|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Sabtu, 1 September 2012 pukul 08:30 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Saya terinspirasi dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh Mbak Shiwy di Grup FB Komunitas TDA Kampus tentang kesombongan seseorang yang menurut saya seringkali terjadi di lingkungan kita sehari-hari.
Di cerita itu dikisahkan ada seorang manajer yang baru diangkat di sebuah perusahaan multinasional. Hari pertama kerja sebagai manajer, dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan yang terbaik. Mulai dari pakaian, wewangian, sampai kendaraan mobil barunya yang baru dia beli. Gengsi, jika seorang manajer hanya menggunakan sepeda motor.
Selanjutnya, si manajer itupun berangkat ke kantor pada pagi harinya. Di perjalanan, tanpa sengaja ada sebuah sepeda motor yang nyaris saja tertabrak karena ngerem mendadak. Sontak si manajer inipun kemudian memarahi habis-habisan si pengguna sepeda motor. Dimaki-maki, dibilang tidak hati-hati, bahkan sampai menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang yang memiliki jabatan tinggi di sebuah perusahaan ternama.
Satu jam kemudian, sampailah dia di kantor perusahaan besar itu. Dia pun berjalan dengan gagah. Menunjukkan statusnya yang tinggi dan tidak sembarangan. Sampai ketika rapat manajer dengan direksi, si manajer baru ini keluar keringat dingin. Kenapa? Orang yang dimaki-makinya tadi adalah bosnya sendiri!
Pernahkah kita melihat kemiripan cerita di atas dengan kehidupan kita sehari-hari? Banyak. Sungguh. Misalnya saya selama ikut di Komunitas TDA dan TDA Kampus, saya tidak pernah tahu dan mengenal nama-nama pendiri Komunitas TDA itu. Tapi, ternyata mereka adalah pengusaha-pengusaha sukses luar biasa, mendapat penghargaan di mana-mana, bahkan sampai luar negeri. Mereka berprestasi dalam ketenangan, kesederhanaan, dan sangat bersahaja. Tapi banyak juga kita temukan mereka yang belum ada apa-apanya sudah mengklaim diri mereka sebagai seorang expert yang sukses. Ternyata? Tidak ada isinya.
Begitu pula dengan sahabat-sahabat di sekeliling saya. Mereka juara olimpiade internasional, mereka baru saja memenangkan lomba dan kompetisi di luar negeri, mereka baru saja mendapatkan penghargaan tingkat nasional atas prestasi mereka, tapi mereka masih sangat terbuka dan mengakar dengan orang-orang sekitarnya. Bahkan awal ketemu mereka, kita menganggap mereka adalah orang kampung yang sangat biasa! Padahal ada juga di sisi lain orang yang tidak pernah menghasilkan prestasi apa-apa, tidak punya karya, tetapi merasa sudah melakukan kontribusi yang optimal dengan sekelilingnya.
Saya sendiri pun masih malu jika orang-orang bilang saya hebat atau apa yang serupa itu. Saya selalu berkaca bahwa masih banyak sekali mereka yang jauh lebih hebat dari saya, tapi mereka sangat rendah hati. Maka, tidak pantaslah diri ini sombong. Sangat tidak pantas. Jika memang emas diukur karat dan manusia diukur manfaat, saya merasa belum memberikan apapun untuk bangsa saya ini.
Semoga tulisan ini bisa menggugah kita untuk terus memperbanyak prestasi dan capaian-capaian hidup kita dengan tetap membuat kita merasa belum ada apa-apa.
“Orang-orang yang hebat tidak perlu berkoar untuk memberitahu orang akan kehebatannya, karena kehebatannya itulah yang akan berbicara sendirinya tentang siapa mereka sebenarnya.”
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.