|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|




Sabtu, 11 Juli 2009 pukul 16:30 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Cerita ini berawal dari sebuah pesan singkat yang saya terima melalui ponsel. Pesan singkat itu dikirim dari seorang wanita yang saya kenal melalui dunia maya. Ya, kami berdua hanya kenal via on-line, sama sekali belum bertatap muka secara live.
Mungkin ia sudah sudah kenal saya. Tahu tampang saya (yang menurut keponakan-keponakan saya, mungkin matanya sedang kelilipan debu, bahwa saya ini mirip aktor Bollywood), rupa saya, bentuk saya, maupun senyum close-up saya, tapi ia belum tahu hati saya, karena saya hanya sebatas, Senyumlah untuk semua orang tapi hatimu jangan…*
Ia mengetahui semua tentang saya hanya dari fasilitas tekhnologi modern bernama dunia maya. Entah, bisa itu melalui fasilitas facebook, blog, maupun chat Yahoo Messenger.
Pun dengan saya, hanya melihat dirinya melalui fasilitas itu pula. Jadi, kami berdua hanya kenal melalui dunia maya. Mungkin karena kami berdua menjalani sistem “silaturrahmi” dengan memakai fasilitas tersebut, maka merasa adem ayem saja, bahkan sampai berlanjut melalui SMS.
Memang saya akui, hubungan seperti ini tak baik. Mungkin saya bisa terjangkit virus yang tidak ada obatnya. Obatnya hanya satu dan tak bisa dijual di apotik apalagi di warung kelontong. Tak lain menjaga izzah dan azzam, itulah obatnya. Obat yang bisa melawan dan menghalau virus yang bernama virus merah jambu agar tidak sampai menjalar ke seluruh pembuluh darah saya. Bisa berabe nanti untuk memproteksnya!
Mungkin karena hubungan ini tak baik dan Tuhan masih sayang sama saya, maka dalam hubungan ini saya diberi cobaan. Cobaan itu adalah dalam bentuk kesalahpahaman kami berdua hingga mengakibatkan efek yang sangat besar. Sampai akhirnya, saat itu, kami berdua memutuskan tak akan menyapa lagi.
Saya kira, kami berdua satu sama lain cocok untuk saling mengisi jiwa-jiwa yang kosong ini. Ternyata itu hanya mimpi. Jiwa-jiwa kami tak bisa disatukan. Ada partikel-partikel negatif yang menyelubungi tubuh kami berdua. Hingga jiwa-jiwa kami tak bersih.
Mungkin Tuhan menggariskan bahwa dirinya bukan jodoh saya dan takdir mengatakan lain. Kami berdua memang sudah tak lagi cocok. Baik sifat, kepribadian, maupun prinsip. Dan hingga saya menulis kisah sentimentil ini, saya sudah tak berhubungan lagi, baik memakai fasilitas dunia maya maupun ber-SMS-an ria saling memberikan support maupun attention. Kini, kami berdua benar-benar tidak seperti dahulu lagi.
Begitu dosakah sampai tidak memaafkan saya? Sudah kalau begitu, saya pamit. Bye.
Itulah kurang lebih pesan singkat yang saya terima melalui ponsel dan cukup membuat saya terkejut, bahkan tak percaya bahwa ia mengirimkan pesan singkat seperti itu. Saya tak membalas pesan singkat itu, saya merenungi apa yang telah saya lakukan selama ini, padahal kami berdua tak ada ikatan sakral apalagi janji sehidup-semati.
Saya hanya bisa tawakal dan berpositif thinking saja tentang pesan singkat tersebut. Nothing to lose sajalah. Atau, jangan-jangan ia hanya mengetes kesetiaan saya? Atau, juga mungkin ini sifat wanita ketika sedang bete dan sedang kedatangan tamu. Entahlah. Tapi apakah saya patut menerima itu semua? Jadian juga belum kok sudah seperti itu.
Wanita-wanita, sungguh engkau makhluk yang susah dimengerti!
Ciputat - Tangerang, Penghujung Juni 2009
Note :
*) Lirik lagu Dangdut “Senyum dan Hatimu”-nya Ikke Nurjanah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.