Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Inilah Mimpiku!
6 Agustus 2009 pukul 18:33 WIB
Belum Jadian (Kok) Sudah Bilang Putus?
11 Juli 2009 pukul 16:30 WIB
Tanda Tangan Pertamaku
5 Juli 2009 pukul 17:48 WIB
Tak Ada Tausyiah Pagi Ini
27 Juni 2009 pukul 15:00 WIB
Demi Seperak Rupiah
17 Mei 2009 pukul 16:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 15 Agustus 2009 pukul 16:00 WIB

Loper Majalah Sampai Loper Buku

Penulis : Fiyan Arjun

"Jika kita memulainya dengan kepastian, kita akan berakhir dalam keraguan. Tetapi jika memulainya dengan keraguan dan bersabar menghadapinya, kita akan berakhir dalam kepastian." (Francis Bacon).

“Ini yang dulu buka loper majalah sama koran di depan jalan itu ya? Kok sekarang tidak buka lagi sih. Memangnya kenapa?”

Tiba-tiba ada seorang Ibu muda menegur diri saya saat pulang dari rumah kawan. Saya yang mendapatkan sapaan ramah itu langsung menyunggingkan senyuman. Lalu saya pun menjawab seadanya.

“Hmm... Habisnya harga majalah sama koran pada naik semua, Bu. Kalau pun saya harus menaikan harga, saya nanti tidak enak dengan para pelanggan saya. Makanya jalan satu-satunya memutuskan berhenti. Ya, selain menutup kerugian sekalian mencari pengalaman yang lain,” jawab saya kepada Ibu muda yang menyapa saya di tepi ruas jalan raya. Ia masih ingat betul dengan wajah pas-pasan saya ini sebagai si loper majalah, tabloid, dan koran saat.

“Sekarang di mana?” lanjutnya.

“Lagi usaha kecil-kecilan, Bu,” kata saya lagi. Dan Ibu muda tadi langsung berlalu dari hadapan saya dengan terlebih dahulu permisi untuk melanjutkan perjalanannya.

***

Menjadi loper majalah, tabloid, plus koran adalah profesi saya dulu, sebelum saya berkecimpung di dunia tulis menulis serta usaha yang baru saya rintis. Saya menjadi loper sejak sebelum krisis moneter menghantui negeri ini. Sekitar tahun 1997, saya memulai membuka lapak majalah, tabloid, plus koran. Kebetulan saat itu masih memakai seragam putih abu-abu, masih duduk di bangku kelas satu SMK jurusan Akuntasi.

Saya bersekolah sambil berwiraswasta dengan membuka lapak majalah, tabloid, plus koran. Semua itu saya lakukan dengan semaksimal mungkin. Saya atur waktu saya untuk mencari tambahan (uang saku) serta bersekolah. Saat itu saya masuk siang. Pukul 13.00 saya harus sudah sampai di gerbang sekolah. Kalau tidak, saya harus menerima hukuman dari guru piket, yakni harus mengelilingi lapangan upacara lima kali putaran. Itulah yang sering saya alami. Tetapi akhirnya guru-guru dan Kepala Sekolah mahfum juga. Mereka mau memaklumi saya. Saya diberi dispensasi soal waktu.

Waktu kerja saya memakai sistem rolling atau shift dengan adik laki-laki saya satu-satunya yang saat itu masih berseragam putih biru, kelas satu SMP. Kebetulan adik saya masuk pagi. Seusai pulang dari sekolah, jika tidak ada kegiatan, ia yang menjaga lapak di siang harinya. Di sore hari seusai saya pulang dari sekolah, saya baru menghitung keuntungan penjualan hari itu. Dan tentu saja saya memberikan beberapa persen kepada adik saya yang sudah menunggu lapak sebagai penambah uang saku.

Alhamdulillah, sejak saya membuka lapak, keuangan saya pun berubah dan bisa mencukupi. Saya bisa membayar uang SPP tanpa harus menunggak lebih dulu, sebelumnya kadang sampai dua bulan saya belum membayarnya. Bahkan saya masih membuka lapak versi anak pelajar. Ketika bel istirahat di sekolah, saya langsung ke luar kelas. Saya ambil meja kosong dan saya pajang majalah-majalah remaja.

Bukan itu saja, guru-guru di sekolah pun menjadi ‘korban’ untuk saya jadikan customer tetap dengan sedikit memaksa menawarkannya. Dan ternyata membuahkan hasil. Guru-guru saya ada yang menjadi pelanggan tetap.

***

Ternyata apa yang saya lakukan itu tak selamanya berjalan lancar. Sejak saya menjadi loper majalah, tabloid plus koran, hasil ujian saya jeblok. Pun dengan ulangan umum saya. Kalau pun ada yang bagus, paling hanya mata pelajaran Sastra Indonesia. Mungkin dari sinilah cikal bakal saya jadi penulis. Entahlah.

Hidup itu (memang) harus punya resiko. Selain hasil ujian dan ulangan yang saya terima, saya mengalami kerugian yang cukup membuat jantung saya kembang kempis saat merintis usaha tersebut. Saya mengalami kerugian lumayan besar, tidak balik modal.

Saat ini saya sedang merintis usaha penjualan pemesanan dan pengiriman buku. Pemesanan buku-buku melalui fasilitas online maupun offline yang saat ini sudah berjalan. Lagi-lagi, suka dan duka saya dapati pula di usaha yang saya rintis ini. Walau beda sistemnya, tapi tetap saja sama.

Resiko. Itulah setiap saya menjalani suatu usaha. Apalagi usaha pengiriman dan pemesanan buku-buku ini. Saya harus tahan banting dengan para pelanggan jika buku terkirim terlambat. Bukan itu saja, bahkan saya harus debat kusir kepada pelanggan jika sistem yang saya lakukan dengan cara mentransfer tak ditaati. Bahkan juga saya menerima klaim pedas dari para pelanggan. Tapi itu merupakan resiko saya sebagai jasa penjual buku-buku jika mengalami masalah. Semua itu tidak sampai mengarah pada saling merugikan, tetapi malah sebaliknya, saya menjalin silaturrahim kepada para pelanggan yang saya tidak ketahui keberadaannya sebelumnya.

Perjuangan menjadi wiraswasta memang benar-benar penuh dinamika, hingga membuat saya terus dan terus banyak belajar untuk menghadapi resiko yang mungkin akan datang kembali nantinya. Menjadi loper majalah, tabloid, koran, serta loper buku, bagi saya sama-sama menariknya, penuh tantangan dan pengalaman yang menakjubkan.

Ulujami - Pesanggrahan, Kamis, 13 Agustus 2009

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1758 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels