|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Sabtu, 19 Maret 2011 pukul 08:00 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
"Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dasyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya). Dan manusia bertanya-tanya, "Apa yang terjadi pada bumi?" Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya." (QS. Az-Zalzalah : 1-4).
***
Di sebuah shopping centre SunShine City - Ikebukuro, kepanikan tiba-tiba hadir. Beberapa orang berlari ke arah kanan, ada juga yang berlari ke arah kiri, mencari jalan ke luar. Beberapa di antaranya, ada pula yang langsung bersembunyi di bawah meja. Beberapa barang toko, mulai berjatuhan, pecah. Getaran yang semula pelan, berubah tiba-tiba menjadi guncangan hebat. Teriakan dan jeritan takut beberapa orang menambah panik suasana.
"Jisshin...! Jisshin... da! (Gempa...! Ada gempa...!")
Saya dan si kecil yang ditakdirkan sedang melewati tempat tersebut, juga merasakan getaran hebat. Lantai mulai terasa oleng ke kanan dan ke kiri. Gedung seolah-olah mau rubuh. Semakin cepat gedung bergetar, semakin sulit pula saya berjalan. Dengan merangkul si kecil, segera saya mencari tempat berlindung. Sambil tak henti bibir mengucapkan lafaz Asma kebesaran Allah, memohon perlindungan, disertai getaran dada yang tak menentu. Berusaha tak panik di antara orang-orang yang berlari panik.
Dengan takdir Allah, pada hari tersebut, saya dapat merasakan kebesaran Sang Maha Penguasa. Bumi Jepang diguncang, dengan guncangan yang dasyat. Guncangan yang pertama, disusul guncangan kedua lalu ketiga, lalu beberapa guncangn kecil yang datang berurutan. Di sebuah pertokoan yang semula hingar bingar penuh dengan tawa, seketika berubah larut dalam ketegangan dan jerit ketakutan. Terlihat wajah-wajah kecemasan dari seluruh pengunjung Sunshine City yang notabene orang Jepang.
Segala kekuatan, kepintaran, keunggulan yang dimiliki ternyata tak mampu berhadapan dengan kekuatan Sang Mahaperkasa. Pun dengan teknologi canggih Jepang yang terkenal seantero dunia. Pada hari tersebut, semua teknologi secanggih apapun terasa tak berarti.
Jalur transportasi utama Jepang berupa kereta api, otomatis colaps, mati tidak berfungsi. Sedangkan jalan menjadi padat kemacetan. Penuh dengan kendaraan bermotor, juga dipenuhi orang-orang yang harus berkilo-kilo meter berjalan pulang. Beberapa di antaranya banyak bergerombol di depan stasiun kereta, berharap jalur transportasi segera pulih. Meski tak ada jaminan bisa segera pulih.
Dengan takdir Allah pula, akhirnya saya berjalan dari pusat perbelanjaan tersebut menuju sebuah tempat. Tempat yang tiba-tiba saya rindukan. Tempat yang di dalamnya orang-orang selalu bersujud memohon ampunan, memohon keberkahan. Salah satu rumah Allah di negeri sakura bernama Masjid Otsuka. Dengan mengumpulkan segala tenaga yang tersisa, saya berbalik arah bertekad segera menuju tempat tersebut, dengan berjalan kaki. Perjalanan lelah penuh renungan saya lalui. Mendamparkan saya dan si kecil untuk bermalam di Masjid tersebut.
Tanpa bekal, terpisah dari suami, tak tahu beritanya begaimana, dengan kondisi saluran telekomukasi yang terputus. Di antara renungan, betapa bersyukurnya saya memiliki Sang Maha Pelindung. Enam detik guncangan di Sunsine City - Ikebukuro, menjadi saksi. Di antara orang-orang yang menjerit, berlari, bahkan ada yang menangis ketakutan mencari perlindungan, saya dan si kecil merasa ketenangan dengan melafazkan keagungan-Nya.
Ada sebuah kesadaran bahwa betapa kecil, teramat kecilnya manusia. Tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya. Kekuasaan Allah adalah kekuasaan mutlak, yang terkadang terlupakan oleh keangkuhan manusia. Bumi menyampaikan beritanya. Beberapa detik gempa di Jepang adalah derita panjang bagi warganya. Ratusan orang hilang belum ditemukan, tertimbun tanah dan reruntuhan. Meluluhlantakan Miyagi, Fukushima, dan beberapa daerah kecil di Jepang.
Dalam hitungan detik, sebagian warga Jepang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan keluarga yang dicintai. Dan ujian gempa berlanjut dengan ujian datangnya tsunami, kemungkinan ledakan beberapa PLTN, listrik dan gas terputus, mati. Menambah rasa kegundahan dan kelemahan mental bagi warga Jepang, khususnya para pengungsi korban gempa dan tsunami.
Tidak hanya Sunsine City - Ikebukuro, seluruh Jepang merasakan guncangan hebat tanda peringatan di waktu yang bersamaan. Dan kita yang merasakannya, hanyalah manusia yang tak berdaya di hadapan-Nya. Meski bencana seringkali menyisakan kepedihan dan kedukaan, kehilangan dan kerugian. Tapi kita perlu menerima sebagai hamba-Nya. Keputusan Allah dan ketentuan-Nya selalu yang terbaik.
Para korban gempa, khususnya warga Indonesia dan warga pribumi Jepang tidak dibiarkan sendiri. Reaksi simpati dan solidaritas memunculkan keharuan. Bermunculan kelompok-kelompok yang tak tersentuh media melakukan penggalangan aksi sosial. Meski simpati dan solidaritas tak mungkin menghapus luka dan duka, tapi minimal mereka merasakan tak sendiri.
Mereka punya saudara yang memperhatikan. Mereka mendapatkan spirit untuk bertahan. Guncangan hebat yang saya rasakan di Sunsine City - Ikebukuro menjadi 'teguran' sekaligus hikmah bagi diri. Untuk menjadi orang shalih dalam setiap keadaan dan tidak berlena-lena di tempat yang penuh hingar bingar kesenangan dunia. Karena takdir Allah dapat terjadi setiap saat, tanpa diduga, tanpa diundang.
Hebatnya ilmu, luasnya kekuasaan dan popularitas, kemapanan ekonomi tak akan berarti menghadapi kekuasaan takdir Allah. Semoga saya, kita, dan semua mampu memikul daya tahan untuk menerima setiap ujian yang Dia berikan.
Walahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.