QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Mie Ayam MMI
5 Desember 2010 pukul 19:00 WIB
Hafidz Cilik Pertama Negeri Samurai
30 November 2010 pukul 16:30 WIB
Kokoro no Tomo
14 November 2010 pukul 15:25 WIB
Yang Terindah dari Yakumo
28 September 2010 pukul 16:30 WIB
Masjid Kecil di Padang Ilalang Nagano
21 September 2010 pukul 16:50 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 23 Januari 2011 pukul 08:40 WIB

Menjaga Privacy, Menjaga Hati, Kenapa Nggak?

Penulis : Lizsa Anggraeny

"Katei no koto wa tatoe ryoushin ni demo, tanin ni demo, amari kuwashiku kataranai houga yoi (Sebaiknya jangan terlalu mendetail dalam menceritakan masalah keluarga sendiri meskipun kepada orangtua, apalagi kepada orang lain)."

Satu kalimat di atas begitu membekas di hati saat mendengarkan talkshow yang disampaikan Nagai Arifin -seorang muslim Jepang di acara Silaturrahim Warga Muslim Jepang. Teringat dua mingu sebelumnya ketika saya berusaha untuk menghubungi beliau agar mau dijadikan narasumber. Nagai Sensei, begitu saya memanggilnya, meminta secara detail maksud dari acara tersebut dan alasan kenapa sampai harus mengadakan talkshow yang membuka tentang ‘masalah’ keluarga? Apalagi acara tersebut akan dikaitkan juga dengan istri beliau -seorang warga Indonesia yang dinikahinya sejak tahun 1972 dengan tema “Berbeda, Bersama, Bahagia.”

Bagi orang Jepang, sepertinya sudah menjadi hal yang lazim bahwa masalah pribadi adalah sesuatu yang tidak perlu untuk dimunculkan ke permukaan. Menjaga privacy, sangat mereka hormati. Membicarakan masalah keluarga, sudah termasuk dalam kategori pribadi. Tidak perlu sampai harus dibahas di depan orang ramai. Karena sesuatu yang ada dalam lingkup keluarga, hanya boleh diketahui oleh suami-istri-anak yang menjadi peran utama di dalamnya.

***

Keluar dari pembahasan Nagai Sensei, menjaga privacy adalah hal yang paling saya suka ketika pertama kali menginjakan kaki di Jepang. Saat berkenalan dengan teman-teman baru bermata sipit ini, saya tidak perlu disibukan dengan menjawab pertanyaan : Umur berapa? Kuliah angkatan berapa? Sudah menikah? Anak Berapa? Dan lain-lain yang biasanya akan keluar jika bertemu orang Indonesia, meskipun untuk yang pertama kali. Perasaan ‘diinterogasi’ tidak hadir di sana. Saya menikmati kadar saya sebagai orang baru, yang juga memiliki hak untuk menjaga privacy.

Memang, terkadang ada pula teman-teman Indonesia yang katanya open heart, tidak suka dengan sikap menjaga privacy orang Jepang ini. Dengan alasan orang Jepang dinginlah, tidak bersahabatlah, tidak terbuka. Tapi bagi saya yang memang sulit untuk bisa langsung berakrab-akrab ria pada perkenalan pertama, sikap orang Jepang ini cukup membantu. Keterbukaan hati akan datang seiring dengan berjalannya usia pertemanan.

Mungkin, sikap menjaga privacy, menjaga hati ini pula yang menjadikan orang Jepang rata-rata bersikap individu. Saya pernah sedikit kaget ketika dalam pembicaraan yang sudah akrab, katakanlah si A yang bersahabat dengan si B, ternyata masing-masing sama sekali tidak saling mengetahui nomor handphone ataupun nomor telepon rumah kedua belah pihak. Alasan yang diungkapkan, “Khawatir jika tahu, malah tidak bisa akrab. Pembicaraan jadi basi saat bertemu karena bisa kapan saja bicara di telepon. Dan lagi khawatir menyinggung masalah pribadi, repot! Hubungan yang baik malah akan terputus. Lebih baik saling tidak mengetahui jadinya saling penasaran dan akan memupuk hubungan yang baik.” Begitu katanya.

***

Terlepas dari sikap ‘menjaga privacy, menjaga hati’ yang dijalani orang Jepang. Beberapa hari ini sepertinya mata saya ‘dipaksa’ harus terus mengeja satu kata bernama ”POLIGAMI". Tidak hanya tabloid, di blog dan milis-milis yang diikuti pun sepertinya kata tersebut sedang ngetop habis. Lalu lalang pro kontra pembahasan hal tersebut seolah tak habis-habisnya dikupas. Ternyata inti permasalahannya satu. Yaitu mencuatnya 'masalah' keluarga dari Ustadz kondang yang menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki anak.

Hmm… Saya terkadang berpikir, mungkin inilah repotnya menjadi publik figure Indonesia yang katanya memiliki sikap “Open Heart”. Saya pribadi cenderung tidak begitu menanggapi hal tersebut. Karena percaya itu adalah hak privacy masing-masing yang tak perlu diulik-ulik. Berani berbuat berani bertanggung jawab, asal tidak menyalahi syar'i. Kira-kira seperti itu. Saya lebih cenderung bersikap menghormati hak individu secara manusiawi. Tidak berusaha ikut larut di dalamnya.

***

Kembali ke kalimat yang disampaikan Nagai Arifin Sensei di atas, ternyata saya sangat setuju. Bahwa masalah keluarga tidak perlu begitu detail diceritakan ke orang lain. Dan tidak perlu juga kita bersusah-susah membahas detail rumah tangga orang lain sampai menjadikannya pembicaraan empuk.

Marilah sama-sama menjaga privacy, menjaga hati, kenapa nggak?

http://aishliz.multiply.com

Suka
vengky utami menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

UmmuRaihanah | IRT, Wiraswasta
Inspiratif, banyak ilmu. Tampilan webnya sudah banyak berubah. Maju terus, tetap istiqomah. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1062 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels