|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Jum'at, 7 September 2012 pukul 08:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
3 kata yang mungkin akan membuat kita bertanya-tanya. Baik, buruk, ataukah netral? Apa yang terpikir oleh kita jika mendengar baik dan buruk? Paling mudah dan paling cepat menjawabnya pastilah merupakan sebuah kabar, keadaan, atau kondisi.
Seperti yang saya alami di suatu pagi. Waktu itu saat saya bangun pagi dan sedang ada janji dengan client di daerah Kalibata yang sedang ingin konsultasi. Saat saya berangkat dari Depok, sepanjang jalan Lenteng Agung dan Pasar Minggu sangat padat sekali dipenuhi kendaraan. Benar, macet! Alhasil, saya terlambat sekitar satu jam dari waktu perjanjian dan di sana saya disindir habis karena client saya datang tepat waktu.
Ada perasaan kesal dan marah saat saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya itu dikarenakan Jakarta yang macet. Sepanjang perjalanan pun sebenarnya saya kesal sekali karena masalah kemacetan ini semakin parah dari tahun ke tahun dan transportasi umum masih tidak dapat diandalkan. Bukan salah saya. Seandainya tidak macet, saya pasti akan datang tepat pada waktunya.
Sepanjang hari itu saya menggerutu, sampai akhirnya saya teringat oleh sebuah nasihat dari guru saya sewaktu SMP. Dulu saya pernah juga dirundung sebuah masalah berat sewaktu SMP. Selaku ketua OSIS yang idealis, saya sempat dimusuhi oleh teman yang tidak suka dengan kebijakan saya. Kejadian buruk? Belum tentu.
“Setiap kejadian yang menimpa itu sesungguhnya adalah kejadian yang netral.” Itu yang saya ingat nasihat dari guru saya. Kejadian apapun yang kita alami itu sebenarnya adalah kejadian yang berada di pertengahan, netral. Karena netral itulah kita bebas memberikan pemaknaan positif atau negatif dalam setiap kejadian yang kita alami, kecuali kalau memang kejadian itu diatur dalam kitab suci dan hukum yang berlaku secara positif dan negatifnya.
Setelah saya memberikan nilai positif, saya akhirnya bersyukur di waktu saya dimusuhi karena membuat mental saya sebenarnya menjadi semakin kuat dalam menghadapi tekanan. Itu pula yang kemudian membuat teman-teman saya yang kontra justru mendukung saya di kemudian hari dalam menjalankan program kerja. Terkait Jakarta yang macet, saya juga menjadi bersyukur karena dengan kemacetan itu pula dapat melatih saya untuk bangun lebih pagi. Tidak tidur lagi setelah subuh, agar tidak terkena macet ketika ada janji pertemuan. Hasilnya justru hari-hari saya menjadi lebih semangat.
Sama hal nya juga dalam dunia bisnis yang keras. Bagaimanapun keadaanya, ditipu client, pegawai yang kabur tidak kembali lagi, dikhianati partner, barang tidak laku, dan lain sebagainya, itu terserah kita, mau dianggap sebagai kejadian yang baik atau buruk, karena sebenarnya semua kejadian tersebut adalah netral. Seperih atau segembira apapun kejadian, semua itu tergantung dari kita. Maka hasilnya pun akan ada dua pilihan: mengamuk atau bersyukur atas apa yang kita dapatkan.
Allah sendiri berfirman, "Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’.” (QS. 14 : 7).
Manakah yang lebih kita sukai? Tentu pilihan kedua bukan? Coba kalau kita mengamuk dan marah-marah, pasti nantinya kita sendiri yang akan rugi karena hari-hari kita akan menjadi suram. Marah selama 1 jam, berarti kita kehilangan waktu 60 menit untuk tersenyum bukan?
Maka, bersama ini saya juga belajar semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih positif, proaktif, produktif, dan juga selalu dipenuhi rasa syukur. Bersyukur atas setiap kejadian yang dialami, agar kita mampu mengambil hikmah terdalam. Menetralkan semua kejadian, dan menariknya dalam sisi positif penuh kesyukuran.
Makna yang kita berikan pada setiap kejadian yang menimpa akan menentukan seberapa besar mental dan kedewasaan diri kita.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.