|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Sabtu, 22 September 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Banyak sekali pertanyaan dari sahabat tentang bagaimana saya memandang rezeki. Memang perlu diakui, yang namanya rezeki, walaupun cuma satu kata, tetapi bisa diartikan dan dianggap berbeda-beda. Sebenarnya kalau ingin membaca tentang rezeki, sekarang sudah banyak sekali buku-buku yang menarik dan bagus. Beberapa tokoh yang biasa berbicara mengenai rezeki di antaranya ada Ippho Santosa, Reza M. Syarif, atau ustadz Yusuf Mansur.
Saya hanya ingin berbagi tentang sebuah materi mengenai rezeki dan semoga ini dapat bermanfaat.
Tulisan ini sebenarnya muncul dari empat macam keheranan saya terhadap manusia, termasuk diri saya tentunya.
Pertama, kita semua sebagai manusia begitu seringnya menyesali rezeki di masa lalu serta mencemaskan rezeki di masa depan hingga akhirnya lupa untuk mengoptimalkan dan mensyukuri rezeki kita pada hari ini.
Kedua, kita semua seringkali menganggap bahwa diri kita seolah-olah tidak akan mati. Makanya jangan bingung kenapa orang kok rela menukar harga diri, keimanan, bahkan nilai moral mereka dengan harta kekayaan dan kekuasaan.
Ketiga, kita semua seringkali bekerja keras dan melupakan perhatian kepada diri kita sendiri, khususnya kesehatan. Akhirnya semua rezeki yang kita dapatkan kita gunakan kembali untuk membayar segala macam pengobatan dan terapi. Demi mengejar rezeki, hidup menjadi tidak seimbang.
Keempat, sewaktu kita masih menjadi anak-anak dulu, kita sering sekali ingin menjadi cepat dewasa agar bisa melakukan banyak hal. Setelah dewasa, justru kita ingin kembali menjadi seperti anak-anak agar hidup lebih plong dan tidak ada beban. Tidak bersyukur.
Terus, seharusnya diri ini bagaimana dong?
Pertama, kita harus sadar bahwa mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan. Yang seharusnya kita lakukan ialah menata diri agar kita layak dikucuri rejeki. Jadi jangan mengejar rejeki, tetapi biarlah rejeki yang mengejar kita. Buatlah diri kita layak untuk dikejar rezeki. Tingkatkan kompetensi, skill, dan pengalaman.
Kedua, kita harus ingat bahwa “siapa” yang kita miliki itu lebih berharga dari pada “apa” yang kita punyai. Perbanyaklah teman, kurangi musuh. Perluaslah jaringan, karena justru yang membuat rezeki lancar adalah ketika kita mampu memelihara hubungan baik dengan jaringan kita. Perkuat silaturrahim. Apa yang kita punyai sekarang adalah titipan dan hanya merupakan dampak.
Ketiga, seringkali kita menjadi bodoh dengan merasa cemburu dan membandingkan dengan yang dimiliki orang lain. Bersyukurlah dengan apa yang sudah kita terima. Khususnya, kenalilah talenta dan potensi yang kita miliki, lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kita akan menjadi manusia Unggul. Otomatis rejeki yang akan mengejar kita. Intinya kita itu unik, sudah ada alokasi rezekinya masing-masing. Persoalan ingin dapat berapa, tergantung bagaimana usaha dan do'a kita. Bersyukur juga akan membuat rezeki semakin berlimpah. Coba deh.
Keempat, perlu kita ingat, orang yang disebut kaya bukanlah dia yang berhasil mengumpulkan rezeki yang paling banyak, tetapi adalah dia yang hanya memanfaatkan rezeki sesuai apa yang dia butuhkan, sehingga masih sanggup memberi dan menebar manfaat bagi sesamanya. Jika emas itu diukur kemuliaannya dengan karat, bagaimana dengan manusia? Benar, berdasarkan manfaatnya. Semakin besar rezekinya, semakin besar manfaatnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.