|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Senin, 5 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, seperti biasa, banyak orang yang i'tikaf di masjid dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT untuk menggapai lailatul qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Begitu banyak keutamaan yang didapatkan jika kita bisa menggapainya.
Saya tidak akan membahas mengenai lailatul qadar, tapi fenomena yang terjadi di masyarakat dalam menyikapinya. Yakni, banyak yang berbondong-bondong i'tikaf di malam ganjil, karena memang ada keterangan shahih yang menyebutkan bahwa lailatul qadar itu terjadi di malam ganjil.
Jika malam itu merupakan malam ganjil, banyak sekali mereka yang i'tikaf, dan dapat dipastikan masjid dipenuhi oleh jama'ah. Namun jika malam itu merupakan malam genap, kondisinya berbanding terbalik, jama'ah hanya memenuhi setengahnya saja dari kapasitas masjid.
Rupanya, banyak yang masih belum memahami apa itu i'tikaf. Alangkah lebih baik jika kita, khususnya diri ini, untuk kembali memerdalam ilmu mengenai i'tikaf. Jangan sampai kita salah kaprah, i'tikaf tapi semau sendiri, tanpa memerhatikan kaidah-kaidah yang berlaku sesuai ketentuan.
I'tikaf memang lebih utama dilaksanakan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, tapi dilakukan secara terus menerus setiap hari, bukannya dilakukan dengan memilih-milih tanggal dan lebih mengutamakan tanggal ganjil. Mari luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar dalam menggapai lailatul qadar.
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.