Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Shalat Berjama'ah
6 Juni 2011 pukul 10:00 WIB
Apakah Engkau?
11 Mei 2011 pukul 12:21 WIB
Kapan Nikah?
9 Mei 2011 pukul 09:09 WIB
Karena Cinta Tak Harus Memiliki
2 Mei 2011 pukul 13:00 WIB
Empati dari Pak Satpam
20 April 2011 pukul 11:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 19 Juni 2011 pukul 11:55 WIB

Bukan Pilihan Hati

Penulis : Mujahid Alamaya

Malam semakin larut. Sebentar lagi pagi menjelang. Ana masih terjaga. Matanya sembab, sarung bantal basah, dan bantal menjadi saksi atas kepedihan yang dialami Ana.

Beberapa minggu terakhir Ana memang sering menangis. Ia bingung bagaimana harus bersikap dalam menentukan pilihan siapa yang akan mendampingi hidupnya kelak.

Raja adalah pilihan hatinya. Ia sangat mencintai Raja, begitu juga Raja sangat mencintai Ana. Beberapa perbedaan yang sempat mencuat, berhasil mereka atasi. Dan, menikah adalah keputusannya.

Keputusan Ana untuk menikah dengan Raja mendapat tentangan dari teman-teman dan lingkungannya tempat beraktifitas. Padahal, keluarga Ana tidak mempermasalahkan dengan siapa ia bakal menikah.

Karena tentangan itu, Ana semakin bingung. Maklum, sifat Ana memang selalu merasa tidak enak dengan orang lain. Saat kebingungannya itu, salah seorang teman dari tempatnya beraktifitas menyodorkan seorang lelaki pilihannya untuk menjadi pendamping Ana, Adi namanya.

"Raja atau Adi?" tanya Ana dalam hati.

Setiap malam, hati Ana selalu berkecamuk. Menjelang tidur, ia selalu menangis. Menangis karena bingung dalam menentukan sikap. Jika memilih Raja, ia merasa tidak enak dengan temannya yang sangat dihormatinya itu. Dan jika ia memilih Adi, tentu ia akan membuat Raja kecewa.

"Adi memang baik. Agamanya pun bagus dan mungkin ke depannya bisa bersinergi dalam beraktifitas. Tapi, Raja adalah sosok yang selama ini kudambakan. Aku merasa nyaman dengannya. Pilihanku adalah Raja," pikir Ana.

Keputusan Ana sudah bulat, Raja adalah pilihannya.

"Coba kau pikirkan lagi matang-matang. Siapa itu Raja? Sedangkan Adi, ia baik agamanya dan bisa mendampingimu dalam beraktifitas. Lagi pula, Adi adalah orang yang cocok menurutku," perkataan temannya selalu membayangi Ana setiap saat.

Waktu terus berlalu. Istikharah dan konsultasi sering Ana lakukan. Ia masih saja bimbang.

Akhirnya, karena desakan temannya itu dan untuk menghormati beliau, Ana rela mengorbankan cintanya. Ana akan memilih Adi sebagai pendamping hidupnya.

"Mungkin Adi-lah yang terbaik yang telah Allah SWT pilihkan untukku. Jika memang proses dengan Adi lancar, maka Adi memang jodohku," batin Ana.

Ana menyerahkan semuanya pada temannya itu. Semua diatur oleh temannya. Dan proses menuju pernikahan pun berjalan dengan cepat. Ta'aruf, Khitbah, dan persiapan Akad Nikah berlangsung lancar tanpa ia duga.

Beberapa minggu menjelang akad nikah, Ana masih bimbang. Ia merasa telah mengecewakan Raja. Ana merasa bersalah pada Raja. Dan Ana pun berkali-kali minta maaf pada Raja.

"Gak mungkin aku membatalkan khitbah. Dampaknya akan besar. Aku akan mengecewakan Adi, temanku, dan tentu kedua keluarga," ungkap Ana saat berkomunikasi dengan sahabatnya.

Saat itu, sahabatnya Ana memberitahu bahwa Raja sedang sakit. Raja terus memikirkan Ana. Raja menerima keputusan Ana, tapi ia masih butuh waktu untuk melupakan Ana.

"Adi memang bukan pilihan hatiku. Tapi, sepertinya Allah SWT berkehendak lain. Prosesku dengan Adi berlangsung cepat tanpa kuduga. Mungkin Adi adalah pilihan Allah SWT untukku. Pilihan yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah kan?" Ana meyakinkan diri pada sahabatnya itu.

Hari yang ditentukan tiba. Akad nikah berjalan lancar. Adi telah resmi menjadi suami Ana.

"Kau memang bukan pilihan hatiku. Tapi, kau adalah pilihan Allah SWT untukku. Insya Allah, aku akan memberikan yang terbaik untukmu, karena kau adalah suamiku," ucap Ana dalam hati.

Pernikahan Ana dengan Adi bukan atas dasar cinta, tapi mereka berkomitmen untuk membangun dan menumbuhkan cinta. Cinta karena Allah SWT. Ana yakin dengan pilihan yang diberikan Allah SWT, karena Ia mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya.

http://dekaes.com

Suka
Widia Aslima, Nurliyanti, dan syahirman syahril menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1371 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels