HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://alamaya.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
PNS (Pegawai Non Struktural)
Berkacamata, itulah aku. Orang lebih mengenalku dengan nama asliku, Dudung Kurnia Sundana, sebuah nama khas Sunda pemberian dari kakek dan bapak. Sedangkan Mujahid Alamaya adalah cybername-ku sebagai Ponggawa KotaSantri.com (KSC). Pria berperawakan kutilang alias kurus, tinggi, langsing (Itu sih kata orang) mempunyai hal yang unik, temenku bilang aku ini "Baby …
http://dekaes.com
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya@kotasantri.net
mujahid.alamaya
mujahid.alamaya
http://facebook.com/alamaya
ponggawa.ksc@gmail.com
Tulisan Mujahid Lainnya
Arogansi 'Kijang Merah'
12 Desember 2011 pukul 09:09 WIB
Tumpangan Gratis
24 November 2011 pukul 10:00 WIB
Ukhuwah : Connecting People
22 September 2011 pukul 12:00 WIB
Berlalu Begitu Saja
30 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB
Dua Sisi yang Berbeda
12 Juli 2011 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 22 Desember 2011 pukul 11:22 WIB

Pemimpin yang Bikin Repot Masyarakat

Penulis : Mujahid Alamaya

Tadi siang, di sebuah jalan di kawasan Dago, ketika saya berjalan kaki hendak ke sebuah toko untuk mengurus pengajuan proposal baksos, saya merasa heran melihat banyaknya polisi yang berjaga-jaga. Dengan penuh tanya, saya tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil sesekali melihat ke sana ke mari memperhatikan keadaan sekitar.

Makin masuk ke dalam jalan tersebut, jalanan macet dan makin banyak polisi yang berjaga-jaga. Ada apa gerangan? Sampai akhirnya, beberapa puluh meter sebelum toko, terlihat beberapa tentara dengan moncong senjata berdiri di tengah jalan. “Ada apa ya? Ada pejabat, demonstrasi, apa ada teroris?” pikir saya dalam hati. Saya jadi deg-degan.

Di depan saya, ada beberapa orang yang berkerumun. Sepertinya mahasiswa dan pegawai kantoran. Entah sedang apa di sana. Yang pasti, mereka tidak berani melewati barisan tentara yang berjaga di tengah jalan. Di belakang barisan tentara, ada beberapa orang yang berjalan kaki ke arah saya, mungkin sedang lewat.

Baru saja beberapa langkah melewati mobil polisi yang dipalangkan di jalan, seorang polisi bertanya, “Mau ke mana, mas?” Saya pun menjawab, “Mau ke toko itu.” Polisi itu pun mengangguk. Beberapa langkah kemudian, seorang tentara bertanya, “Mau ke mana? Saya pun menjawab dengan jawaban yang sama dan tentara itu pun mengangguk.

Akhirnya, saya sampai juga di toko yang dimaksud dan rasa tegang pun hilang. Saya segera mengurus urusan saya. Setelah urusan saya di toko tersebut selesai, lalu saya bertanya kepada satpam yang berjaga di toko. Jawabnya, “Ada Presiden. Katanya mau meresmikan gedung baru. Jalan ke arah sana ditutup, tidak boleh ada yang masuk.”

Waduh, sampai segitunya menyambut kedatangan Presiden. Demi kepentingan orang nomor satu di Indonesia, aparat keamanan rela membuat masyarakat sengsara. Jalan utama di sekitar gedung ditutup total, jalan alternatif macet di mana-mana. Orang yang berkepentingan di daerah sekitar itu hanya boleh lewat dengan jalan kaki.

Kejadian ini bukan kejadian pertama yang saya alami. Pernah beberapa kali saya harus rela ‘kehilangan waktu’ lantaran orang nomor satu di Indonesia lewat, baik di Bandung maupun di Jakarta. Tapi, kejadian yang saya alami tadi siang, berbeda dengan biasanya, yakni banyaknya tentara yang diterjunkan lengkap dengan moncong senjata. Duh…

Dalam perjalanan pulang, saya berpikir, “Apa pantas seorang pemimpin diperlakukan ‘istimewa’ seperti itu?” Ah…, saya hanya bisa berandai-andai jika suatu saat nanti mempunyai pemimpin yang tidak akan menyengsarakan masyarakat, pemimpin yang mau melihat apa yang dialami masyarakat saat dia memimpin. Tapi, kapankah?

http://dekaes.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Moh. Iwan Ihyak Ulumuddin | Pelajar
Ingin sekali gabung, sharing ilmu, and so on.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1124 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels