|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|





Ahad, 23 Agustus 2009 pukul 17:30 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Sabtu, 16 Agustus 2009
Dalam Perjalanan Berbagi Ilmu
Dengan menaiki bus seusai Maghrib, saya langsung menggenapkan niat saya untuk pergi ke sebuah yayasan berbentuk ponpes yang berlokasi di daerah Kramat Jati, Jakarta Timur, dimana merupakan tempat baru saya untuk berbagi ilmu kepada para penghuni di tempat tersebut, sekaligus menjadi keluarga baru saya nantinya.
Saban malam Senin, saya akan mengajar menulis di tempat itu. Aneh, bagi saya yang masih minim ilmu ini, orang semacam saya bisa diperlukan oleh penghuni yayasan itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui akan kelebihan umatNya masing-masing.
Saya ingin berbagi ilmu yang saya miliki. Terlebih ketika saya ketahui bahwa yayasan itu dihuni oleh berbagai anak-anak dengan segala rupa kehidupan yang mereka alami. Ada yang ditinggal ayah-ibu mereka, putus sekolah, bahkan ada yang tidak mampu (kaum dhuafa). Benar-benar membuat saya ikut terharu sekaligus merasakannya.
“Ini Kak Fiyan ya? Sering dibicarakan di depan kelas oleh Kak Farik,” sapaan yang membuat saya terkejut ketika salah satu dari mereka berkata demikian.
“Iya, saya Kak Fiyan,” jawab saya sambil menyunggingkan simpul senyum ke mereka.
Berawal dari Rekomendasi Seorang Kawan
Ya, awal mula saya bisa hadir di tengah-tengah mereka itu karena seorang kawan yang merekomendasikan diri saya untuk berbagi ilmu di yayasan itu. Kawan saya sudah lebih awal mengajar bahasa Inggris di tempat itu.
***
Senin, 17 Agustus 2009
Mengajar Menulis di Hari Pertama
Pukul. 05.30 pagi saya pun mengajari mereka. Dengan rasa tak percaya, saya memberanikan diri berbicara di depan mereka.
“Apa kabar semua?” tanya saya kepada mereka.
“Baik, Kakkkk…” koor mereka serempak.
“Nah, sekarang diganti ya? Bukan baik lagi, tapi LUAR BIASA! Bagaimana? Siap kan?”
Mereka menuruti komando saya. Kompak.
Saat itu, saya seperti mengajarkan traning motivasi saja kepada mereka ketika saya bersorak menggantikan ‘yel-yel’ ucapan BAIK menjadi LUAR BIASA.
Satu jam sudah saya mengajar sekaligus bercengkerama bersama mereka. Mengenalkan diri saya, menceritakan hobi menulis saya yang gue banget, hingga sampai bisa menembus media, bahkan menulis buku. Bukan itu saja, saya pun memberikan ilmu seputar menulis yang baik dan benar.
Upacara Bendera yang Pertama Kali
“Tolong bagi guru-guru yang mengajar di yayasan, harap kumpul di lapangan. Sebentar lagi kita akan mengikuti upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Bagi para pengajar yang masih ada di kamar tidur, harap segera bersiap-siap.”
Instruksi dari kepala pengurus yayasan membahana seketika. Saya yang masih baru, tentu tak menghiraukan panggilan itu. Namun ketika kepala pengurus yayasan itu tak sabar menunggu para pengajar yang belum kumpul, akhirnya memeriksa kamar tidur satu-satu, termasuk kamar saya.
“Mas Fiyan harus ikut upacara. Kan Mas Fiyan sudah menjadi bagian dari kami,” katanya.
Ya, saya akhirnya ikut upacara juga hari itu. Upacara bendera, yang menurut saya sangat langka saya lakukan selepas Sekolah Tingkat Atas. Saya seperti kembali diingatkan masa-masa sekolah. Mengikuti upacara. Namun kali itu, saya bukan sebagai murid, melainkan pengajar. Dan saya bisa kembali menikmati upacara bendera merah putih. Bendera kebanggaan negeri saya, Indonesia. Tepat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64.
Tujuh Belasan Bersama Tangan-tangan Mungil
Pukul 10 pagi. Seperti sudah direncanakan sebelumnya, bahwa tepat pukul 10, para penghuni yayasan itu akan meramaikan Hari Kemerdekaan (Independence Day) Republik Indonesia dengan berbagai perlombaan. Saya yang sudah dianggap bagian dari mereka, akhirnya pun turut turun tangan menjadi panitia perlombaan. Saya bergabung dengan panitia yang sudah dibentuk sebelumnya oleh pengurus yayasan itu.
Ketika saya sedang semangat menjadi panitia perlombaan, mata minus saya tertuju kepada sosok bocah perempuan yang sedang melamun. Bocah perempuan itu masih sangat belia diri segi usia, sekitar sepuluh tahun.
“Lho, kok kamu tidak ikut lomba sih?” tanya saya ketika ia sedang sendiri duduk di bawah pohon jambu air.
“Nanti, kak, menunggu lomba balap karung,” jawabnya lugas.
“Oh, gitu ya. Memangnya bisa bawa karung? Nanti malah karung yang kebesaran,” canda saya.
“Oya, siapa namanya?” lanjut saya lagi menanyakan nama bocah perempuan itu.
“Nama saya Rika, kak!”
“Ya, sudah tunggu saja, ya. Kakak mau bantu kakak-kakak yang lainnya dulu.”
Tidak lama kemudian, bocah perempuan itu ikut merasakan kebahagiannya. Ikut perlombaan yang diinginkannya. Dan ia pun menikmati perlombaan balap karung.
***
Saya bahagia sekali dan tak ingin momen semacam itu cepat berlalu. Terlebih ketika saya bersama mereka untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Tujuh Belas Agustus-an. Saya sangat menikmatinya dan seakan jiwa raga saya telah menyatu kepada mereka, para penghuni yayasan itu.
Mereka, anak-anak itu, sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian kita. Jangan biarkan mereka terlantar begitu saja dan tumbuh sebagai generasi tak berguna.
Saya sadar, kontribusi saya untuk bangsa ini masih perlu dipertanyakan. Tapi setidaknya, dengan turut berbagi ilmu di tempat tersebut dan memperhatikan mereka, anak-anak generasi penerus bangsa, merupakan salah satu wujud kepedulian saya sebagai warga negara untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berguna bagi negara dan agama.
Kramat Jati - Ulujami, 16-17 Agustus 2009
Pukul 05.15 - 14.15 WIB
Untuk anak bangsa setanah air, "Merdeka!!!"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.