HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Melalui Tulisan Kita Inspirasi Dunia
24 Agustus 2012 pukul 17:00 WIB
8 Resep Menjadi Penulis Produktif
27 Juli 2012 pukul 16:00 WIB
10 Ciri Pribadi yang Disukai
7 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Words for Writer
4 Juli 2009 pukul 19:21 WIB
Menjadi Motivator? Kenapa Tidak?
13 Juni 2009 pukul 19:21 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 1 September 2012 pukul 08:30 WIB

Berprestasi dengan Rendah Hati

Penulis : Arry Rahmawan

Saya terinspirasi dengan sebuah kisah yang diceritakan oleh Mbak Shiwy di Grup FB Komunitas TDA Kampus tentang kesombongan seseorang yang menurut saya seringkali terjadi di lingkungan kita sehari-hari.

Di cerita itu dikisahkan ada seorang manajer yang baru diangkat di sebuah perusahaan multinasional. Hari pertama kerja sebagai manajer, dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan yang terbaik. Mulai dari pakaian, wewangian, sampai kendaraan mobil barunya yang baru dia beli. Gengsi, jika seorang manajer hanya menggunakan sepeda motor.

Selanjutnya, si manajer itupun berangkat ke kantor pada pagi harinya. Di perjalanan, tanpa sengaja ada sebuah sepeda motor yang nyaris saja tertabrak karena ngerem mendadak. Sontak si manajer inipun kemudian memarahi habis-habisan si pengguna sepeda motor. Dimaki-maki, dibilang tidak hati-hati, bahkan sampai menyebut-nyebut dirinya sebagai seorang yang memiliki jabatan tinggi di sebuah perusahaan ternama.

Satu jam kemudian, sampailah dia di kantor perusahaan besar itu. Dia pun berjalan dengan gagah. Menunjukkan statusnya yang tinggi dan tidak sembarangan. Sampai ketika rapat manajer dengan direksi, si manajer baru ini keluar keringat dingin. Kenapa? Orang yang dimaki-makinya tadi adalah bosnya sendiri!

Pernahkah kita melihat kemiripan cerita di atas dengan kehidupan kita sehari-hari? Banyak. Sungguh. Misalnya saya selama ikut di Komunitas TDA dan TDA Kampus, saya tidak pernah tahu dan mengenal nama-nama pendiri Komunitas TDA itu. Tapi, ternyata mereka adalah pengusaha-pengusaha sukses luar biasa, mendapat penghargaan di mana-mana, bahkan sampai luar negeri. Mereka berprestasi dalam ketenangan, kesederhanaan, dan sangat bersahaja. Tapi banyak juga kita temukan mereka yang belum ada apa-apanya sudah mengklaim diri mereka sebagai seorang expert yang sukses. Ternyata? Tidak ada isinya.

Begitu pula dengan sahabat-sahabat di sekeliling saya. Mereka juara olimpiade internasional, mereka baru saja memenangkan lomba dan kompetisi di luar negeri, mereka baru saja mendapatkan penghargaan tingkat nasional atas prestasi mereka, tapi mereka masih sangat terbuka dan mengakar dengan orang-orang sekitarnya. Bahkan awal ketemu mereka, kita menganggap mereka adalah orang kampung yang sangat biasa! Padahal ada juga di sisi lain orang yang tidak pernah menghasilkan prestasi apa-apa, tidak punya karya, tetapi merasa sudah melakukan kontribusi yang optimal dengan sekelilingnya.

Saya sendiri pun masih malu jika orang-orang bilang saya hebat atau apa yang serupa itu. Saya selalu berkaca bahwa masih banyak sekali mereka yang jauh lebih hebat dari saya, tapi mereka sangat rendah hati. Maka, tidak pantaslah diri ini sombong. Sangat tidak pantas. Jika memang emas diukur karat dan manusia diukur manfaat, saya merasa belum memberikan apapun untuk bangsa saya ini.

Semoga tulisan ini bisa menggugah kita untuk terus memperbanyak prestasi dan capaian-capaian hidup kita dengan tetap membuat kita merasa belum ada apa-apa.

“Orang-orang yang hebat tidak perlu berkoar untuk memberitahu orang akan kehebatannya, karena kehebatannya itulah yang akan berbicara sendirinya tentang siapa mereka sebenarnya.”

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1077 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels