidak bisa bersaing dalam hidup. Tapi bagaimana, jika Allah memang sudah menetapkan ada orang-orang yang sejak lahir sampai dia meninggal, hanya diberi 'kesempatan' dan hidup sebagai PRT. Tidak diberi pengetahuan dan peluang lain. Tidak seperti mereka yang diberi kesempatan mengenal ilmu untuk hidup lebih 'baik'. Bukankah, Allah menciptakan keragaman itu justru untuk saling menolong?

Coba bayangkan seandainya orang-orang berada yang sibuk waktunya dengan bisnis siang malam, bagaimana mereka bisa menjaga rumah dan anak-anak mereka? Kalau tidak ada PRT, rumah orang-orang sibuk itu akan berantakan, tidak terurus, baju kotor tidak dicuci dan tidak disetrika karena tidak ada waktu. Mungkin anak-anak mereka yang terpaksa harus sendirian di rumah dengan kesepian tanpa ada yang menemani (PRT). Jadi, PRT ada untuk membantu. Tidak kecil peranannya dalam kehidupan majikannya. Tanpa PRT, kehidupan para majikan akan benar-benar kacau. Seharusnya kesadaran akan perbedaan ini makin membuat kita bisa saling menghargai. Tapi kenyataannya masih banyak kasus-kasus penganiayaan pada PRT, baik besar atau kecil.

Namun tidak semua keluarga yang memiliki PRT seperti itu. Salah satu keluarga murid saya, memiliki beberapa PRT. Dan ternyata anak-anak dalam keluarga itu sangat menghargai mereka, bahkan seperti kepada saudara sendiri, bergurau, dan sebagainya. Tidak ada 'gape' sama sekali, sampai-sampai saya awalnya mengira mereka memang saudara keluarga orangtuanya. Mudah-mudahan saja semakin sedikit, kalau bisa tidak ada lagi, orang-orang yang memperlakukan PRT di rumahnya dengan semena-mena.

"Sesungguhnya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan tolong menolong."

http://meylafarid.multiply.com

Suka
Akhmad Muhaimin Azzet menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1423 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels