|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Ahad, 9 September 2012 pukul 08:30 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
H+1 Lebaran kemarin, ketika saya silaturrahim ke rumah orangtua, pergi dan pulang menggunakan angkutan umum alias angkot. Untuk sampai di tujuan, saya harus dua kali naik angkot. Ada yang membuat saya menggerutu ketika saya naik angkot di salah satu jurusan. Di jurusan tersebut, pengemudinya banyak yang berasal dari salah satu suku, yang biasanya suka menaikan ongkos semaunya. Sejak awal, saya sudah memprediksi hal ini, karena biasanya memang begitu, apalagi jika penumpang itu terlihat seperti baru datang dari luar kota.
Saat pergi, pengemudi angkotnya berasal dari salah satu suku tersebut. Di beberapa ruas jalan, sempat mengalami kemacetan dan harus memutar karena jalan tersebut ditutup. Dan ketika ada orang yang menanyakan jurusan, pengemudi angkot tersebut malah memintanya untuk naik angkotnya dan kemudian berganti angkot di suatu jalan, padahal sebenarnya ada angkot yang langsung. Melihat kondisi tersebut, saya ada kekhawatiran ongkosnya akan dinaikan. Tapi kekhawatiran saya meleset. Ketika saya turun dari angkot, ongkosnya tidak dinaikan.
Saat pulang, pengemudi angkotnya berasal dari suku yang sama dengan saya. Selain satu suku, penampilan pengemudi angkot tersebut cukup meyakinkan. Berpeci dan berjanggut. Saya pikir, orangnya agamis dan saya tidak ada kekhawatiran apapun. Namun keganjilan mulai terasa ketika saya memerhatikan seorang penumpang yang membayar ongkos. Dan ketika saya turun dari angkot, ternyata ongkosnya dinaikan, padahal jalanan lancar dan hanya sedikit tersendat. Saat saya protes, "Kan Lebaran," katanya. Tak mau ribut, saya bergegas pergi.
Ternyata, saya tertipu oleh penampilan. Penampilan agamis, tapi ternyata sikapnya tidak agamis. Miris saya melihatnya. Juga malu karena ternyata praduga saya salah. Penampilan memang bukan segalanya, tapi segalanya bisa berawal dari penampilan. Dan akan lebih baik jika penampilan luar dibarengi dengan penampilan dalam yang baik. Apalagi jika berpenampilan agamis, maka harus pula dibarengi dengan akhlak yang baik. Jangan sampai berpenampilan agamis, tapi mendapat label yang jelek gara-gara masalah yang sepele. Na'udzubillah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.