|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 2 November 2009 pukul 17:15 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Empat tahun yang lalu, kita saling mengenal. Bermula dari dunia maya, kemudian sama-sama aktif dalam komunitas yang sama. Aku, saat itu, seperti patung yang tidak peka. Hingga akhirnya ku tersadar, ketika teman-teman sering menyindirku. “Ah, rupanya kau perhatian sekali.”
Suatu hari, tak sengaja kita berpapasan. Dalam guyuran hujan, kau menyapaku. Aku pun berbalik arah, untuk mendengar apa yang ingin kau katakan. Air matamu menetes, ketika kau bertanya kalau aku akan menikah dalam waktu dekat. “Ah, dapat gosip dari mana?”
Tiga tahun yang lalu, interaksi kita berkurang. Hingga pada suatu hari, kau memintaku untuk menemanimu memilihkan barang keinginanmu dan makan di tempat favorit komunitas kita, tentu kau selalu minta ditraktir. “Ah, aku pun harus meluangkan waktu.”
Seiring berjalannya waktu, kesibukanku dan kesibukanmu telah memisahkan kita. Hingga, dua tahun yang lalu, kau bercerita bahwa ada seseorang yang ingin mengenalmu. Wajahmu menunduk ketika kau mengatakan hal itu. “Ah, aku bersyukur dan senang, sekaligus sedih.”
Setahun yang lalu, secara kebetulan, kita sering bertemu tanpa sengaja. Karena keterbatasan waktu, hanya sapaan yang terucap. Kau tampak anggun saat itu. Ketika kutanya, kapan waktunya? Kau bilang, mungkin tahun depan. “Ah, semoga segera terwujud.”
Beberapa bulan yang lalu, kau mengajakku untuk bertemu. Aku senang mendengarnya. Mudah-mudahan, tali silaturrahim yang sempat terputus dapat disambung kembali. Lagi-lagi, aku terlupa karena disibukkan dengan aktifitasku. “Ah, maafkan aku.”
Kau pun mengabariku bahwa dalam waktu dekat akan tinggal se-kota denganku. Betapa riangnya hatiku. Tapi, ternyata kabar itu membuatku bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena mungkin kita dapat bertemu kembali. Dan sedih karena aku takut kehilangan. “Ah, it’s complicated.”
Hingga, kau memberitahuku bahwa kau akan segera menggenapkan setengah din. Aku tersentak kaget sekaligus senang. Akhirnya niatmu segera terwujud. Tapi aku sungguh kehilangan. Ya, kehilangan dirimu yang shalehah. “Ah, ternyata kau bukan jodohku.”
Di hari yang istimewa bagimu, kehadiranku sangat kau harapkan, tapi aku tidak datang ke pernikahanmu. Bukan, bukan karena aku tidak merestuimu, tapi kondisiku yang tidak memungkinkan untuk hadir di dua kota pada saat yang sama. “Ah, do’aku menyertaimu, baarakallaahu laka wa baaraka 'alayka wa jama'a baynakuma fii khayrin.“
Dan, Ahad itu, tanpa disengaja, kita bertemu di sebuah persimpangan. Dari seberang, kau melambaikan tangan ke arahku. Refleks, aku pun membalasnya dan mendekatimu, walaupun harus menerobos ramainya laju kendaraan. “Ah, kulakukan apa pun untukmu.”
Saat itu, suamimu ada di sana, memegang kemudi motor. Baru kali ini aku bertemu dan bersilaturrahim dengan suamimu, walaupun namanya sering kudengar darimu. Raut wajahmu menampakkan kebahagiaan. Aku pun turut bahagia. “Ah, bahagiamu, bahagiaku.”
Buat sahabat sekaligus adikku, makasih atas kenang-kenangannya.
Semoga engkau bahagia selalu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.