|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Sabtu, 5 Februari 2011 pukul 17:26 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
“Beneran, timbangan berat badan saya tidak menyusut.”
Jadi aneh juga kalau ada yang menuduh badan tambah kurus. Kalaupun ada perubahan, bukan badan yang makin langsing singset, tapi sebaliknya. Timbangan plus 5 kg. Dengan beberapa baju yang makin sempit, perlu dipermak.
Kalaupun saya tambah 'ndut', jangan khawatir, penampilan tetap cuantik :D. Karena memang saya perempuan. Dan semua perempuan pasti cantik (Kan yang ganteng laki-laki... hehehe)
"Kok makin kurus?! Repot ngurus anak yah..."
"Tuh...kan! Emang ngurus anak itu repot lagi..."
"Bla...bla...bla... Anak! Repot!...."
Hmmm... Jadi makin heran. Kenapa mengurus anak selalu disangkutpautkan dengan kata REPOT? Yang lebih heran lagi, mengurus anak dijadikan kambing hitam kurusnya badan, tak terurusnya penampilan.
Saya berusaha berbaik sangka. Adanya pernyataan di atas, tentu semata – mata karena rasa empati. Rasa perhatiannya yang ingin diungkapkan sebagai tanda memiliki rasa yang sama. Dan tentu saja saya berterima kasih untuk semua perhatian juga rasa kasih sayangnya berupa kata – kata empati di atas.
Tapi, kalau boleh unjuk suara, ingin rasanya sedikit mengoreksi. Bahwa mengurus anak bukan hal yang merepotkan. Anak, bukanlah sumber dari segala kerepotan yang ada dalam keseharian kita. Jadi, saya akan menolak jika ada kasus, mengkambinghitamkan anak untuk ketidakberesan.
***
"Duuhh... Maaf, repot ngurus perlengkapan anak-anak dulu, jadi dateng telat"
"Ngaji ilmu? Repot euy! Tempatnya jauh, anak-anak masih kecil"
"Daripada repot rumah berantakan terus, mending nitipin anak ke daycare azah..."
"Datang on time? Ngga janji yah... tergantung kondisi anak-anak...."
"Repot bener deh, emang bandel tuh anak...."
Kasihannya sang anak yang kadang dijadikan tameng. Dijadikan dalih sebagai beban sempitnya ruang untuk bergerak. Padahal, mungkin kehadirannya dulu begitu didamba, dipuja bahkan dimuliakan.
***
Saya akan lebih senang mengatakan, mengurus anak itu BERAT namun Menyenangkan.
BERAT, karena tidak mudah untuk menancapkan goresan di dalam pemikirannya yang masih putih bersih. Juga bukan hal yang gampang membimbingnya agar memiliki kepribadian yang sesuai dengan apa yang kita dambakan kelak. Dan bukan hal yang mudah pula untuk tetap menjaganya dalam keadaan fitrahnya. Memiliki kebanggaan akan Islam, dengan menjalankan syariat sesuai dengan jalan yang lurus dan benar.
Menyenangkan, karena dalam sekecil apapun yang terjadi, membimbing dan membesarkan anak adalah sebuah anugrah. Keajaiban-keajaiban kecil akan terjadi dalam setiap hitungan detiknya. Ketika senyumnya merekah atau bahkan tangisannya memekak. Betapa Sang Khalik, begitu sempurna dalam menciptakan. Subhanallah...
***
Dan saya pun ingin sedikit meluruskan bagi yang selalu merasa bangga saat anaknya berprestasi. Namun menjadi sinis, acuh tak acuh, minder saat sang anak tak sesuai harapan. Kebanggaan tak selalu identik dengan prestasi. Bukankah memberikan kebanggaan pada anak dalam sekecil apapun termasuk saat anak tak sesuai harapan akan memberikan dampak positif pada tumbuh kembang jiwanya? Ia akan tumbuh menjadi sesorang yang mampu menghargai sesuatu dalam hal sekecil apapun. Ia akan berkembang menjadi jiwa tangguh dengan rasa kepercayaan.
Sedikit berbelok...
Ada satu essay dalam edisi "Nihongo Journal 2004" yang sampai saat ini melekat di hati saya. Satu cerita tentang begitu bangganya seorang anak pada sang ayah. Tidak, ayahnya bukanlah sosok orang besar, bukan pula orang terkenal. Sang ayah hanya orang biasa. Meski demikian, sang ayah tetap menjadi kebanggaan buat dirinya, bahkan saat ia telah dewasa. Alasan yang diberikan, kenapa ia begitu bangga dengan ayahnya, sangat sederhana.
"Aku bangga padanya, karena Ayah pun selalu bangga akan aku, dalam sekecil apapun!"
"Aku ingat ketika, hari menjelang pengumuman kelulusan ujian di perguruan tinggi. Di saat aku was-was tidak akan diterima, ayah datang memberiku semangat, dengan kata-katanya yang sederhana..."
"Fugokaku nara oishii yakiniku wo tabeni ikou ze! (Kalau nggak lulus, kita pergi makan yakiniku enak yuk!)"
"Aku tahu, ayah tak ingin memberiku beban.... Kata – katanya selalu membuat aku tenang saat dalam limbung. Meski aku tahu, pasti Ia pun begitu cemas menunggu hasil kelulusan"
Hiks... Membaca bagian alinea tersebut, hati seolah diaduk – aduk. Tak mudah memberikan rasa ketenangan saat berada di ujung tanduk, hampir tersungkur. Saya membayangkan. Kalau saja berada di posisi tersebut, jangan – jangan bukannya kata – kata menenangkan, tapi malah kata – kata yang membebani.
"Makanya... Belajar yang bener. Jadi nggak was-was pas kelulusan!"
"Tuh kan.... Dibilangin, makanya belajar tuh yang serius. Jadi pas kelulusan nggak cemas."
***
Anak kok repot?
Tidak... Tidak...! Absolutly No!
Saat ini saya sedang berusaha menekan segala sesuatu yang mengkambinghitamkan atau bahkan menyalahkan ketidakberesan karena anak. Saya ingi menghapus kata REPOT dalam benang memori otak saya, saat membimbing-mendidik dan membesarkan anak-anak.
Seperti cerita sang anak yang bangga akan sang ayah, seperti itu pula pula saya ingin menjadi seorang ibu yang dapat dibanggakan dan membanggakan dalam hal sekecil apapun. Yang dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan tentram saat berada dalam kondisi genting. (Bisa atau tidak? Semoga saja.)
Kalaupun terlihat ada kerepotan, itu tak lebih karena keteledoran saya, yang belum bisa mengatur waktu serta jadwal dengan baik. Bukan semata-mata karena adanya anak.
Jadi percayalah. Saya tidak kurus, tapi 'berisi'.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.