|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|



Ahad, 5 Juli 2009 pukul 17:48 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Sabtu, 13 Juni 2009, pukul 13.10 WIB, tepatnya di pusat pertokoan buku yang berlokasi di bilangan kawasan padat kendaraan, bukan padat penduduk, dan masih di kawasan pusat kota Depok, tidak sepertinya biasanya, ramai, banyak dikunjungi pengunjung buku. Dan itu membuat aku bahagia.
Ya, moment seperti itulah yang tak pernah aku lupakan seumur hidup, karena merupakan pengukir tinta sejarah perjalananku. Di sanalah aku merasa terharu sebagai seorang penulis baru, yang pertama kali menulis buku bersama ketiga kawan-kawan seperjuanganku yang begitu baik serta begitu banyak membantuku, hingga aku tak dapat melukiskan perasaan hatiku saat itu. Aku begitu terharu.
Di tempat itu pulalah acara seremonial launching buku pertamaku yang ditulis bersama ketiga kawan-kawan seperjuanganku digelar. Ya, walau dalam buku itu aku menulis secara ber-kwartet alias keroyokan, namun bagiku, ini merupakan suatu hal yang amat berharga untuk hidupku serta sebuah reward untuk diriku yang selama ini menjadi penulis dengan segala kerterbatasan sekaligus kekurangan fasilitas dalam menulis.
Aku tak lantas larut dalam situasi yang terus memparasit di dalam aktivitasku sebagai penulis. Sebaliknya, hal itu aku anggap sebagai cambuk sekaligus pecetut ghirah-ku agar aku tetap survive walau dalam keadaan apa pun. Halnya ketika aku menyelesaikan buku pertamaku itu, aku dengan segala upaya dan daya akhirnya dapat melakukannya, tentunya dengan disertai do'a dan dibantu oleh kawan-kawanku lainnya.
Aku bukanlah penulis sekaliber Seno Gumira Adjidarma, Danarto, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Djenar Maesa Ayu. Tiap kali mereka menulis, hasilnya selalu best seller serta memikat untuk dibaca. Kalau aku? Ah, siapa yang mau mengenal dan menoleh ke arahku! Mendengar namaku saja pasti akan bertanya-tanya, "Siapa ya? Ah, kayaknya nggak familiar di telinga deh!"
Mungkin pantas bila mereka mengatakan seperti itu. Toh, siapalah aku ini? Menulis dan menerbitkan satu buku saja Senin - Kamis, terlunta-lunta, apalagi dengan minimnya fasilitas untuk menulis. Tapi aku tak menyerah begitu saja, karena azzam-ku sudah membulat, apa pun akan kulakukan bila itu baik untuk diriku maupun orang lain.
Aku begitu banyak mendapatkan hikmah saat aku menyelesaikan buku pertamaku itu. Kini, aku tahu betapa beratnya menjadi penulis. Aku juga harus mulai benar-benar menghargai mereka (penulis buku), karena mereka adalah manusia-manusia pilihan Tuhan dengan karuniaNya (akal) yang mereka miliki, hingga bisa berbuat baik dan berguna bagi orang lain (pembaca). Kesabaran dan ketawakalan mereka diuji oleh Yang Mahakuasa, hingga akhirnya dapat menghasilkan karya yang gemilang. Tenaga, waktu, dan materi mereka perjuangkan hanya untuk sebuah mahakarya bernama buku.
***
“Mas, minta tanda tangannya,” terdengar sebuah sapaan yang membuat hatiku berdegup kencang tak karuan.
Aku masih tak percaya dengan sapaan yang mengarah kepadaku saat itu. Orang yang menyapaku itu ternyata ingin meminta tanda tanganku yang tak memiliki arti apa-apa. Apalah artinya sebuah tanda tangan dari seorang penulis pemula yang baru pertama kali menghasilkan karya berbentuk buku secara berkeroyok? Entahlah.
"Ya Rabb, apakah ini hanya bunga tidurku saja yang setiap malam aku gapai?" Aku terus menanyakan diriku dengan hal yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sungguh membuat aku tak kuasa, hingga kacamata minusku berembun.
Usai memberikan tanda tangan, usai pula acara itu, berakhir dengan sukses tanpa ada halangan yang begitu rumit. Lantas, apakah usainya acara itu, maka usai pula tugasku sebagai penulis? Ternyata tidak! Masih ada tugas-tugas lain yang sedang menungguku. Entah aku harus memasarkan buku itu, lalu mempromosikan kepada kawan-kawanku lainnya. Atau, aku harus menulis kembali lalu dibukukan, kemudian diterbitkan dan mengadakan launching seperti hari itu? Entahlah.
Kejadian tersebut mengingatkan aku pada sebuah potongan ayat Ilahi yang begitu membekas di hati serta membangkitkan semangatku, “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhan, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi : 109).
Ayat tersebut mengingatkan, agar aku jangan sampai terlena apalagi puas dengan apa yang aku hasilkan sekarang ini, karena jalanku masih panjang, sepanjang lautan tinta yang tak akan habis bila aku gunakan untuk menulis buku lagi.
Fy,
Mencoba untuk memberi yang terbaik.
Ciputat - Tangerang, 23 Juni 2009 Pukul. 01.13 dini hari.
Di sebuah kamar persegi 4X4 di kost seorang kawan!
Thanks to all my bro yang sudah mau direpoti. Sukses selalu!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.