Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Berprestasi dengan Rendah Hati
1 September 2012 pukul 08:30 WIB
Melalui Tulisan Kita Inspirasi Dunia
24 Agustus 2012 pukul 17:00 WIB
8 Resep Menjadi Penulis Produktif
27 Juli 2012 pukul 16:00 WIB
10 Ciri Pribadi yang Disukai
7 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Words for Writer
4 Juli 2009 pukul 19:21 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 7 September 2012 pukul 08:00 WIB

Baik, Buruk, atau Netral?

Penulis : Arry Rahmawan

3 kata yang mungkin akan membuat kita bertanya-tanya. Baik, buruk, ataukah netral? Apa yang terpikir oleh kita jika mendengar baik dan buruk? Paling mudah dan paling cepat menjawabnya pastilah merupakan sebuah kabar, keadaan, atau kondisi.

Seperti yang saya alami di suatu pagi. Waktu itu saat saya bangun pagi dan sedang ada janji dengan client di daerah Kalibata yang sedang ingin konsultasi. Saat saya berangkat dari Depok, sepanjang jalan Lenteng Agung dan Pasar Minggu sangat padat sekali dipenuhi kendaraan. Benar, macet! Alhasil, saya terlambat sekitar satu jam dari waktu perjanjian dan di sana saya disindir habis karena client saya datang tepat waktu.

Ada perasaan kesal dan marah saat saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya itu dikarenakan Jakarta yang macet. Sepanjang perjalanan pun sebenarnya saya kesal sekali karena masalah kemacetan ini semakin parah dari tahun ke tahun dan transportasi umum masih tidak dapat diandalkan. Bukan salah saya. Seandainya tidak macet, saya pasti akan datang tepat pada waktunya.

Sepanjang hari itu saya menggerutu, sampai akhirnya saya teringat oleh sebuah nasihat dari guru saya sewaktu SMP. Dulu saya pernah juga dirundung sebuah masalah berat sewaktu SMP. Selaku ketua OSIS yang idealis, saya sempat dimusuhi oleh teman yang tidak suka dengan kebijakan saya. Kejadian buruk? Belum tentu.

“Setiap kejadian yang menimpa itu sesungguhnya adalah kejadian yang netral.” Itu yang saya ingat nasihat dari guru saya. Kejadian apapun yang kita alami itu sebenarnya adalah kejadian yang berada di pertengahan, netral. Karena netral itulah kita bebas memberikan pemaknaan positif atau negatif dalam setiap kejadian yang kita alami, kecuali kalau memang kejadian itu diatur dalam kitab suci dan hukum yang berlaku secara positif dan negatifnya.

Setelah saya memberikan nilai positif, saya akhirnya bersyukur di waktu saya dimusuhi karena membuat mental saya sebenarnya menjadi semakin kuat dalam menghadapi tekanan. Itu pula yang kemudian membuat teman-teman saya yang kontra justru mendukung saya di kemudian hari dalam menjalankan program kerja. Terkait Jakarta yang macet, saya juga menjadi bersyukur karena dengan kemacetan itu pula dapat melatih saya untuk bangun lebih pagi. Tidak tidur lagi setelah subuh, agar tidak terkena macet ketika ada janji pertemuan. Hasilnya justru hari-hari saya menjadi lebih semangat.

Sama hal nya juga dalam dunia bisnis yang keras. Bagaimanapun keadaanya, ditipu client, pegawai yang kabur tidak kembali lagi, dikhianati partner, barang tidak laku, dan lain sebagainya, itu terserah kita, mau dianggap sebagai kejadian yang baik atau buruk, karena sebenarnya semua kejadian tersebut adalah netral. Seperih atau segembira apapun kejadian, semua itu tergantung dari kita. Maka hasilnya pun akan ada dua pilihan: mengamuk atau bersyukur atas apa yang kita dapatkan.

Allah sendiri berfirman, "Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’.” (QS. 14 : 7).

Manakah yang lebih kita sukai? Tentu pilihan kedua bukan? Coba kalau kita mengamuk dan marah-marah, pasti nantinya kita sendiri yang akan rugi karena hari-hari kita akan menjadi suram. Marah selama 1 jam, berarti kita kehilangan waktu 60 menit untuk tersenyum bukan?

Maka, bersama ini saya juga belajar semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih positif, proaktif, produktif, dan juga selalu dipenuhi rasa syukur. Bersyukur atas setiap kejadian yang dialami, agar kita mampu mengambil hikmah terdalam. Menetralkan semua kejadian, dan menariknya dalam sisi positif penuh kesyukuran.

Makna yang kita berikan pada setiap kejadian yang menimpa akan menentukan seberapa besar mental dan kedewasaan diri kita.

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Salsabila | Mahasiswi
Subhanallah... Walhamdulillah... Sarana dari KSC lengkap banget. Semoga bermanfaat buat kita. Amin...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1434 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels