|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Jum'at, 26 Juni 2009 pukul 17:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Seberapa kuat lagi jiwa menahan ketika hati kembali terseok sembilu di antara kamuflase ketegaran? Perih. Pedih. Sejurus irama hati mengalunkan nada-nada kepasrahan. Untuk kekuatan yang tak seberapa di rebahan dahsyatnya cambukan ujian hidup. Bertubi datang tanpa kata jeda.
Mungkinkah bahagia itu hanya sebuah fatamorgana yang terpaksa dicipta 'tuk memacu semangat hidup? Atas nama apa pun, toh kini luka telah tercipta kembali, untuk yang kesekian kalinya, diawali dalam rentang waktu yang berbatas dalam kesungguhan tuk lebih mendekat, meski sampai kini masih teramat jauh. Kadang semua yang tlah terjalani, yang tlah terfahami, yang tlah terlakukan, seolah seperti embun pagi yang berkilau indah, namun menguap begitu saja oleh perkasa sinar mentari. Jelas beda abadi itu dengan hal yang hanya sekejap.
Berawal dari pemaknaan apa pun, inilah hidup itu, inilah kisah itu, inilah dunia dengan kesempurnaan fananya yang menyentuh sisi dan lini setiap yang berwujud nyata. Menggilir hitam putih yang tertoreh dalam lembar masa, seiring laju waktu yang seolah mendikte setiap gerak dalam bilangan detik, menit, jam, memaksa tentukan pilihan tanpa penawaran alternatif lain. Diri yang merasa lebih tahu (ataukah sok tahu) pun berontak dalam kesadaran penuh. Bahwa mendapatkan yang terbaik adalah sebuah kemutlakan bagi diri yang merasa khairu ummah. Ah, benarkah khairu ummah?
Apa pun kini adanya, inilah kenyataan itu. Bukan retorika dalam baris kalimat berjajar rapi membentuk susunan kaku sebuah teori. Bukan sekelumit cerita heroik pengantar motivasi. Karena inilah sepenggal episode dari bongkahan takdir dari yang Mahatahu. Inilah sketsa yang tersuguhkan dari sang pelukis kehidupan yang Mahaindah. Inilah refleksi kehendakNya yang menyentil kesadaran hati bahwa Ia Mahakuasa. Ya, hati, pesanggrahan segala niat dan "ruh" segala amal.
Namun, bukanlah untuk yang pertama kali kesadaran itu menyembul dalam gundah yang merajai? Meski tlah bertekuk mengakui kelemahan diri dan coba sandarkan segalanya seiring husnudzan. Inikah hatinya manusia? Inikah saatnya memohon seperti yang diajarkan Nabi SAW, agar kiranya Allah SWT mengganti dengan hati yang lain?
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.