|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 6 Februari 2012 pukul 10:10 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Suatu hari, dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, saya mengobrol dengan salah seorang sahabat mengenai banyak hal. Entah obrolan apa yang memulai, tibalah pada pembahasan mengenai toilet. Intinya, kami tidak suka dengan kondisi toilet yang notabene standar internasional tapi menyulitkan kami ketika hendak bersuci.
Banyak tempat yang menyediakan toilet lengkap dengan airnya sebagai sarana bersuci, dan tidak sedikit tempat yang menyediakan toilet dimana tidak ada air dan digantikan dengan tisu sebagai sarana bersuci. Di banyak tempat, khususnya gedung-gedung elit, banyak toilet yang tidak menyediakan air dan menggantinya dengan tisu.
Suatu waktu, beberapa kali saya pernah dalam kondisi (maaf) kebelet. Setelah mencari ke sana ke mari, saya tidak menemukan toilet yang lengkap dengan airnya, bahkan saya pernah menemukan toilet yang lantainya berkarpet. Kalaupun ada air, letaknya jauh di basement yang merupakan area parkir. Mungkin toilet tersebut disediakan buat para sopir atau karyawan.
Jikalau saya menemukan toilet lengkap dengan air, kondisinya mengharuskan lantai dalam keadaan kering alias air tersebut hanya digunakan di atas closet. Jika air tersebut digunakan di lantai, otomatis airnya akan meluber ke mana-mana karena ketinggian lantai di dalam bilik toilet sejajar dengan lantai di luar bilik toilet. Merepotkan sekali.
Pernah ketika di toilet bandara Juanda Surabaya, kondisi saat itu mengharuskan bersuci dengan membersihkan kaki. Saya khawatir jika kaki saya terkena najis. Baru beberapa menit menyemprotkan air, tiba-tiba petugas cleaning service menggedor pintu toilet dan berteriak sewot tidak boleh mandi dan lantai harus kering.
"Siapa yang mandi? Muslim bukan sih dia?" gerutu saya dalam hati. Saya terus melanjutkan membersihkan kaki, airnya tidak meluber ke luar karena ketinggian lantai di dalam bilik toilet lebih rendah dibanding lantai di luar bilik toilet. Ketika ke luar dari toilet, saya lihat pandangan sinis petugas cleaning service sambil menggerutu.
"Kering itu sehat, jangan meninggalkan jejak untuk orang lain." Begitulah kira-kira tulisan yang terpampang di toilet setiap bandara. Betul, kering itu sehat, tetapi bukan berarti toilet tidak boleh basah. Apalagi kondisi budaya di Indonesia yang mayoritas menggunakan air untuk bersuci, khususnya umat muslim yang harus memperhatikan unsur syar'i.
Tidak hanya di tempat umum, di masjid sebagai sarana ibadahpun banyak terdapat toilet yang tidak memenuhi standar syar'i. Ada yang hanya menyediakan tempat kencing di tempat terbuka, ada pula yang menyediakan toilet alakadarnya saja. Padahal seharusnya, masjid sebagai sarana ibadah sekaligus edukasi, menyediakan toilet sesuai dengan standar syar'i.
Banyak pengalaman saya maupun sahabat saya mengenai permasalahan toilet. Kami harus ekstra hati-hati jika ingin ke toilet di tempat umum, khususnya di gedung-gedung elit. Kami bukannya ribet, tapi kami khawatir jika ada najis yang terlewat kami bersihkan. Bukankah najis adalah salah satu sebab azab kubur?
Nabi SAW bersabda saat mendatangi sebuah kubur, "Sesungguhnya keduanya (penghuninya) sedang mendapat siksa. Keduanya tidak disiksa karena perkara yang besar. Adapun salah satunya karena tidak menutupi (dengan bersih) dari kencingnya. Adapun yang kedua karena sering namimah (menjelekkan orang lain)." (HR. Bukhari : 218).
Beliau juga bersabda, "Bersihkan dirimu dari kencing, sebab kebanyakan siksa kubur disebabkan olehnya." (HR. Ad-Daraqutni).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.