|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|





Jum'at, 4 September 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
"Janganlah kamu matikan hatimu dengan makan dan minum terlampau banyak. Sesungguhnya hati itu tak ubahnya seperti tanam-tanaman, dia akan mati jika terlalu banyak disiram dengan air."
Ketika ekor mata minus saya melihat ke arahnya, saat itu saya hanya geleng-geleng kepala. Di hadapannya begitu banyak makanan dan minuman. Ada nasi serta lauk pauk, plus kolak pisang, es buah, bubur kacang hijau, lalu teh manis. Saya yang saat itu baru menginjakan kaki ke rumah itu, benar-benar terkejut!
Hari itu, saya sedang berkunjung ke rumah kakak perempuan saya, yang masih berada di daerah Kebayoran Lama. Maklumlah, saat itu saya ingin sekali merasakan berbuka puasa bersama keluarga besar kakak saya. Ingin tahu bagaimana rasanya berbuka dengan keluarga besarnya. Ternyata di luar dugaan, saya benar-benar diberi ‘doorprize’. Doorprize kali itu bukan berbentuk benda atau cinderamata, melainkan diberi kejutan oleh ulah anak laki-laki kakak saya yang notabene keponakan saya. Dan itu semua benar-benar menjadi ciri khas anak-anak seusianya yang masih sembilan tahun.
Kebetulan, saat saya berkunjung ke rumah kakak saya, senja hampir tenggelam. Adzan maghrib hampir menggantung di ufuk cakrawala. Tinggal beberapa menit lagi. Tinggal menghitung menit, adzan maghrib akan segera dikumandangkan oleh takmir masjid dari balik pengeras suara.
“Itu buat siapa, kak?” tanya saya kepada kakak saya saat baru menginjakan kaki di rumahnya setelah sebelumnya memberi salam terlebih dahulu.
“Buat si Izal. Itu semua buat dia berbuka puasa,” jawab kakak saya sambil mengalihkan ekor matanya ke meja makan.
Ketika mendengar ucapan kakak, saya hanya bisa menelan air liur. Tak menyangka bahwa keponakan saya bisa seperti itu. Berbuka puasa sebegitu penuhnya. Benar-benar seperti orang yang sedang mengancam makanan dan minuman jika nanti berbuka puasa.
“Ohhh…” jawab saya singkat. Tak dapat berkata-kata lagi. Yang ada hanya keterkejutan yang masih tersisa dalam benak saya. ”Orangnya mana, kak,” lanjut saya.
Belum habis ucapan saya dijawab oleh kakak saya, tiba-tiba adzan maghrib sudah berkumandang. Dan tibalah keponakan saya itu yang entah habis dari mana, saya juga tidak tahu. Mungkin baru saja pulang dari rumah kawan mainnya.
“Eh, om kapan datangnya?” ucapnya saat sampai di rumah dan langsung menuju ke meja makan yang sudah tersedia hidangan untuk berbuka puasa.
“Baru saja!” seru saya.
“Sudah baca do'a berbuka belum?” kata saya lagi saat ia ingin mengambil es buah dari tangannya.
“Oya, Izal lupa, om.”
Kemudian ia pun segera berdo'a buka puasa.
Saya dan keluarga besar kakak saya pun berbuka puasa bersama-sama. Begitu juga dengan keponakan saya yang saat itu masih sibuk mengurusi makanan dan minuman yang sudah ada di hadapannya. Melihat tingkahnya seperti itu, mengundang saya untuk bertanya lagi.
“Emangnya habis tuh!” tukas saya sambil melihat ke arahnya dan ekor mata minus saya masih melihat makanan dan minuman yang sudah berjajar dengan rapi itu. Dan sebagiannya sudah ada yang habis dilahapnya.
“Ya, habis dong, om!”
Hukkk….
Saya hampir keselek ketika ia menjawab seperti itu.
“Lha, memangnya Izal tidak diajarkan sama guru agama di sekolah,” kata saya lagi penasaran dengan ucapannya itu.
“Iya, diajari sih, om. Kalau buka puasa jangan terlalu banyak. Nantinya saat shalat tidak bisa,” jawabnya sambil mengingat perkataan guru agamanya itu sambil terbata-bata.
“Nah, benarkan? Kalau berbuka secukupnya saja. Jangan seperti itu!”
“Tapi kalau sekarang bolehkan, om?”
Saya tak bisa berkata lagi. Hanya bisa tersenyum kecut ketika melihat ulahnya mulai kambuh kembali.
“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak Menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf : 31).
Ulujami - Jakarta, Akhir Agustus 2009
10 Ramadhan 1430 H
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.