|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Sabtu, 21 Mei 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
'Buzz!' Suara chatiing komputer berbunyi. Terkirim pesan singkat.
Assalamu'alaikum
Suit... suuiittt... Cinta! Masih di dapur ya, Cantik?
Libur dua hari kita jalan-jalan ke yuk!
Mmuuaahh... Si ganteng - suamimu.
***
Melambung-lambung hati sang istri, bias gembira terlukis bagai detak jarum jam dinding yang terus berpacu tak berhenti. Duhai pujaan hati, pandai dikau menyusun kata merajut kasih dalam basuhan telaga cinta.
Istri, ia diciptakan sebagai sakanah yang memiliki arti penyenang dan penentram bagi suami. Belaian kasih sayang, sambutan senyum ceria, dan kelembutan tutur sapa, ia gulirkan untuk melepaskan segala penat sang suami dalam mencari nafkah. Menjaga benteng amanah agar suami tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya. Firman Allah SWT, "Dan di antara kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tentram kepadanya." (QS. Ar-Ruum : 21).
Suami, ia diciptakan menjadi qawwam, pemimpin juga pelindung bagi istri. Bidang dadanya disediakan untuk menampung riak gemericik air mata sang istri di kala pilu, bahunya akan menjadi sandaran saat istri dalam kegamangan meniti ridha Illahi Rabbi. Kokoh tangan serta peluh keringat terpacu mencari ikhtiar rezeki halalan thayyibah untuk membahagiakan istri serta buah hati penyejuk jiwa. Firman Allah SWT, "Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu, dan janganlah kamu menyusahkan mereka hingga menyempitkan (hati) mereka." (QS. Ath-Thalaq : 6).
Seperti layaknya hidangan lezat yang memerlukan bumbu-bumbu mantap, hubungan suami istri pun demikian. Bumbu yang tidak hanya digunakan untuk membangun kokohnya pijakan iman menuju pelabuhan akhir baiti jannah, tapi juga menjadi pemanis mawaddah wa rahmah dan lem perekat indahnya takwa tautan jiwa dalam menjauhi derap perselisihan tak berujung. Bahasa cinta menjadi bumbu tautan penghalau badai.
"Sayang, hati-hati di jalan. Fi amaanillah," Cup! Kecup mesra pada tangan kanan.
"Wah, masak tempe goreng ya, neng geulis. Masya Allah, sedap deh."
Beberapa pasangan suami istri, mungkin ada yang masih merasa enggan dan kaku mengungkapkan komunikasi kalimat sayang dan manis. Kadang ada juga yang merasa dengan bertambahnya rajutan usia pernikahan, bahasa cinta sebagai bumbu pemanis bukanlah hal yang penting.
"Hiy! 'ndak pantes, abis udah lapuk sih."
"Amit deh, boro-boro kata sayang, tegur sapa aja males!"
"Lah, cinte mah cuman teori."
Duh duh duh... Ke manakah perginya kata-kata indah saat dulu wangi melati masih segar tercium?
Di manakah gejolak rasa yang membara saat awal separuh dien menjadi sempurna?
Kita lupa, betapa Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, suami penuh sikap lembut selalu memberi cinta dan sayang pada istri-istrinya. Seperti dalam sabda beliau, "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istri dan istrinya memperhatikan suami, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh Rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya (istri), maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya."
(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa'id Al-Khudzri RA).
Setuju! Kata-kata cinta bukanlah hal yang primer dalam berumah tangga. Tapi tanpa disadari, melalui bahasa cinta, ia dapat menumbuhkan benih-benih kasih sayang yang makin erat di antara seorang sakanah dan seorang qawwam. Ia dapat menjadi sumbu penghangat jiwa berbeda dalam mengokohkan pijakan menuju berkah Allah SWT dan menjadi penentang tulalit kegagalan komunikasi (communication breakdowns) yang tak bosan menerjang. Dalam firman-Nya, Allah mengatakan, "Tidaklah kamu memperhatikan Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, ia seperti pohon yang akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya." (QS. Ibrahim : 24-25).
Memang, tidak semuanya dapat begitu saja mengalir lancar bagai derasnya curahan air terjun Niagara. Ada saatnya lidah masih kelu karena malu ataupun ada saatnya lidah merasa lelah. Tapi cobalah untuk menyempatkan diri menoreh kata-kata indah tersebut melalui sarana high tech abad 21 yang terkirim lewat SMS telepon genggam, chatting internet, ataupun surat cinta (love letter) lewat jasa 'Pak pos' tanpa canggung bertatap muka. Perlahan tapi pasti, melalui bahasa cinta, dua bilah hati akan terpadu merengkuh rahmat Illahi Rabbi menuju surga dunia, yaitu pernikahan bahagia.
Betapa indahnya, bila suatu saat, jika salah satu dari pasangan pergi mendahului menghadap Sang Khalik, yang ditinggalkan dapat mengatakan, "Ah, semua perilakunya mengesankan bagiku." (kana kullu amrihi ajaba), seperti yang diungkapkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha ketika ditanya tentang perilaku Rasulullah yang paling mengesankan semasa hidup beliau.
***
"Cantiiikkkk!!! Shalehhh!!!" Ini tahu goreng sengaja dibiarin gosong ya?!" pekikan menggelegar dari arah dapur.
"Dari tadi di depan komputer!!! Ngapain aja, say?!" Bla... bla... bla...
"Eh, apa? Gosong?! Wuaahhh!"
"Punten... maaf... afwan..., darling. Akang deu gituh aja heboh sendiri."
Wuiihh... tuh kan! Ternyata, ada enak juga kalau kena semprot melalui bahasa cinta, tetep adem ayem.
"Tidak terlihat di antara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan." (HR. Ibnu Majah).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.