|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 15 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Di sebuah metromini, dalam perjalanan dari Pasar Rebo ke Blok A, saya melihat dua sosok anak yang harus 'bekerja' untuk membantu orangtuanya dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sosok pertama adalah seorang anak yang 'bekerja' sebagai kernet metromini nomor 76, dan sosok kedua adalah seorang anak yang 'bekerja' sebagai 'sutradara' topeng monyet keliling. Keduanya berusia sekitar 10-12 tahunan.
Saat itu, saya duduk di kursi bagian belakang. Saya memperhatikan tingkah polah kernet tersebut. Tidak lama kemudian, naik seorang anak dengan membawa pikulan yang banyak. Setelah diperhatikan, rupanya anak tersebut seorang 'sutradara' topeng monyet keliling. 'Sutradara' tersebut begitu gesit ketika membawa pikulan, yang menurut saya sangat berat, ke dalam metromini. Pun ketika mengaturnya agar tidak menghalangi penumpang yang lain.
Ketika mereka berpapasan, kernet tersebut mempersilahkan sang 'sutradara' untuk duduk, "Duduk, Cil." Kebetulan saat itu masih ada kursi yang kosong. Tapi, sang 'sutradara' memilih duduk di atas pikulannya. Mereka pun sesaat berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan. Yang pasti, mereka terlihat akrab, walaupun tidak saling mengenal. Mungkin karena masih sebaya dan sama-sama harus 'bekerja'.
Sebagai kernet, anak tersebut terlihat lihai sekali. Ketika mencari penumpang, menarik ongkos dan memberikan kembalian, naik turun metromini, berdiri ketika metromini melaju, dan lain sebagainya. Ia terlihat begitu gesit dan seakan menikmati pekerjaannya sebagai kernet. Padahal, seharusnya, dalam usia tersebut, ia bisa menikmati masa sebagai anak-anak, baik itu bersekolah maupun bermain bersama anak-anak seusianya.
Sebagai 'sutradara' topeng monyet keliling, anak tersebut begitu cekatan dan kuat. Terbayang ketika harus berkeliling dengan membawa pikulan yang begitu berat dan berjalan berpuluh kilometer jauhnya. Ia pun harus siap menghadapi resiko jika dalam 'pementasannya' tidak ada penonton sama sekali atau jumlah penontonnya sedikit. Dan tentu, anak tersebut harus mempunyai keahlian dalam melatih binatang yang akan dipentaskannya.
Melihat kedua anak tersebut, saya merasa bersyukur, pada saat saya masih kanak-kanak, saya masih bisa menikmati masa kecil tanpa harus memikirkan bagaimana saya 'bekerja' untuk membantu orangtua. Pun saya merasa salut pada mereka berdua, di saat anak-anak sekarang hidup hedonis, tapi mereka dan juga anak-anak lain yang turut 'bekerja' untuk membantu orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup, mempunyai jiwa mandiri yang mungkin saja tidak dimiliki oleh anak-anak bahkan remaja saat ini.
Jika saja anak-anak seusia mereka sudah mandiri, tentunya tanpa ada unsur keterpaksaan dan eksploitasi, maka akan terlepas dari ketergantungan terhadap orang lain. Dan kemandirian mereka merupakan salah satu upaya 'pembelajaran' langsung akan roda kehidupan ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.