Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Tradisi Sunat Menyunat
3 September 2012 pukul 09:30 WIB
Surat Keterangan Kesehatan
28 Agustus 2012 pukul 10:00 WIB
Shalat Id tak Harus Blokir Jalan
22 Agustus 2012 pukul 09:15 WIB
Buka Puasa Bersama
16 Agustus 2012 pukul 09:00 WIB
Melintas di Depan Orang yang Sedang Shalat
10 Agustus 2012 pukul 13:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 9 September 2012 pukul 08:30 WIB

Tertipu oleh Penampilan

Penulis : Mujahid Alamaya

H+1 Lebaran kemarin, ketika saya silaturrahim ke rumah orangtua, pergi dan pulang menggunakan angkutan umum alias angkot. Untuk sampai di tujuan, saya harus dua kali naik angkot. Ada yang membuat saya menggerutu ketika saya naik angkot di salah satu jurusan. Di jurusan tersebut, pengemudinya banyak yang berasal dari salah satu suku, yang biasanya suka menaikan ongkos semaunya. Sejak awal, saya sudah memprediksi hal ini, karena biasanya memang begitu, apalagi jika penumpang itu terlihat seperti baru datang dari luar kota.

Saat pergi, pengemudi angkotnya berasal dari salah satu suku tersebut. Di beberapa ruas jalan, sempat mengalami kemacetan dan harus memutar karena jalan tersebut ditutup. Dan ketika ada orang yang menanyakan jurusan, pengemudi angkot tersebut malah memintanya untuk naik angkotnya dan kemudian berganti angkot di suatu jalan, padahal sebenarnya ada angkot yang langsung. Melihat kondisi tersebut, saya ada kekhawatiran ongkosnya akan dinaikan. Tapi kekhawatiran saya meleset. Ketika saya turun dari angkot, ongkosnya tidak dinaikan.

Saat pulang, pengemudi angkotnya berasal dari suku yang sama dengan saya. Selain satu suku, penampilan pengemudi angkot tersebut cukup meyakinkan. Berpeci dan berjanggut. Saya pikir, orangnya agamis dan saya tidak ada kekhawatiran apapun. Namun keganjilan mulai terasa ketika saya memerhatikan seorang penumpang yang membayar ongkos. Dan ketika saya turun dari angkot, ternyata ongkosnya dinaikan, padahal jalanan lancar dan hanya sedikit tersendat. Saat saya protes, "Kan Lebaran," katanya. Tak mau ribut, saya bergegas pergi.

Ternyata, saya tertipu oleh penampilan. Penampilan agamis, tapi ternyata sikapnya tidak agamis. Miris saya melihatnya. Juga malu karena ternyata praduga saya salah. Penampilan memang bukan segalanya, tapi segalanya bisa berawal dari penampilan. Dan akan lebih baik jika penampilan luar dibarengi dengan penampilan dalam yang baik. Apalagi jika berpenampilan agamis, maka harus pula dibarengi dengan akhlak yang baik. Jangan sampai berpenampilan agamis, tapi mendapat label yang jelek gara-gara masalah yang sepele. Na'udzubillah.

http://dekaes.com

Suka
Devi Nurmala menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1055 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels