Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://12345.kotasantri.com
Bergabung
23 April 2009 pukul 03:58 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Penulis Freelance
Penulis buku Bela Diri for Muslimah : Siapa Bilang Perempuan Makhluk yang Lemah. Untuk bersilaturrahim, silakan kunjungi : http://sebuahrisalah.multiply.com atau FB / Imel : bujangkumbang@yahoo.co.id
Tulisan Fiyan Lainnya
Berbuka atau Pesta?
4 September 2009 pukul 16:00 WIB
Sepatu Hitam Faisal
25 Agustus 2009 pukul 15:15 WIB
Tujuh Belasan Bersama Tangan-Tangan Mungil
23 Agustus 2009 pukul 17:30 WIB
Loper Majalah Sampai Loper Buku
15 Agustus 2009 pukul 16:00 WIB
Inilah Mimpiku!
6 Agustus 2009 pukul 18:33 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 13 September 2009 pukul 15:45 WIB

Lebaran Tidak Lewat Sini

Penulis : Fiyan Arjun

Menghitung bilangan hari Raya Idul Fitri memanglah gampang untuk diucapkan. Bak selaksa membuang air liur tanpa lebih dahulu diproses. Dibuang lantas tak perlu dipikirkan lagi. Namun hal ini beda bila bulan Ramadhan sudah di penghujung hari. Sehingga tak terasa puasa sudah memasuki tiga pekan dari hari pertama berpuasa. Tinggal 7 hari lagi seluruh umat muslimin di dunia akan menuju hari Kemenangan. Menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri dengan suka cita nantinya.

Sayangnya, hal itu tidak dirasakan oleh orang yang sangat familiar untuk saya. Dialah kakak perempuan saya. Ia merasa dibuat pusing tujuh keliling bila memikirkan Hari Raya Idul Fitri. Atau, lebih dikenal dengan Hari Raya Lebaran. Dimana kakak saya itulah yang merasakan dampak dan efeknya bila hari raya itu tinggalah menjadi bilangan waktu yang akan segera tiba. Apalagi kalau bukan meluluskan permintaan baju Lebaran untuk anak perempuanya. Ironi memang!

“Memang puasa tinggal berapa hari lagi, Yan?” tanya kakak saya itu saat ia sedang membuat bumbu masak untuk lauk pauk berbuka puasa di tengah teriknya matahari yang sangat membakar kulit.

“Lha, memangnya nggak tahu kalau puasa tinggal berapa hari lagi?” jawab saya memastikan bahwa kakak saya itu memang benar-benar tidak tahu. Atau, memang ia lagi sibuk membuat bumbu masak, jadi tidak tahu-menahu sudah berapa hari puasa terlewati.

“Iya nih habisnya mikirin dagangan lagi sepi dan si Pritha minta baju Lebaran lagi. Pusing nih mpok, Yan!” seru kakak saya sambil mengoseng bumbu masak di dapur yang aroma baunya tercium sampai ke indera penciuman hingga saya pun jadi terbersin-bersin.

Saya yang melihat kegelisahan kakak yang memikirkan anak perempuannya, yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, merasa cukup prihatin, karena anak perempuannya itu tak mengerti juga untuk segera dibelikan baju Lebaran tanpa melihat kondisi orangtuanya. Keponakan saya tidak mengerti kalau kondisi keuangan kakak saya itu lagi tak menentu hingga membuatnya semakin tak konsentrasi dalam menjalankan ibadah.

Jika saya melihat rasa kegelisahan saat-saat menjelang hari Raya Idul Fitri yang dialami kakak, saya jadi teringat kawan saya yang belum lama ini curhat deanngan saya. Lagi-lagi tentang Hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi tiba. Ya, walau lain kasus tapi tujuannya sama. Yakni, sama-sama gelisah untuk menghadapi hari raya nanti itu.

“Gue belum ada persiapan apa-apa ini, Yan,” ucap kawan saya saat ia membuka topik pembicaraan tentang menjelang Hari Raya Kemenangan itu ketika sedang silaturrahim ke rumah saya. Kawan saya merasa tidak afdhal bila hari raya nanti tidak mempersiapkan apa-apa.

“Memangnya ente belum nyiapin apa?” jawab saya memastikan persiapan apa yang belum kawan saya siapkan saat itu.

“Gue belum nyiapan THR buat para keponakan gue. Apalagi gue sudah married, berarti bukan keponakan gue aja yang perlu dikasih, tetapi keponakan bini gue juga, Yan,” terucap sudah apa yang menjadi kegelisahaan kawan saya ketika hari-hari puasa hanya tinggal hitungan jari saja.

“Dikira apa! Ya, santai aja lagi. Nggak usah dipikirin kayak begitu. Gue juga banyak keponakan, tapi gue santai aja. Kalau ada ya kasih, lha kalau memang nggak ada mau dikata apa,” jawab saya apa adanya.

Kawan saya hanya geleng-geleng kepala saat saya berkata demikian. Ia tak menyangka kalau saya menjawab seperti itu. Seperti saya tak ada beban saat-saat orang lain memikirkan akan datangnya Hari Raya Lebaran nanti, tetapi saya malah santai saja. Hingga membuat kawan saya tambah pusing kala mengetahui respon saya seperti itu. Ada-ada saja!

Saya yang melihat keadaan kakak saya dan kawan saya itu jadi khawatir jika hari raya selalu diidentikan dengan baju baru Lebaran, kue Lebaran, salam tempel, serta THR. Wah, bisa-bisa kesakralan hari Raya Idul Fitri akan ternoda dengan hal-hal semacam itu, hanya karena baju baru Lebaran, kue Lebaran, salam tempel, serta THR terus menggelayuti pikiran kakak saya dan kawan saya itu. Kalau sudah begitu, bagaimana (mungkin) bisa menjalani ibadah puasa dengan tenang dan khusyu, bila soal baju baru Lebaran buat anak, salam tempel buat para keponakan, kue Lebaran untuk penyambutan tamu jika bertandang disaat Lebaran, hingga THR tidak tepat waktu diberikan oleh perusahaan menjadi hantu disaat hari Raya Idul Fitri yang sebentar lagi akan tiba.

Memang aneh bin ajaib menjadi manusia itu, diberi kenikmatan kadang lupa bersyukur. Bukannya berpikir tahun depan bisa bertemu Ramadhan lagi atau tidak. Lha, ini malah memikirkan besok Lebaran bagaimana ya? Padahal belum tentu Lebaran tahun depan lewat sini!

Entahlah. Saya mengernyitkan kening jika melihat kejadian dua orang tersebut yang saya jadikan contoh, agar saya terus menguatkan ibadah supaya tidak terusik dengan datangnya hari Raya Idul Fitri nanti.

Ulujami - Pesanggrahan, 14 Ramadhan 1430 H

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ridwan | Mahasiswa
Mari kita jalin silaturahmi dan ukhuwah di KSC ini. Mudah-mudahan kita semua dapat tambahan ilmu dan manfaat. Aamiin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1432 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels