|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://aishliz.multiply.com |
|
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz |





Rabu, 18 Mei 2011 pukul 09:20 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
“Ups…” kembali tangan menaruh satu kemasan biskuit ke tempat asal. Dengan mulut muncung, lenguhan napas panjang mulai terhembus. Mata nanar mencari pilihan lain. Kereta belanja didorong perlahan menuju rak berbeda. “Aha…!” strawberry cake dengan hiasan manis tampak mengundang selera. Reflek tangan bergerak cepat, mengambil, menilik, membolak-balik kemasan untuk memastikan komposisi yang terpampang. Sayang mulut muncung kembali harus terpasang. Kecewa dengan tart yang tak bisa dimakan.
“Hmm… susahnya nyari santapan penyela yang aman di sini,” pernyataan kecewa mulai keluar, meminta kata setuju dari teman di samping.
“Kalau mau nyari yang aman semua, nunggu nanti di surga. Hehehe…” Menyeringai teman Jepang di samping sambil membetulkan letak kerudung yang sedikit memincing. Mata sipit terlihat menipis tertarik senyuman. Pipi putih sedikit memerah terkena sapuan dingin AC pusat belanja.
Duh, betul sekali dikau, teman. Masih ada makanan lain yang bisa dipilih. Kenapa harus kecewa dengan seonggok cemilan? Ucap diri sambil menatap lekat sosok yang mulai nampak berjalan di depan.
Tatapan lekat lainnya pernah pula terlempar beberapa hari yang lalu. Saat berdua tengah berjalan di terik matahari yang terasa lebih panas dari tungku kompor. Tak sengaja dari mulut ini keluhan “panas” terus terucap. Sesekali tangan menyapu peluh yang bercucuran. Dengan santai dikau berkata, “Di neraka lebih panas lho.” Glek, perkataan telak yang langsung membungkam keluhan.
Begitu melekat identitas itu digenggam, teman. Meski sang hidayah baru dirasakan lima tahun. Dan palang panjang tentangan keluarga kadang menerjang.
“Datte watashi wa musurimu desu mono (kan saya muslim),” suara bangga terdengar diucapkan.
***
Perhelatan qalbun salim di salah satu rumah baru saja usai. Suasana kembali hingar bingar dengan kikikan tawa riuh rendah menyelingi obrolan. Sebagian besar peserta hampir menampakan dandanan yang sama “Summer Season”. Pakaian bertali minim dengan lekukan tubuh indah jelas terlihat. Penutup kepala temporari mulai dilepas, menampakan rambut bercat aneka warna.
Sedang di pojokan yang lain, segelintir nampak diam menikmati hidangan. Tak ada nuansa musim panas pada pakaian yang dikenakan ataupun tawa lepas keras terdengar. Terlihat lebih kalem. Seolah tak berminat untuk ikut serta dalam hiruk pikuk obrolan.
Di sinilah berkumpulnya sebagian kubu para istri tanah air yang bersuamikan pria Jepang. Sebuah perkumpulan yang kadang mencuat dengan pernyataaan “unik”. Memaksa bibir menganga, tersenyum dengan hati miris.
“Daging babi Jepang kan nggak haram!”
“Karena makanan yang dikasihin ke mereka di sini tuh bersih, kandangnya juga bersih. Pokoknya nggak kotor deh. Kalau di Indonesia nggak boleh dimakan karena kotor, ya kan?!”
Pernah kalimat tersebut dengan polosnya keluar dari salah satu anggota. Yang diangguki oleh beberapa orang, tanda setuju. Ada juga yang tampak ragu berkata, “Masa sih? Bener nih?” Namun ada pula yang memprotes, “Sekalinya haram ya haram dong.” Atau pernyataan lain yang tak kalah uniknya.
“Nggak ah, nggak mau ngumpul sama si B ah, abis kerudungnya gitu. Kayak anu dan anu (menyebutkan beberapa partai Islam).”
Meluruskan pendapat-pendapat unik di kubu ini bukanlah hal mudah. Peringatan keras malah akan menjadi bumerang. Latar belakang, lahir dan dibesarkan di lingkungan Islam, terkadang menyimpan satu bayangan buram, sulit menerima pendapat yang tak sesuai dengan keinginan.
Imbasan gegap negara Jepang lebih membias di hati. Yang terkadang melupakan fitrah diri. Terpacu arus yang terasa indah. Menapak di dunia baru yang terasa lebih bebas.
“Datte nihonjin ni nachatta mon (kan udah jadi orang Jepang lagi),” nada kebanggaan terucap.
***
Kebanggaan, ia meresap dalam jelujur setiap insan. Meski berbeda pada setiap hembusan jiwa. Entah untuk sebuah sebuah keturunan, kekayaan, kepintaran, ataupun keberadaan. Menghiasi relung jiwa penuh angan. Mengisi potongan hati, endapan rasa. Melambungkan diri pada titian jembatan tinggi.
Atas nama sebuah kebanggaan, hati membuncah pada sebuah pinta. Semoga diri yang terseok dapat tegar menemukan jati diri. Mencanangkan identitas mendukung panji kebenaran. Berharap memiliki kebanggaan pada satu untaian kalimat indah,
“Datte watashi wa musurimu desu mono (saya kan muslim).”
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.