|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Selasa, 12 Juli 2011 pukul 10:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Setiap hari ketika berangkat kerja, biasanya saya berjalan kaki menuju Blok M. Saya selalu melewati jalan Panglima Polim. Di pagi hari, di jalan tersebut diberlakukan contra flow ke arah Blok M. Saya menyusuri trotoar di sebelah kanan, karena lebih nyaman dan terhindar dari terik matahari.
Suatu hari, di jalan tersebut, saya melihat dengan jelas ada seseorang yang terpental dan terguling. Tidak sampai beberapa meter memang, tapi rasanya tentu sakit. Sepertinya orang tersebut tertabrak sebuah mobil yang melaju agak kencang di jalur contra flow.
Mobil yang menabrak berhenti. Semua pandangan orang-orang di sekitar tempat kejadian tertuju pada orang itu. Saya lihat, orang itu langsung bangun, berdiri, dan berjalan. Saya tidak melihat luka yang parah pada orang itu, karena hanya melihat dari seberang jalan.
Beberapa orang di sekitar hendak menghampiri orang itu, mungkin mau menolong. Terlihat seseorang yang katanya 'Pengayom Masyarakat' juga ikut menghampiri. Tiba-tiba ia langsung berhenti dan berkata, "Oh, orang gila. Biarkan saja. Orang gila tuh, tidak apa-apa."
Orang itu terus berjalan kaki meninggalkan tempat kejadian, mobil penabrak langsung melaju ke arah Blok M. Orang-orang di sekitarpun bubar dan kembali ke aktifitasnya masing-masing. Saya meneruskan perjalanan ke arah Blok M, karena waktu semakin beranjak.
Di lain hari, di perempatan Melawai, pandangan saya tertuju pada seorang 'Pengayom Masyarakat' yang menerobos padatnya kendaraan yang melaju agak kencang ke arah Blok M. "Ada apa ya, kok 'Pengayom Masyarakat' itu berjalan ke tengah?" pikir saya saat itu.
Beberapa meter berlalu, pandangan saya masih tertuju pada 'Pengayom Masyarakat' itu. Saya lihat, ia sedang menuntun seorang lelaki bertelanjang dada menyebrang jalan di depan Blok M Plaza. Arus kendaraan saat itu lumayan padat dengan kecepatan sedang.
Pandangan sayapun masih tertuju pada mereka berdua. 'Pengayom Masyarakat' itu membawanya sampai ke pinggir jalan. Di pinggir jalan, 'Pengayom Masyarakat' itu membiarkannya pergi. "Mmm... Sepertinya orang 'gila'. Baik sekali 'Pengayom Masyakarat' itu," pikir saya.
Beberapa meter berlalu, saya masih memperhatikan mereka. Orang 'gila' itu berjalan menuju arah Blok M. 'Pengayom Masyarakat' itu berlari kecil menghampiri orang 'gila' itu dan kemudian menggandengnya. Ia mengarahkan agar orang 'gila' itu berjalan ke arah Bulungan.
Arus lalu lintas ke arah Blok M masih padat. Sambil menyusuri trotoar, saya lihat orang 'gila' itu berjalan ke arah Bulungan dan 'Pengayom Masyarakat' itu kembali bertugas. "Sungguh perbuatan yang mulia. Saya dan mungkin orang lain belum tentu mau berbuat seperti itu," batin saya.
Dua sisi yang berbeda. Begitulah saya lihat dari sikap 'Pengayom Masyarakat' terhadap dua kejadian tersebut. Sama-sama 'Pengayom Masyarakat', tapi berbeda sikap dalam mengayomi orang yang katanya 'gila'. Saya tidak ingin berpanjang lebar, biarlah Anda yang menilai dan menyimpulkan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.