HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Ramadhanku
18 September 2009 pukul 19:45 WIB
Diberi Emas, Minta Berlian
15 September 2009 pukul 15:00 WIB
Berkorban itu Indah
1 September 2009 pukul 15:00 WIB
Tapi Tidak dengan Hatiku
13 Agustus 2009 pukul 17:27 WIB
Rejeki Tak Terduga
5 Agustus 2009 pukul 16:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 23 September 2009 pukul 15:00 WIB

'Mabuk' Ketupat

Penulis : Mujahid Alamaya

Selama lebaran kemarin, khususnya hari pertama lebaran, saya benar-benar tidak makan nasi. Sehari penuh, saya hanya makan ketupat sampai empat kali. Ya, karena ketika bersilaturrahim ke rumah saudara, saya disuguhin ketupat. Sebenarnya saya berusaha untuk tidak makan ketupat terlalu banyak, tapi karena merasa tidak enak ditawarin terus, akhirnya saya memakannya walaupun sedikit.

Keesokan harinya, entah kenapa, pencernaan saya menjadi terganggu. Rasanya tenggorokan menjadi tidak enak, apalagi ketika menelan makanan. Perut saya pun seperti melilit. Dan tentunya, hal ini mengakibatkan selera makan saya berkurang. Lagi-lagi, di hari selanjutnya, karena stok ketupat masih tersedia, mau tidak mau, saya harus memakannya. Mubadzir kalau sampai dibuang.

Melihat fenomena ketupat di hari lebaran, seperti yang saya alami, adalah merupakan sesuatu yang wajar. Tapi akan sangat tidak wajar jika sampai berlebihan. Faktanya, di beberapa rumah, banyak ketupat dan ‘teman-temannya’ yang tersisa. Entah sisanya tersebut dimasak lagi agar masih bisa dimakan atau dibuang begitu saja. Yang pasti, sampai beberapa hari setelah lebaran, saya masih melihat sisa-sisa dari makanan khas lebaran tersebut.

Saya jadi berpikir, kalau sampai tersisa begitu, apalagi kalau sampai dibuang, mungkin kita termasuk orang yang tidak bersyukur, karena telah menyia-nyiakan nikmat Allah SWT begitu saja. Tapi, alangkah lebih baik jika kita memasak ketupat dalam jumlah yang banyak, kemudian mengajak mereka yang kurang beruntung, seperti anak yatim dan dhuafa, fakir miskin di sekitar kita, untuk makan ketupat di rumah kita. Atau bisa juga kita yang mengantarkan ketupat ke tempat tinggal mereka. Dengan demikian, ketupat yang kita masak akan lebih bermanfaat. Insya Allah.

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raaf : 31).

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aryani | Karyawan Swasta
Salam kenal buat semua teman-teman penghuni KotaSantri.com. Sempat tau situs ini dari beberapa artikel yang dikirim oleh teman ke inboxQu. Tetapi, setelah dibuka banyak yang berguna buatQu. Semoga terus bermanfaat bagi sesama.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1260 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels