|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|





Ahad, 4 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Di sebuah foodcourt Blok-M Square.
Kalau saya boleh memilih, sebenarnya saya tak ingin pertemuan itu berlangsung pada saat itu. Menemui dirinya saat orang-orang sedang menunaikan ibadah shalat sunnah di malam bulan Ramadhan. Menunaikan ibadah shalat tarawih plus witir. Jujur, sebenarnya saya risih dengan pertemuan itu. Pertemuan antara dua makhluk berlainan jenis di malam bulan suci. Pertemuan dalam satu meja di sebuah foodcourt.
Menolak? Hal itu sempat terlintas dalam benak saya. Karena dari awal saya sudah enggan untuk melangkahkan kaki saya. Apalagi dari segi etika tata cara pergaulan yang Islami, bila ada sepasang anak manusia berlainan jenis bersatu dalam sebuah pertemuan di dalam satu tempat, maka orang ketiganya adalah setan.
Namun, sebelum saya menemui ukhti itu, saya terlebih dahulu berkonsultasi dengan kawan saya yang notabene satu khalaqah. Apalagi kawan saya itu sudah beristri. Mungkin ia bisa memberikan jalan untuk saya. Hingga akhirnya perbincangan saya dan dirinya terjadi.
“Gimana nih yang harus gue lakuin? Menemui dia atau nggak?” tanya saya meminta pendapatnya dari seberang sana. Mengunakan telepon.
“Ya, haruslah! Biar dia bisa dapat teman ngobrol sama dapat pencerahan dari lo. Siapa tahu dia sadar apa yang selama ini dia lakukan salah. Apalagi dia tahu bahwa masalahnya tidak seberat dari lo selama ini.”
Panjang lebar kawan saya itu memberikan masukan untuk saya. Apa saja yang harus saya lakukan dan saya utarakan jika nanti saya bertemu dengan ukhti itu. Dan akhirnya saya pun melakukan apa yang kawan saya sarankan.
“Thanks ya, bro!”
***
Akhirnya keluar juga airmata penyesalan itu.
Benar apa yang dikatakan kawan saya itu. Akhirnya saya mendengar juga curhatannya di foodcourt malam itu. Saya merasakan ada sesuatu yang perlu ditolong dan dibantu untuk dirinya. Rasa keprihatinan saya kepadanya makin tinggi, ingin membantu dan menyelesaikan apa yang sudah ia alami dan rasakan.
Saya bukanlah lelaki yang begitu peka terhadap hati seorang perempuan. Tapi saya turut merasakan apa yang dirasakan oleh ukhti itu, karena saya tahu apa yang dialaminya saat itu.
Dengan uraian airmata yang mengembun di kaca minusnya, saya tahu ia sangat menyesali segala tindakan dan ucapan yang dilakukannya. Ia merasa seperti tidak punya Tuhan dan iman yang sudah tak terjaga dalam dirinya. Padahal yang saya tahu, dia adalah ukhti yang sangat smart dan intelek.
Ia adalah lulusan dari sebuah universitas di Bandung yang cukup wah dan punya nama. Ia mengenal saya belum berapa lama ini. Mungkin karena saya kawan yang asyik dijadikan teman mengobrol, akhirnya ia sangat membutuhkan saya untuk mendengar ceritanya dibanding kawan sekaumnya, karena ia pernah mengalami hal yang amat mengecewakan ketika kaumnya telah membuka aibnya di sekitar orang-orang terdekatnya, hingga ia tak percaya dengan kaumnya itu.
Saya tak ingin mencampuri masalah intern-nya itu. Bagi saya, sudah dipercayai olehnya untuk menjadi teman curhatnya saja sudah lebih baik, dan ia bisa mempercayai saya tanpa pikir panjang. Apakah saya sama seperti kaumnya atau tidak? Tapi saya tetap memegang amanah apa yang ia katakan sebelum mengakhiri pembicaraannya.
“Lo janji ya jangan kasih tahu apa yang gue alami sama orang lain.”
“Insya Allah dan lo jangan lagi melakukan tindakan kayak begitu lagi, okay! Ingat, lo punya Tuhan dan masih banyak orang-orang di bawah lo. Kalau lo mau tahu, ikut gue ke yayasan yang sudah sebulan ini gue mengajar di sana.”
Foodcourt itu menjadi tempat sang ukhti mencurahkan apa yang selama ini membatu dan mengkristal di benak serta hatinya. Tempat yang sudah menjadi saksi bahwa ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan fatal lagi. Sayang, saya bukan orang yang halal baginya. Saya sadar dan mengetahui batasan itu. Cukup mendengar ceritanya dan menjadi pendengar yang baik, itu sudah lebih dari cukup. Dan berarti, ia benar-benar memberikan kepercayaan itu sepenuhnya kepada saya.
Hmm… Sebegitu larakah kau, ukhti?
Ulujami - Pesanggrahan, 19 Ramadhan 1430 H
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.