QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Anak kok Repot?
5 Februari 2011 pukul 17:26 WIB
Menjaga Privacy, Menjaga Hati, Kenapa Nggak?
23 Januari 2011 pukul 08:40 WIB
Mie Ayam MMI
5 Desember 2010 pukul 19:00 WIB
Hafidz Cilik Pertama Negeri Samurai
30 November 2010 pukul 16:30 WIB
Kokoro no Tomo
14 November 2010 pukul 15:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 13 Maret 2011 pukul 12:30 WIB

Ciaaattt...!

Penulis : Lizsa Anggraeny

Stasiun Tokyo tak pernah terlelap, berpuluh orang lalu lalang dengan gerakan cepat. Pun di saat sore hari. Deretan peron terlihat penuh sesak, dipenuhi tiga deret barisan rapi panjang calon penumpang. "Wuuaahh…" Keluar lenguhan tanda menguap. Dengan cekat segera tangan menutup mulut. Leher sedikit diputar menghilangkan pegal. Kaki digerakkan mencegah bengkak.

"Terjebak di antara rush hour para pekerja kantoran tidaklah menyenangkan," gumam diri. Tak berapa lama, "Wusshh…!" Angin berhembus keras menandai kereta tiba. Pintu salah satu gerbong tepat terbuka di hadapan. Beberapa badan tinggi besar laki-laki dan perempuan berebut menjejali tubuh kecil. Petugas stasiun mulai mendorong badan-badan yang terhimpit di pintu agar tak terjepit.

"Haahh... Lega," akhirnya kereta berjalan, mengantarkan para penumpang menuju tujuan. "Tak apalah terhimpit berdesakan, yang penting aman," pikir hati dengan sedikit tersenyum-senyum menikmati segarnya sepoian angin yang keluar dari senpuki, tepat di atas kepala.

Lamunan menerawang. Teringat akan peristiwa beberapa tahun kebelakang. "Iihh..." Bergidik, berusaha menghilangkan kilatan bayangan. Sebuah peristiwa yang sulit terhapus dari ingatan saat terhimpit berdesakan di salah satu bus ibukota, Jakarta. Tanpa diminta, perlahan-lahan pita rekaman memori berputar kembali menampilkan visual hitam putih.

***

"Lebak Bulus... Bulus... Bulus, naek nggak?" kondektur bus jurusan yang dituju menatap sambil mengacung-acungkan tangan memberi isyarat. Jakarta begitu panas menyengat bagai tatapan tajam seorang manusia penuh amarah. Terik sinar matahari menyakiti bola mata, silau! Kerongkongan kering membuat telanan ludah terasa dalam tegukan. Tetesan keringat mengalir deras.

Hup! Kaki meloncat menaiki bus diikuti beberapa orang di belakang. "Wuiih..." Padatnya penumpang. Sedikit demi sedikit badan bergeser ke tengah mencari lahan nyaman. "Siipp..." Dapat sedikit lahan berdiri dengan berpegang pada tangkai besi satu jok kursi.

Mata mulai menebarkan pandangan. Beberapa orang tampak berada dalam lamunannya masing-masing, sedang yang lain tampak terkantuk-kantuk di tempat duduk. Ada yang serius dengan buku bacaan, ada juga yang saling becanda riang diiringin tawa pelan. "Hhmmm... Kalau tidak macet, bisa cepat sampai," ucap hati sambil melirik jam di tangan memperhitungkan waktu.

Pikiran mulai berimajinasi dengan pemandangan yang tersaji dari kaca jendela. Tak peduli badan sedikit terdorong ke kanan kiri, depan belakang. Sayang imajinasi terpaksa buyar oleh satu keganjilan. "Eh, apaan nih?!" Terasa ada keanehan di bagian belakang badan dari punggung ke bawah.

Seseorang sedang menempel-nempelkan bagian bawah tubuhnya pada badan ini. "Ah... Jangan-jangan hanya perasaan, akibat sentuhan tak disengaja," ujar hati menghibur diri. Namun, gerakan-gerakan aneh di bagian bawah punggung ini tak berhenti-henti, malah semakin terasa merajalela dengan gerakan yang terasa menjijikan. "Duh Gusti, ini namanya pelecehan!" jerit hati di antara berjuta kesal, sebal, marah, entah harus berbuat apa.

Baiklah, badan mencoba bergeser ke kanan di antara sedikit celah kosong. "Oh... Tidak!" Orang di belakang ikut berpindah dan mulai melakukan gerakan aneh kembali. Malah semakin berani. Ia mulai memegang-megang pergelangan tangan yang dihias sebuah jam tangan. Jarinya sedikit demi sedikit berusaha membuka rantainya.

