HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://meyla.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
http://meylafarid.multiply.com
Tulisan Meyla Lainnya
Tahajjud, Kebiasaan dan Penolong Hidupnya
12 November 2010 pukul 16:09 WIB
Guru Pertamaku
8 November 2010 pukul 22:00 WIB
PRT Juga Manusia
3 November 2010 pukul 16:40 WIB
Cinta 'Dua' Zulaikha
26 Oktober 2010 pukul 20:50 WIB
Air, Kebutuhan Primer
14 Oktober 2010 pukul 16:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Sabtu, 4 Desember 2010 pukul 01:00 WIB

Memahami Orang Lain

Penulis : Meyla Farid

Percekcokan yang terjadi antara dua orang, biasanya karena masalah harapan mereka yang tidak bertemu benang penghubungnya. Biasanya, kita selalu berharap yang terbaik dari orang lain. Contoh kasus di awal yang saya tuliskan, yaitu pertengkaran antara 2 orang manusia. Tidak lain dan tidak bukan, penyebab pertengkaran pastilah karena yang satu kecewa terhadap yang lain. Si A, berharap temannya B akan bersikap 'begini'. Ternyata B bersikap 'begitu'. Lalu di pihak B sendiri, dia berharap A akan bersikap pengertian, ternyata tidak. Kedua orang tersebut terjebak dalam kekecewaan satu sama lain. Dua-duanya hanya memikirkan 'harapan' diri sendiri terhadap orang lain. Dua-duanya hanya memikirkan kekecewaan yang mereka terima dari orang lain.

Pernah tidak, saat kita merasa kecewa karena orang lain, dalam waktu yang sama kita pun menyadari mungkin saja orang itu pun kecewa dengan sikap kita. Kita kecewa, dia kecewa. Saling mengecewakan. Kalau kita memandang kekecewaan sendiri saja, percekcokan adalah hasilnya. Tapi coba menerima kenyataan, bukan hanya kita saja yang kecewa, orang lain pun sama. Dengan berpikir demikian, insyaAllah kita bisa memahami kenapa kita kecewa. Intropeksi diri saja.

Sebaiknya jangan berharap orang lain akan mengerti tindakan kita. Sama seperti kita tidak tau kondisi sebenarnya seseorang, orang lain pun tidak tahu kondisi kita yang sebenarnya. Apa kita sedang sakit, tidak mood, banyak masalah dan sebagainya. Lalu kita berharap orang lain mengerti? Sementara di lain pihak, orang pun berharap kita bisa lebih menghargainya, mengerti keadaannya juga. Keduanya saling berharap pengertian dari temannya. Akibatnya,dua-duanya kecewa di saat yang sama.

Kenapa tidak begini saja : kita coba mengerti keadaan orang lain. Berbuat yang terbaik untuk menjadi teman orang lain. Selain kita tidak perlu kecewa karena harapan kita tidak terpenuhi, kita juga bisa berlatih untuk lebih peka dengan kondisi orang lain. Percik api perselisihan pun bisa dihindari.

Semua amal perbuatan anak Adam akan kembali ke dirinya masing-masing. Jadi tidak perlu khawatir, memenuhi harapan saudaramu otomatis menabung amal kebajikan untuk dirimu sendiri, di sisi Allah SWT. Yuk, belajar lebih peka. Tidak egois dan memikirkan harapan diri sendiri saja. Termasuk si penulis, minta do'a dari semuanya agar bisa mewujudkan amalan ini. aamiin ya Rabb al 'aalamiin...

http://meylafarid.multiply.com

Suka
bambang, shalikan mohammad, dan Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.3485 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels