|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Jum'at, 10 Agustus 2012 pukul 13:30 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Beberapa hari lalu ketika shalat subuh di masjid, saya datang saat iqamat berakhir. Karena shaf di bagian paling belakang sudah penuh dan tersisa buat satu orang, maka saya langsung menempati shaf tersebut. Kebetulan shaf tersebut berada di samping pintu. Sebelum memutuskan untuk menempati shaf tersebut, saya melihat ke belakang untuk memastikan pintu samping di belakang shaf saya terbuka. Setelah yakin bahwa pintu terbuka, maka saya segera bermakmum.
Beberapa menit setelah takbir, tepatnya ketika imam membaca surat setelah Al-Fatihah, tiba-tiba datang seorang bapak berbadan gemuk, tapi saya tidak begitu memperhatikannya. Ia mendorong saya dengan kuat supaya ia bisa melewati saya dan masuk ke dalam masjid, sambil berkata, "Jalan kok malah ditutup." Hampir saja saya terjatuh, beruntung bisa menahannya dan juga tertahan oleh orang yang shalat di samping saya. Buyarlah konsentrasi saya saat itu.
Sebelum takbir, saya melihat ada orang lain yang hendak memasuki masjid, tapi karena ia melihat saya sedang takbir, ia kembali mundur dan sepertinya masuk lewat pintu samping di belakang saya. Jadi saya tenang saja karena berkeyakinan bahwa orang lain bisa masuk lewat pintu tersebut. Tapi pikiran saya benar-benar kacau gara-gara ulah bapak berbadan gemuk tadi. Saya jadi merasa bersalah jika ternyata pintu samping di belakang saya tidak bisa dibuka.
Selesai shalat, saya memastikan ke sekeliling. Ternyata pintu samping tersebut terbuka dan di belakang shaf saya banyak jama'ah lain sampai membentuk 2 shaf. "Jadi, kenapa bapak tersebut mendorong saya? Apa dia tidak melihat pintu lain yang terbuka?" batin saya. Ah, mungkin saja bapak berbadan gemuk tersebut tidak melihat pintu lain atau tidak tahu bahwa sebenarnya kita tidak boleh melintas di depan orang yang sedang shalat, apalagi sampai mendorongnya.
Sepertinya larangan melintas di depan orang yang sedang shalat ini harus lebih sering disosialisasikan di masjid-masjid, karena Rasulullah SAW mengecam orang yang suka berlalu lalang di hadapan orang yang sedang mendirikan shalat. Sebab, pada hakikatnya, orang yang shalat itu sedang berhadapan dengan Allah SWT. "Lebih baik salah seorang di antara kalian berdiri seratus tahun daripada berjalan di hadapan saudaranya yang sedang shalat." (HR Muslim).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.