|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 20 September 2012 pukul 10:45 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Bapak...
Teringat dua tahun yang lalu, ketika kita bertemu di kantor bapak. Kau terlihat sehat dan bugar, walaupun kadang diselingi tatapan mata kosong sambil menghela napas dan pikiran yang menerawang. Juga, kau lain dari biasanya saat itu, merokok. Padahal sudah berpuluh tahun kau berhenti merokok. Sepertinya kau sedang menghadapi banyak masalah, tapi selalu saja kau pendam sendiri.
Bapak...
Setahun kemudian, Allah SWT mengambil salah seorang mutiara yang selama ini selalu menjadi 'body guard'. Tampak kesedihan yang begitu mendera, tapi kau tetap berusaha untuk tegar. Tak sengaja, mata ini melihat kaki bapak. Sedih rasanya, kaki itu terlihat bengkak dan menghitam. Tanda apakah itu? Penyakitkah? Hanya tebakan dan praduga yang bisa tersampaikan, tak berani bertanya.
Bapak...
Tak lama setelah itu, kondisi kesehatan bapak menurun. Tiba-tiba kau sering mengigau, dan fisik menjadi semakin lemah. Berjalanpun pelan dan tak segesit biasanya. Hingga akhirnya kau masuk rumah sakit. Ah, ternyata ginjal yang selama ini telah dikatakan sembuh, divonis kronis oleh dokter. Dan tanpa diduga, muncul penyakit jantung karena 'shock', turut menambah beban bapak.
Bapak...
Kini, kau harus menjalani perawatan rutin berupa cuci darah, dua kali dalam seminggu. Tentu hal tersebut membutuhkan kondisi fisik yang stabil dan biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillaah, ada pihak yang peduli, dengan membantu meringankan beban bapak. Tak usah pikirkan tentang apapun, jalani semuanya dengan ikhlas karena-Nya. Insya Allah kesembuhan kan tiba pada saatnya.
Bapak...
Maaf beribu maaf, diri ini belum bisa maksimal dalam membahagiakan bapak. Tak bisa menunggui selama di rumah sakit, telepon kadang tak terjawab, juga tak bisa memenuhi semua permintaan. Ingin rasanya diri ini melihat bapak bahagia, tapi apa daya, semua itu masih dalam angan. Maka ijinkan diri ini, untuk membahagiakan bapak, sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.