"Gerrhh..." Kesabaran hilang, seiring dengan kesal memuncak, "Mau nyolong pula nih orang," umpat hati makin geram. Akhirnya memberanikan diri. Kepala diputar sedikit menoleh ke belakang, mata melirik mencari wajah si pembuat onar. Memori segera melacak : Lelaki setengah baya, agak kurus, bertopi.

Baiklah, akan kukeluarkan jurus seperti Mantili dalam serial Tutur Tinular ataupun Siaw Liong Lie dalam serial Sin Tiaw Hiaplu saat menghadapi lelaki iseng. Belum tahu dia, gini-gini pernah ikut ilmu bela diri.

Kekuatan dikerahkan menghimpun tenaga dalam, lalu secepat kilat, "Ciaaattt...! Ketangkap!" pekik diri sambil kaki kanan diangkat ke belakang, menendang bagian kemaluannya dan tangan kiri mencengkram pergelangan si pelaku. "Eeuu..." Terkena telak, terdengar sedikit erangan sakit dari bibirnya dengan wajah pucat menatap.

Kericuhan mulai terjadi di dalam himpitan bus padat penumpang. "Kenapa? Ada ape? Kenape teriak sih? Kok ribut sih? Bla bla bla..." Beberapa pandangan menatap tajam ke arah diri sambil melontarkan beberapa pertanyaan. Tak ketinggalan seorang bapak berkumis tebal dengan wajah garang bertanya. "Ada apa, Dek?!" sahutnya menatapku tajam berwibawa.

"Ini, Pak. Nyolong arloji sama pelecehan," tegas diri sambil mengacungkan tangan yang telah mencengkram erat tangan si pelaku dengan arloji curian. Penumpang bertambah ricuh, beberapa orang mulai menghujat si pelaku. "Pantesan dari tadi kagak bisa diam tuh orang," seorang ibu dengan logat khas turut andil bicara. Bapak berkumis tebal mendekati sambil berkata, "Biar saya yang tangani, Dek. Di depan sudah Komdak, kita turun dan giring ke sana," sahutnya yang dijawab anggukan olehku.

"Depan pinggir, Pir…!" teriakan terdengar dan bus pun mulai menghampiri bahu kanan jalan. Dengan cepat kaki meliuk-liuk di antara penumpang menuju pintu keluar diikuti bapak berkumis tebal yang memegang tangan si pembuat onar. Dan urusan pun segera berpindah ke tangan yang berwajib.

***

Kejadian tersebut telah berlalu lewat dari 10 tahun. Meski kini tak pernah lagi mengejar bus jurusan tersebut, namun peristiwanya masih lekat di benak. Bersyukur, meski di negeri Sakura ini sering berhimpit-himpit dalam desakan penumpang kereta, kejadian seperti itu belum terjadi. "Jangan sampai deh!" do'a dalam hati sambil menatap sekeliling penumpang kereta dari stasiun Tokyo yang padat.

"Tapi... Sebentar... Ada apaan nih?" Deg! Jantung tiba-tiba berdetak keras. Tiba-tiba terasa mulai ada gerakan-gerakan ganjil tepat di bagian belakang badan bawah. "Jangan-jangan..." bisik hati cemas. Betul, gerakan tersebut mulai makin aneh, terkadang diikuti rabaan tangan. "Geerrrhhh... Tidak salah, ini pelecehan!" ujar hati geram. Rasakan! Jurus simpanan akan kukeluarkan. "Biar tahu rasa dia," ujar hati.

Suara pengumuman di dalam kereta mulai terdengar. "Mamonaku Ueno eki ni touchaku itashimasu (Sebentar lagi akan tiba di stasiun Ueno)." Kesempatan pikirku. Tenaga dalam dikeluarkan, secepat kilat bergerak. "Ciaatt...! Kono hito Cikan desu! (Orang ini berbuat pelecehan!)" suara memekik sambil kaki kanan menendang ke belakang dan tangan kiri mencengkram pergelangan lelaki pembuat ulah.

Suasana berubah riuh. Para penumpang ada yang menatap terkejut, heran, ada juga yang tak peduli. Si pembuat ulah tampak panik, celinguk kanan kiri, menahan sakit tendangan telak.

Beberapa orang salaryman, di samping kanan kiri bersimpati. "Kita laporkan saat turun pada petugas stasiun," ujar salah seorang dengan tangan mulai turut memegangi kerah si pelaku. Tak berapa lama kereta tiba di stasiun Ueno. Pelaku digiring ke tempat petugas berwajib.

"Wuuuiiihh... Nggak di Indonesia, nggak di Jepang sama saja," tersungging bibir kecut. Memang jadi perempuan harus hati-hati. "Nggak sia-sia bisa sedikit jurus ber-ciaattt...! Jangan sampai terulang kembali," ucap lirih dalam hati.

Senpuki : Kipas Angin
Salaryman : Pegawai Kantoran

http://aishliz.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1102 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels