|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Senin, 15 Juni 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Apa yang kiranya harus ku tulis dalam bait-bait rasa ini, jika yang terpikir kini tentang belahan jiwa yang akhir-akhir ini sering hadir dalam lintasan pikiran? Tak pernah sebelumnya sedetik pun aku berani membayangkan atau coba mencium aromanya.
Tapi kini… Kenapa seolah hal itu begitu memagnet perhatianku? Hingga ku ingin membayangkan dalam perwujudan imajinasi. Apakah dosa jika ku ingin memikirkan hal itu sejenak saat ini? Tempat labuhan hati yang akan menyempurnakan ad-dien ini.
Ia yang telah ditakdirkan untukku dan aku menerimanya, meski ku tak tak tahu siapa ia. Karena sebuah keyakinan terpatri dalam, bahwa ia yang terbaik. Dan… Kini semampuku dalam kesungguhan semoga menjadi yang terbaik juga untuknya.
Tapi aku malu… Karena sampai kini pada kenyataannya, aku hanya wanita biasa yang tak mempunyai hal istemewa selain kewanitaan itu sendiri. Akankah ia juga menerimaku sebagai aku, sebagaimana aku telah siap menerimanya sebagai dirinya sendiri? Tentunya dalam kecintaan karenaNya.
Akankah ia yang juga manusia biasa akan tetap tersenyum (dalam kecewa barangkali) ketika mendapatkan aku yang telah ditakdirkanNya menjadi tulang rusuknya, ternyata hanya seorang muslimah yang masih jauh dari kata shalihah?
Allahu Rabbi… Tentramkan hatiku, yang terus melesatkan pertanyaan-pertanyaan tak berkesudahan dalam bimbang yang mulai merambat pada dinding gelisah ini. Aamiin...
***
Belahan jiwa… Sudah bolehkah aku menambahkan kata “ku” hingga sempurna ku menyebutmu "belahan jiwaku" dalam bait-bait rasa yang kini mulai tersusun?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.