|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Kamis, 24 November 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Seperti kita ketahui, hidup di kota besar selalu dikaitkan dengan materi. Mau ini dan itu harus mengeluarkan biaya, salah satunya adalah dalam menggunakan sarana transportasi publik. Dan saya termasuk salah satu pengguna transportasi publik. Jika menuju tempat kerja, saya bisa menggunakan Metro Mini atau Bis Kota dengan biaya beberapa ribu rupiah untuk pergi dan pulang. Untuk menghemat biaya, saya sering jalan kaki.
Suatu hari di tempat kerja, setelah saya pindah ruangan, salah seorang manajer di ruangan tersebut memerlukan bantuan saya untuk mengerjakan suatu hal di rumahnya. Sepulang dari rumahnya, ia mengantar saya pulang sampai jalan utama di mana saya tinggal, padahal saya sudah menolaknya.
Beberapa waktu kemudian, ia mengajak saya pulang bareng, mungkin karena sudah mengetahui di mana saya tinggal. Biasanya dalam perjalanan pulang, ia tidak melewati jalur di mana saya tinggal, tetapi lewat jalur lain. Semenjak itu, ia selalu pulang melewati jalur di mana saya tinggal dan bareng dengan saya. Karena saya selalu pulang bareng dengan teman, maka teman saya pun ikut pulang bareng. Teman saya tersebut tinggal satu kawasan dengan rumah sang manajer.
Sudah lebih dari 2 tahun kami mendapatkan tumpangan gratis dari sang manajer, walaupun kadang tidak tiap hari. Ketika kami pulang agak telat, ia selalu menunggu di parkiran sampai kami datang. Atau, ketika hari itu kami tidak bertemu, ia selalu menelepon satu di antara kami dan menanyakan apakah mau pulang bareng atau tidak. Begitu setiap hari.
Sesekali, beberapa rekan kerja yang lain turut serta dalam tumpangan gratis dari sang manajer. Jika jalur yang dituju rekan kerja tersebut tidak biasa kami lalui, maka sang manajer akan melewati jalur yang dituju rekan kerja tersebut walaupun harus memutar dalam jarak yang cukup jauh. Bahkan, teman saya yang tinggal satu kawasan dengan rumah sang manajer, selalu diantar sampai di dekat rumah teman saya itu, dan sang manajer harus memutar kembali untuk menuju ke rumahnya.
Saya jadi teringat dengan tausyiah Aa Gym yang intinya, "Kalau kita bepergian dengan menggunakan kendaraan dan di jalan ada orang lain yang berjalan kaki, kenapa tidak kita ajak untuk bareng dengan kita. Lalu bagaimana kalau menggunakan motor? Tidak ada salahnya kita selalu membawa helm 2. Jika niat kita karena Allah SWT, insya Allah sudah termasuk sedekah."
Semoga tumpangan gratis dari sang manajer untuk saya, teman saya, dan beberapa rekan kerja yang lain bernilai sedekah di mata Allah SWT.
"Terima kasih, pak."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.